Pertanian Pendidikan

Harian Surya, Rabu 3 Juli 1991

Kalau Pak Guru Mataki mengatakan bahwa ia melakukan hal-hal yang istimewa, itu sama sekali bukan sebuah kerendahhatian. Bukan. Mataki bukan tipe kesatria genit yang suka berendah hati dalam rangka memberi mahkota di kepala keangkuhannya.

Mataki mengatakan itu sebagai pernyataan tentang realitas apa adanya. Ia mengerti sepenuhnya bahwa ia kecil, tak berarti apa-apa bagi dunia yang amat besar dengan problem-problemnya yang teramat besar.

Barangkali memang ada sejumlah “kelainan” yang ia lakukan di desanya, tetapi itu tak lebih besar dari satu zarrah di tengah padang pasir permasalahan kehidupan yang maha luas ini. Mataki sadar bahwa sesungguhnya ia orang kecil dengan kemampuan kecil dan dilakukan hanya dalam skala kecil pula.

Ada seribu gunung penyakit umat manusia, bangsa, negara, dan sistem-sistem yang diberlakukan oleh mereka sendiri serta—ternyata—memenjarakan mereka sendiri. Termasuk dalam dunia pendidikan yang, di negeri ini, sedang mengidap penyakit kanker ganas yang entah bagaimana akan menyembuhkannya.

“Apakah para mahasiswa itu menyangka saya cukup tolol dengan merasa diri mampu berbuat sesuatu untuk itu?” gumamnya.

Cobalah catat, inventarisasikan, dan deretkan penyakit-penyakit dunia pendidikan kita.

“Saya ingin menyebut satu contoh saja,” ia melanjutkan, dalam suatu kesempatan ngobrol menjelang Sarasehan Minggu, “dunia pendidikan kita ini seperti lahan-lahan pertanian. Tak tahu tradisional atau modern, tetapi pokoknya lahan-lahan itu diindustrialisasikan oleh petani-petani pendidikan.”

“Petani-petani pendidikan?” bertanya seorang mahasiswa.

“Ya. Petani-petani pendidikan adalah bapak-bapak dan ibu-ibu dalam dunia pendidikan yang memiliki aset kekuasaan dan alat produksi…”

“Wah, kok, kedengarannya seperti perdebatan antara kapitalisme dan sosialisme!” seseorang yang lain memotong. “Saya tidak pernah mendengar perdebatan yang kau katakan itu. Yang saya maksudkan sangat sederhana. Misalnya, saya adalah seorang guru. Murid-murid, para wali mereka dan masyarakat, termasuk pihak-pihak lain yang berkaitan dengan itu, adalah sawah ladang saya. Saya menanam kekuasaan kemudian mengetam uang. Mungkin sekadar membuka kursus/privat di rumah. Atau, para wali murid bisa bertemu ke rumah saya membawa sejumlah uang atau apa saja yang kira-kira saya perlukan: pemberian itu bisa saya tukar dengan penambahan nilai mata pelajaran saya di rapor anak tamu itu.”

“Lho!”

“Memang ‘lho’. ‘Lho’ banget. Itu sudah ada keteladanan resminya. Para wali murid boleh mempertandingkan upetinya agar anaknya bisa diterima di sekolah. Industri pertanian pendidikan bukan terutama menyangkut masalah kualifikasi dan maksimalisasi upaya kecerdasan anak-anak bangsa. Sekolah adalah toko ilmu. Persoalannya bukan seberapa minat dan kesadaran belajar anak Anda, tetapi siapa yang punya modal untuk berhadapan dengan kasir.”

“Ah, Pak Mataki mendramatisasi. Kan wajar kalau ilmu memang harus dibayar mahal, karena ilmu memang mahal harganya!”

“Terserahlah penilaianmu. Kalian para mahasiswa pasti lebih pandai dari saya. Namun, saya juga bisa menjadi — katakanlah — Penilik atau Pemeriksa Sekolah. Betapa pentingnya jabatan itu. Artinya, betapa besarnya kekuasaan atas sekolah-sekolah yang menjadi kaveling saya…”

“Kaveling bagaimana?”

“Dalam birokrasi pendidikan, kami sudah punya pembagian wilayah seperti kaum mafioso menjatah daerah per-centeng-annya. Sekolah-sekolah yang menjadi kaveling saya bisa kukasih warna hitam atau putih sekehendak saya. Terserah kepala sekolah dan pengurusnya apakah punya iktikad baik atau tidak terhadap nama baik sekolahnya. Untuk itu tinggal membeli warna kepada saya. Makin tinggi harga belinya, makin putih cemerlang warna yang diperolehnya.”

“Ah! Apa ya sampai separah itu!” para mahasiswa itu memprotes keras.

“Parah atau tidak itu tergantung standar penilaian yang kalian gunakan. Itu terserah saja. Namun, yang jelas saya bisa menggiring kepada apa yang saya kehendaki. Misalnya suatu hari saya butuh uang untuk membeli motor buat anak saya yang keempat. Saya tinggal mendatangi sekolah-sekolah kaveling saya satu per satu. Sudah saya ciptakan iklim sejak awal bahwa kalau batang hidung saya nongol, minimal harus mereka sediakan uang lima puluh ribu rupiah untuk sekolah di desa, dan dua atau tiga kali lipatnya untuk sekolah di kota. Pokoknya, tergantung tingkat omset sekolah masing-masing. Pada keperluan-keperluan khusus saya bisa dengan gampang meminta uang sekian kali lipat dari biasanya.”

“Gila! Gila!”

“Tidak. Tidak Gila. Justru itu normal. Itu yang biasa berlaku. Bahkan, saya bisa saja ajak Kepala Sekolah atau siapa saja yang diberinya mandat untuk menyertai saya jalan-jalan ke kota. Mungkin tiba-tiba tampak oleh mata saya ada toko mebel. Kami berhenti dan saya menuding salah satu jenis meja-kursi. Itu cukup. Bahasa kami sangat gamblang dan Kepala Sekolah selalu memiliki kepekaan tinggi. Artinya, meja-kursi itu nanti sore sudah akan nongkrong di rumah saya…”

“Gendeng!”

“Atau, saya menjumpai toko bunga anggrek, toko elektronika, atau apa pun. Saya tinggal mengangkat tangan. Atau, mungkin tak perlu capek-capek mengangkat tangan. Cukup menggerakkan jari telunjuk saja. Saya ini petani. Saya menanam, saya mengetam…”[]

**Tulisan ini juga telah diterbitkan dalam buku “Gelandangan di Kampung Sendiri” (1995)