Salam Gugur Gunung dari Dukun

Liputan Sinau Bareng Kolaborasi Konservasi Ngramut Merapi, 4 Oktober 2018

Antusiasme warga dan penyelenggara kali ini terlihat manakala kita berjalan dari tempat parkir ke tanah lapang di mana Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng digelar malam ini. Jalanan yang aslinya tidak berpenerangan, diterangi dengan obor-obor kecil di sepanjang jalan.

Kiri-kanan adalah sawah, dan cahaya obor yang seadanya membuat bintang-bintang di langit menampakkan diri dengan gamblang, menghampar-hampar. Kalau obor ini adalah hasil tangan seniman-seniman kota, tentu itu maksudnya adalah pesan dan jualan eksotisme tapi ini bukan. Ini adalah sambutan sederhana yang megah dari sebuah desa, Desa Dukun yang berada di punggung Merapi.

Semarak benderang dan hiruk-pikuk baru terasa ketika kita mulai mendekat ke tanah lapang. Ibu-ibu setempat berbaris, “Sennek (snack) purun Mas?” Oh ya jelas, setelah melalui jalanan yang cukup seram-seram sepi beberapa kilo, lemper dan kue bolu cukup melegakan. Warga dari desa-desa tetangga tampaknya juga berdatangan, sapaan-sapaan hangat, tanya-tanya kabar, terdengar di sana-sini. Seperti kunjungan dari kerajaan-kerajaan tetangga.  Jajanan ragam-ragam dijual di sepanjang jalan.

Di panggung seorang penyelenggara membawakan hantaran-hantaran sambutan. Dua layar besar di sisi panggung memberi tontonan edukasi soal Merapi. Dari sisi sejarah hingga kondisi paling faktual. Dari Ki Juru Taman (saya coba ingat-ingat, ini apa maksudnya Ki Juru Mertani ya? Soalnya Juru Taman masih agak misterius dan beberapa versi justru agak gelap sosok ini) hingga ada apresiasi status hutan Merapi oleh kolonial Hindia-Belanda tahun 1912. Saya cukup senang pemateri sejarah dalam video ini sudah bisa lepas dari versi “Belanda harus jahat” semacam pengantagonisan demi kepentingan penyeragaman sejarah nasional. Ini versi yang cukup menjaga netralitas.

Mas yang di panggung mengajak hadirin yang sudah hadir untuk menyanyikan Indonesia Raya. Kemudian dilanjut lagu semacam Seruan Rimba Raya atau semacam itu, saya agak lupa. Dan tampaknya Mas itu juga menyadari bahwa lagu yang itu sangat segmented. Terlepas dari judul lagunya yang berkesan sangar, lagu yang muncul malah bernada ceria sangat mengingatkan pada era kabaret-kabaret ala Pesta Ceria zaman Indosiar dulu. Saya menikmati juga lagu ceria berjudul sangar itu, cuma agak kepanjangan dengan nada yang terus diulang. Tapi semuanya di lokasi ini menyenangkan.

Pukul 20.00 lewat sedikit Mbah Nun telah di panggung memberi salam membuka, “Assalamualaikum untuk sedulur-sedulurku.” Mbah Nun melanjutkan, sebagai tema pembuka, bahwa dulu itu Allah menawarkan amanat pada gunung-gunung, pada bumi, pada alam dan lain sebagainya semuanya menolak karena takut tidak mampu mengemban amanat. Akhirnya manusia yang bersedia. Dan Allah mengatakan betapa dhalim dan bodohnya manusia. “Jadi kalau lihat semua kebodohan-kebodohan di Jakarta yo wes ngono kuwi pekok`e manungso.”

Hadirin yang tanpa terasa sudah memenuhi lahan lapang ini tertawa lepas. Memang segala fenomena di Jakarta, segala rebutan ilusi kekuasaan, rebutan merasa berpengaruh dan lemparan santet fitnah hoaks seliweran itu cukup kita jadikan bahan tertawaan saja. Mereka yang berebutan mungkin merasa dirinya akan terhormat. Tapi pada manusia-manusia yang mandiri ini, yang tidak terpengaruh apapun atas keributan sana itu semuanya hanya layak diketawain.

Salam Dari Desa ciptaan almarhum Leo Kristi dibawakan, dilanjutkan dengan Gugur Gunung karya Ki Narto Sabdo oleh KiaiKanjeng. Di Dusun Dukun ini, dinaungi langit dan Merapi tawa, kemesraan dan benih-benih keilmuan siap tersemai. Merapi tak pernah ingkar janji, karena mungkin memang tidak janji apa-apa juga. Beda dengan yang di Jakarta sedang saling umbar janji.

Ah NKRI sudahlah, peradaban desa ini indah menyenangkan tanpa perlu pusing dengan ada tidak adanya negara.

Buku Cak Nun