Waspada Terjebak Menuhankan Pikiran

Mocopat Syafaat 17 Desember 2018

Setelah menegakkan kuda-kuda pikiran dan batin dengan beberapa hantaran keilmuan, patrap serta patok bahasan, Mbah Nun juga memperkenalkan sesiapa saja yang sedang berada di panggung malam Mocopat Syafaat Desember ini. Yakni selain ada Pak Toto dan Mas Helmi juga ada tiga orang yang aktif menulis di rubrik Menek Blimbing pada web caknun.com. Juga ada hadir Mbah Kamil, seorang tunanetra yang telah lama sekali mengikuti perjalanan Mbah Nun dan Maiyah, beliau memang tidak di panggung tapi berada pada barisan paling depan. Ada sedikit bercanda Mbah Nun, “Wes ngono wae Mil kan penak malah gak usah ngerti wedok ayu po ora sing penting empuk.” Di Maiyah candaan semacam ini sangat wajar.

Tak ada kesalahpahaman, tak ada rasa direndahkan juga. Justru dengan candaan semacam ini, tampak bahwa apa yang melekat pada diri Mbah Kamil tidak terlihat sebagai satu kekurangan sehingga bisa diomongkan dan dibercandakan dengan wajar.

Kalau kita perhatikan narasi-narasi yang beredar di medsos, aktivis-aktivis tampaknya suka sekali memagari agar jangan bercanda soal ini-itu, seolah yang penting adalah kata-katanya, bukan ekspresi, emosi, intonasi atau lambaran di dalam jiwa orang yang berbicara. Kalau sesuatu itu wajar, tidak dianggap sebagai sebuah kekurangan, dia pun dibicarakan dengan wajar, banyak dari kita sekarang ini perjuangannya berdasarkan rasa iba dan kasihan yang berlebih. Padahal dalam overdosis keibaan itu malah sebenarnya bisa saja terkandung rasa sombong.

Karena Anda hanya bisa iba kalau Anda merasa lebih, maka dalam Islam satu-satunya iba adalah pada kaum kafir atau “a’izzah ‘alal kaafirin” selebihnya kita hanya diperintah berbuat baik dan Allah sangat murah hati karena tidak terlalu banyak menghitung lambaran psikologis dan dapur kebatinan kita. Sebab, bila itu dihitung bisa malah runtuh semua kebaikan kita sebenarnya.

Soal “a’izzah ‘alal kaafirin” ini nantinya pada kelanjutan malam juga akan jadi bahasan saat sesi tanya jawab berlangsung. Setelah kemesraan dan kewajaran itu, Mbah Nun menyerahkan tampuk moderator pada Mas Helmi, namun dengan spontan Mbah Kamil memotong dengan berkata ingin membacakan sebuah puisi. Ternyata yang dimaksud Mbah Kamil sebagai puisi adalah beliau lantang membacakan kata-kata, nama kota, nama tempat kemudian diuraikan huruf-hurufnya seolah nama-nama dan kata itu adalah singkatan.

Andai puisi adalah teknis, cara dan resep merangkai kata, maka puisikah itu? Tapi bukankah puisi adalah serbuk halus yang menukik langsung ke dalam sanubari sehingga kita bisa menangkap momen puitis, dan putik-putik puitis itu mengembang pula ketika Mbah Nun memeluk Mbah Kamil penuh cinta. Betapa malam ini dimulakan dengan serbuan serbuk halus cinta, kemesraan, ilmu, hikmah, kebijaksanaan serta kejangkepan yang berpendaran. Menyebar menunggangi angin malam, terhirup ke dalam nafas para perindu di Majelis Mocopat Syafaat, masuk ke paru-paru, ikut ke dalam aliran darah, merasuk ke sel-sel tubuh, beredar ke seluruh organ, menjadi ingatan, menjadi kesadaran, mengendap ke alam bawah sadar, terserap ke DNA dan menanti lahir sebagai peradaban baru. Ini Maiyah, blueprint peradaban masa depan dunia. “Tapi ya itu ndak usah diomong-omongkin ke mana-mana juga, cukup Anda yakini sendiri saja,” sempat Mbah Nun ungkap seperti itu.

Kalau dituruti keinginan saya, tubuh dan mood yang sedang agak kurang enak ini rasanya inginnya membuat tulisan dan reportase yang romantis. Tapi saya harus batasi di situ, banyak persitiwa yang sayang kalau dilewatkan rekaman empiriknya dan sayang kalau tidak dituangkan ke dalam tulisan.

Membatasi diri adalah latihan abadi yang terus kita tingkatkan di Maiyah. Kenapa kita perlu latihan membatasi diri? Sebab orang Maiyah terlanjur masuk pada keluasan. Bila keluasan tidak dibatasi, kita cenderung lebur nanti. Kita masih perlu hidup teknis walau dengan sudut pandang berbeda, jangan keburu nafsu ingin melebur nasawuf melulu, pikiran saya sih begitu.

Buku Cak Nun