Sinau Bareng Kompleksitas Persoalan Hidup

Reportase Sinau Bareng CNKK di Desa Sundoluhur, Kayen, Pati, 3 Juli 2018

Tiga rombongan mobil berjalan beiringan dari rumah Habib Anis Sholeh Baasyin menuju desa Sundoluhur, tempat berlangsungnya acara Halal Bil Halal dan Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng. Di rombongan mobil pertama ada saya dan panitia. Rombongan mobil kedua ada Mbah Nun dan penggiat Gambang Syafaat. Dan rombongan mobil ketiga ada Kiai Muzammil dan Habib Anis. Berada di mobil pertama dan duduk bersama panitia merupakan keberuntungan. Sepanjang perjalanan yang memakan waktu kurang lebih tiga puluh menit itu cukup buat ngobrol bersama mereka.

Saya duduk di kursi belakang diapit dua orang yang duduk di sisi kiri dan kanan. Di depan ada sopir dan seorang yang sedari perjalanan sibuk dengan ponselnya mengabarkan setiap desa yang dilalui kepada panitia yang siaga di TKP. Kepada orang yang duduk di samping kiri, saya bertanya mengapa memilih Cak Nun.

”Mergo seneng Mas!” jawabnya tegas.

”Kenapa bisa senang Cak Nun,” tanya saya lagi.

”Nggak ngerti Mas. Pokoke seneng. Sering juga lihat ceramah Cak Nun di YouTube.”

”Kita sudah lama ingin mendatangkan beliau ke desa Mas,” tambah orang di kanan saya.

Dan orang di depan yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya juga urun cerita. ”Kami sudah berusaha keras untuk mendatangkan Cak Nun. Sampai-sampai perjalanannya ke Kadipiro yang ketiga kena musibah kecelakaan.”

Lalu, mereka bertiga bergantian menceritakan detail kejadian bagaimana mereka kecelakaan. Dalam rentang waktu enam bulan mereka sudah tiga kali sowan ke Kadipiro. Pada perjalanan yang terakhir sebuah motor menabrak mobil yang mereka tumpangi. Kejadian itu sampai membuat Mbah Nun menunggu dua jam kedatangan mereka. Mereka kira Mbah Nun bakal pergi ke tempat lain karena keterlambatan yang parah. Namun, ketika sampai di Kadipiro Mbah Nun ternyata mau menunggu. Hal yang tidak mereka sangka. Mereka pun akhirnya bisa bertemu Mbah Nun.

Mereka tidak mau mengundang Mbah Nun sebagaimana mereka mengundang grup musik. Hanya lewat manajer, lalu selesai perkara. Mereka ingin sowan mengabarkan kondisi masyarakat, silaturahim, dan ngalap berkah. Kedatangan Mbah Nun ke desa mereka diharapkan warga desa juga ketiban berkah. Maka mereka semua kompak jauh-jauh hari menyiapkan kedatangan Mbah Nun.

Dan, cerita mereka ternyata tidak sekadar abab. Antusias warga desa menyambut rombongan Mbah Nun sudah terlihat dari gang menuju panggung acara. Di pinggir-pinggir jalan tertancap obor. Persis di belokan menuju tempat acara terdapat tulisan besar berbunyi: ”I Love Sundoluhur”.

Rangkaian acara ini diinisasi pemuda desa, baik yang pergi merantau maupun yang menetap di desa. Gambaran kerumunan ribuan orang sudah terlihat setelah rombongan mobil hampir tiba di rumah transit. Mobil pun berjalan sepelan bekicot. Panitia pengatur jalan berkali-kali meniupkan peluit sembari berteriak, ”minggir… minggir… rombongan Cak Nun teko!” Orang-orang yang berjalan di pinggir mobil langsung menajamkan pandangannya seperti memburu di mobil mana Mbah Nun berada.

Setiba di rumah transit. Banser sudah bersiaga melakukan pengawalan terhadap Mbah Nun. Panitia juga sudah berembuk. Beberapa penggiat Maiyah dari simpul-simpul kota di Jawa Tengah turut membantu memudahkan ”beban” Banser dan panitia. Menjelang pukul sembilan. Mbah Nun, Kiai Muzammil, dan Habib Anis menuju panggung. Banser, panitia, dan penggiat Maiyah bersusah payah memberikan pengawalan. Ribuan orang yang sudah duduk lesehan pun secara pelan-pelan berdiri memberikan jalan kepada Mbah Nun yang hendak ke panggung.

Dari atas panggung, Pak Lurah Sundoluhur, Pak Camat Kayen, Kapolsek Kayen, dan Danrem Kayen tampak langsung berdiri ketika Mbah Nun hampir sampai tiba di panggung. Beliau-beliau menyambut Mbah Nun dan menyalaminya. Pekik sholawat berkali-kali terdengar ketika Mbah Nun sudah duduk di atas panggung. Menyadari perjalanan yang susah dari ruang transit ke panggung, Mbah Nun berkata, ”Jangan salah niat. Ini bukan karena siapa-siapa. Ini karena anak muda sekarang senang dengan keabadian.” Pernyataan ini merujuk pada acara yang diselenggarakan anak muda dan dihadiri banyak anak muda. ”Jadi jangan Anda kira aku ini Slank yang kudu dikawal dan dilihat banyak orang. Ini karena kalian semua cinta sama Allah.”