Sinau Elmu Tuo

Liputan Sinau Bareng di Desa Wijirejo, Pandak, Bantul, 16 Oktober 2018

Mungkin tidak benar-benar ada hubungannya, di Bantul ini beberapa waktu lalu ada kejadian di mana upacara ritual adat dituding bisa mendatangkan bencana. Kita sedang hidup pada era di mana manusia senang menghubung-hubungkan sesuatu yang belum benar-benar dia telaah hubungan sebab-akibatnya. Di sana ada yang menghubungkan ritual adat dengan bencana, di sebelah mana ada yang menghubungkan kerusakan budaya dengan Wahabi.

Padahal sikap tergesa-gesa menghubungkan variabel yang belum tentu berhubungan itu dulu yang ditegur oleh Rasulullah Saw ketika putra beliau meninggal dan para sahabat menghubungkannya dengan gerimis yang turun. Seolah Rasulullah masih bersama kita dan menasihati untuk sabar dalam menelaah persoalan, jangan gegabah menyimpulkan apa-apa sebelum segala sesuatu disinauni.

Mungkin memang tidak langsung berhubungan dengan itu semua, atau apakah ada hubungannya? Atau jangan-jangan, bukan itu pertanyaan yang tepat untuk kita ajukan, yang pasti Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng digelar malam ini tanggal 16 Oktober 2018 M di Desa Wijirejo, Pandak, Bantul.

Lapangan Gesikan di desa Wijirejo ini penuh tumpah ruah manusia dari berbagai dimensi, usia dan golongan. Sementara dari panggung, kemesraan dan tawa memancar-mancar. Sinau Bareng ditekankan oleh Mbah Nun, bukanlah tempat di mana orang menunggu makna, bukan jadi penanti arti atau penuntut ilmu yang menuntut-nuntut tanpa juntrungan. Sinau Bareng adalah di mana manusia mendayagunakan akal pikiran, hati, rasa, batin dan segala sumber daya yang dimilikinya untuk memaknai. Sinau Bareng bukan tradisi pemanjaan kuping dengan dalih ngalap barokah, berkah Anda upayakan dengan mekanisme masing-masing.

Mbah Nun memulakan dengan kisah yang berkaitan dengan sejarah desa. Ini kemudian adalah ajakan dari Mbah Nun untuk “sinau elmu tuo” yang maksudnya adalah agar kita lebih dewasa dari sekadar usia kronologis dan biologis kita. Desa Wijirejo memang sedang berulang tahun juga malam ini.

Saya mencari angkringan untuk ngopi barang sejenak. Penjaja makanan dan minuman di wilayah ini sepertinya punya seragam khusus, kaos biru dengan sablon bergambar Semar di punggung, begitu juga suami-istri yang pemilik angkringan ini. Obrolan-obrolan mengalir, suami ibu ini pendiam tapi istrinya sangat kaya bahan obrolan. Ada keseriusan sendiri yang saya tangkap kalau mengamati, bagaimana sepasang ini memantaskan diri demi berjualan malam hari ini. Terutama sang istri, jelas menyapukan pensil alis, berbedak dan pemerah bibir. Bukan elok betul untuk dipandang, tapi rasanya sebagai konsumen saya merasa dihargai dengan keseriusan tampilan semacam itu.

Dari panggung, Mbah Nun terdengar menyerukan bahwa kita perlu serius dalam segala sesuatu yang kita jalani, “Jadi expert, sehingga Anda tidak mencari rezeki tapi rezeki yang mencari Anda. Kalau Anda expert, orang percaya pada Anda dan rezeki menghampiri”

Sedang di luar dimensi Sinau Bareng, orang-orang perlu meyakinkan orang lain bahwa dia bisa dipercaya sebagai capres, sebagai cawapres dan sebagainya. Merasa perlu bermenor-menor berbusa-busa di hadapan IMF dan Bank Dunia untuk menegaskan keistimewaan dirinya karena aslinya dia tidak begitu percaya bahwa dirinya istimewa dan otentik.

Jadilah dirimu sendiri yang otentik, bangga sebagai bagian dari desa, jangan perlu berangan-angan menjadi orang lain. Sinau elmu tuo, belajar ilmu tua supaya saat tua nanti menep tak merasa perlu nyawapres untuk berbuat apa-apa. Begitu dan carilah terus yang sejati.

Lainnya