Untuk Mereka yang Mengupayakan Iman

Bahkan sasaran subjek perintah Shiyam itu adalah “amanu” bukan “al-mu`minun“. Bukan orang yang secara formal disebut atau memiliki identitas Kaum Beriman. Melainkan “amanu”, manusia yang sedang dalam proses memperjuangkan keimanannya kepada Allah swt, yang goal-nya adalah keamanan di keharibaan-Nya.

Artinya, pada manusia yang diperintahkan untuk Shiyam itu, keberadaan imannya belum baku, belum permanen, belum final, belum selesai, melainkan masih sedang berproses. Semua yang berproses artinya adalah mengalami pasang surut, naik turun, timbul tenggelam, bahkan mengada dan meniada.

Salah satu kemungkinan ilmu dan makna dari perintah Shiyam kepada para “amanu”, puasa itu “dipaksakan oleh Allah” sebagai semacam “wajib militer”–pelatihan total untuk belajar menempuh kehidupan yang produknya adalah keselamatan. Peradaban yang tidak berpuasa pasti akan tidak selamat.

Bahkan sasaran subjek perintah Shiyam itu adalah “amanu” bukan “al-mu`minun”. Bukan orang yang secara formal disebut atau memiliki identitas Kaum Beriman. Melainkan “amanu”, manusia yang sedang dalam proses memperjuangkan keimanannya kepada Allah swt, yang goal-nya adalah keamanan di keharibaan-Nya.