Sinau Bareng Kompleksitas Persoalan Hidup

Reportase Sinau Bareng CNKK di Desa Sundoluhur, Kayen, Pati, 3 Juli 2018

Semua pertanyaan dijawab berurutan. Semua tercatat dan dijawab. Pada pertanyaan pertama soal Islam Rahmatan Lil’Alamin, Islam Arab, Islam Nusantara, Mbah Nun meminta Kiai Muzammil menjelaskan itu. Kata Kiai Muzammil, ”Rahmatan Lil’Alamin itu bukan kelompok. Itu sikap kita pada Allah. Kalau ada orang yang berkata ”kita ini Rahmatan Lil’Alamin” berarti orang itu tidak Rahmatan Lil’Alamin. Karena Rahmatan Lil tidak bisa dibuat nama suatu kelompok. Itu adalah sikap ketulusan kita kepada Allah.”

”Dan masalahnya orang yang mengaku Rahmatan Lil’Alamin memandang orang di luar dirinya tidak Rahmatan Lil’Alamin,” tambah Mbah Nun.

Menurut Mbah Nun, “Islam ya Islam. Adanya Islam Arab atau Islam Nusantara itu hanya mode saja. Ibarat rambut. Model rambut itu bermacam-macam tetapi tetap rambutnya tidak bisa diubah. Yang dibuah hanya modenya saja.” Kita jangan sampai terpecah dengan polarisasi itu. Islam ya Islam. Jangan sampai karena mengikuti polarisasi tertentu kita menjadi bermusuhan satu sama lain. Islam tetap Islam. Modenya saja yang bermacam-macam.

Berlanjut ke pertanyaan kedua. Giliran Habib Anis yang menjawab. Beliau menjabarkan bahwa setiap agama ada nilai budayanya. Selama ini kita diajak berpikir kalau budaya tidak ada nilai agamanya, begitu pula sebaliknya. Padahal budaya-budaya kita itu erat sekali dengan agama. ”Kamu pikir baca Al-Qur`an tidak ada budayanya? Ada.” Pertanyaan ini sering ditanyakan di forum Maiyah atau ketika Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng.

Pemikiran Mbah Nun jelas, beliau tidak mau terjebak pada pemisahan budaya dari agama. Beliau sudah sering mengatakan bahwa budaya dan agama itu saling terikat. Kalau ditarik lebih luas lagi, pemahaman budaya bukan agama ujung-ujungnya akan menghantam beberapa budaya Jawa yang dianggap tidak memiliki nilai Islam. Padahal kalau lebih sabar sedikit dan mau sinau, kita tahu bagaimana leluhur Walisongo sudah mengatur sedemikian rupa nilai dan filosofi agama yang padu dengan budaya.

Mbah Nun menambahkan, kita jangan terlalu gampang terbagi dalam jenis-jenis atau kelompok-kelompok. Gunakan akal kalau beragama, jangan sering menelan mentah-mentah. Kita tidak perlu memperdebatkan kebenaran karena hanya Allah yang tahu kebenaran. Kebenaran itu bahan mentah yang harus diolah menjadi kebaikan. Dan, kebaikan itu harus menyajikan keindahan. Mbah Nun berpesan agar menggunakan rumus ”kebenaran, kebaikan, dan keindahan.” Rumus itu sepeti ajakan kalau benar harus menjadi baik dan kebaikan itu mesti menyuguhkan keindahan.

Di akhir acara Mbah Nun meminta Kiai Muzammil menerangkan tentang majelis ilmu. Menurut Kiai Muzammil, berdasarkan suatu riwayat, berpikir sesaat itu sama saja dengan ibadah satu tahun. ”Berarti kita dari tadi sudah ada beribu-ribu saat yang kita lalui. Jadi kita tidak usah beribadah bertahun-tahun ya?” tanya Mbah Nun kepada jamaah yang langsung disambut tawa. ”Pengertiannya ya tidak selugu itu. Iku jenenge pekok.”

Semua pertanyaan yang bisa dijawab langsung dijawab. Sedangkan yang tidak bisa, dilanjutkan di lain kesempatan. Kepada jamaah yang mendapat gangguan dari jin, Mbah Nun menyuruhnya, “Tolong nanti ke belakang cari yang namanya Mas Yudhis atau Mas Alay. Nanti saya pandu dari WA. Soalnya harus ada beberapa wirid yang Anda baca. Tidak bisa langsung dikatakan di depan umum.” Mbah Nun pun tidak keberatan pulang dengan satu pertanyaan yang belum dijawab. Beliau tetap menampung dan meladeni semuanya. Menjelang pukul dua acara diakhiri dengan doa bersama dan salaman.

”Ya Allah, aku dan mereka berkumpul di sini karena cinta kepada-Mu. Terima kasih atas sinar bulan-Mu malam Ini.”

Dari atas langit Sundoluhur, bulan menerangi antrian mengular jamaah bersalaman.

Lainnya