Sugih Kanca, Sugih Dulur

Dengan konsep garden party, Pakde Titut baru saja melangsungkan pesta keluarga dalam rangka ngunduh mantu pertamanya. Sesiapa di antara kita yang pernah hadir di Juguran Syafaat tentu mengenal Pakde Titut. Pakde Titut menjadi salah seorang yang ikut nguri-uri rutinan Maiyahan Juguran Syafaat.

Sedari dulu memang terkenal nyeleneh. Kalimat yang kerap dilontarkan oleh Pakde Titut adalah: “Jadi Seniman itu harus punya daya ganggu”. Pun, demikian dengan garden party di acara hajatan Pakde Titut, penuh dengan daya ganggu. Jangan dibayangkan seperti garden party ala-ala perkawinan artis yang dihelat di Pulau Dewata. Garden party ala-ala Pakde Titut ini adalah pesta kebun betulan. Memang betul-betul diadakah di kebun.

Di pekarangan samping rumah yang masih ditumbuhi pohon jati, mahoni, pohon pisang sampai pohon salak, pesta pun digelar. Saya seperti sebagian yang hadir lainnya terkesima oleh ornamen dan dekorasi yang tidak biasa. Labu, terong dan aneka hasil kebun yang ditanam sendiri oleh Pakde Titut digantung-gantung menjadi bagian dari dekorasi pelaminan. Tak ketinggalan lukisan, cowongan (boneka batok kelapa) hingga boneka hantu-hantuan yang sehari-hari menjadi perabot ruang tamu pun ditata menghiasi sekeliling venue acara.

Selain pemilihan lokasi dan properti untuk dekorasi, yang menjadi ‘daya ganggu’ lainnya adalah Wedding Organizer (WO) dan pengisi acaranya. Pakde Titut tidak menyewa WO, melainkan semua disengkuyung bersama oleh kawan dan kerabat sendiri. Pengisi acaranya pun dari kawan-kawan sendiri. Ada Lengger Banyumasan, grup orkestra penayagan ebeg, pelawak hingga pertunjukkan live lukis.

Semua itu mungkin adalah apa yang dimaksud oleh Bung Hatta: kekeluargaan dan gotong royong. Dua falsafah nilai Bangsa Indonesia yang kemudian menjadi pondasi dasar Koperasi. Di tengah hajatan demi hajatan telah menjadi pemandangan harian, saya termasuk orang yang terlupa untuk menelisik masih terpelihara atau sudah pudarkah nilai dan falsafah masihkah terjaga sebagaimana orang-orang terdahulu melaksanakannya.

Sewaktu kecil saya masih melihat bagaimana hajatan digelar di desa dengan agenda pertama adalah para tetangga njenang. Ritual membuat jenang yang menjadi snack utama sepanjang pesta nantinya sekaligus menandai bahwa hajatan telah dimulai. Tarub didirikan dengan sambatan secara gotong royong. Hiasannya tak neka-neko, kadang hanya blarak atau daun kelapa yang masih hijau yang dianyam dan digantung sebagai hiasan.

Kini zaman berubah, masyarakat agrikultur yang punya fleksibilitas waktu sehingga bisa ikut sambatan dan njenang kini telah bertransformasi menjadi masyarakat industri yang bercirikan budaya jam kerja yang ketat.

Bayangkan kalau njenang masih harus dipaksakan digotongroyongi tetangga, harus berapa orang tetangga yang dipaksa mengambil cuti kerja. Bisa-bisa jatah cuti yang 12 hari setahun bagi setiap orang itu habis untuk prosesi njenang-nya hajatan tetangga dan kerabat.

Bukan hanya njenang yang dihapus, durasi mbarang gawe pun diperpendek. Bukan lagi hitungam hari seperti zaman dulu, melainkan dimaksimalkan empat jam atau dua jam saja. Di tengah konsep yang sudah menadi lazim dilaksanakan di kota-kota saat ini itu, Pakde Titut membuat daya ganggu dengan membuat konsep hajatan kembali ke masa silam. Gotong royong, tidak diada-adakan, tetapi tetap menjadi kegembiraan bagi semua yang hadir.

Saya menyebut perhelatan besar keluarga Pakde Titut ini adalah jenis praktikum dari ejawantah atas nilai-nilai berpikir berdaulat yang menjadi salah satu prinsip yang kerap digali di Maiyahan.

Betapa banyak warisan nenek moyang yang orang masa kini kewalahan melestarikannya, melainkan dengan melaksanakannya sebatas sebagai kewajiban, ritual terlebih dilaksanakan untuk atas nama gengsi dan prestise semata. Bab hajatan saja misalnya, ada begitu banyak serba-serbi dari pelaksanaan hajatan hari ini. Di desa-desa ada mikrobank yang jasa financing hajatan menjadi salah satu fitur layanannya.

Ada pula fenomena di beberapa tempat dan gedung mantenan di mana Wedding Organizer salah satu tugasnya adalah mencatat nominal kondangan orang-orang. Pestanya terselenggara, tetapi nilai-nilainya pudar entah ke mana, bukan?

Hajatan adalah pesta keluarga yang merupakan tradisi warisan masa lalu. Yang mesti disadari adalah perubahan sosiologis di masyarakat menuntut harus ada penyesuaian-penyesuaian. Agar bagaimana penyesuaian dilakukan tanpa memudarkan nilai-nilainya: kekeluargaan dan gotong royong, misalnya. Di sinilah kreativitas diperlukan.

Kreativitas bukan hanya keinginan untuk membuat sesuatu yang nyeleneh, tetapi kreativitas adalah alat untuk menjawab sebuah permasalahan. Pada studi kasus hajatan Pakde Titut, saya melihat benefit pesta keluarga tetap di dapat, tanpa harus memaksakan menggunakan sumber daya yang Pakde Titut tidak punyai.

Sumber daya yang dimanfaatkan dihitung cermat, betul-betul dari yang Pakde Titut punyai, yakni dari bagaimana Pakde Titut memiliki banyak teman dan saudara. Maka, tidak ada sesuatupun yang harus diada-adakan dengan memaksakan diri.

Pakde Titut memanfaatkan social capital yang ia miliki, “sugih kanca, sugih dulur”. Itulah kekayaan yang lebih hakiki, yang harus terus-menerus dirawat.

Dengan konsep garden party, Pakde Titut baru saja melangsungkan pesta keluarga dalam rangka ngunduh mantu pertamanya. Sesiapa di antara kita yang pernah hadir di Juguran Syafaat tentu mengenal Pakde Titut. Pakde Titut menjadi salah seorang yang ikut nguri-uri rutinan Maiyahan Juguran Syafaat. Sedari…