Pantokrator di Tepian Dermaga, Pelabuhan Hati Semua Golongan

Reportase Sinau Bareng "Pelabuhan sebagai Sentra Peradaban", Samarinda, 28 Oktober 2018

Sungai Mahakam berdersir lembut, Pelabuhan Samarinda ini menegaskan diri di hadapan dunia bahwa bukan hanya pelabuhan dan dermaganya, tapi manusia-manusia ini adalah manusia generasi “al-mutahabbina fillah”. Mereka yang berkinasih atas landasan cinta kepada Allah, lepas dari sekat golongan apapun. Sebab di dalam kemanunggalan-Nya kita hidup bersama. Apa yang ribut-ribut di sana, biarlah menjadi urusan mereka saja yang merasa perlu terlibat, kita tegakkan tauhid dalam diri dan merdeka dari itu semua.

Pantokrator masih tegak di sana menyaksikan hingga indal qiyam menutup sajian kemesraan. Pantokrator, Sang Penguasa Alam Semesta selalu menyaksikan dengan kasih sayangnya dan iba-iba lucu ketika manusia terjebak pada (beberapa abad kemudian, di era renaissance) tejadi apotheosis, yakni seni pemelekatan sosok manusia pada sifat-sifat keilahian. Dalam tradisi Judeo-christian, ini jadi pen-santoan, pengangkatan sosok-sosok martir. Dan tak lama, keminderan ummat Muslim membuat mereka pada era yang sama mengadospinya menjadi dramatisasi spiritualitas, pengangkatan kewalian yang sedikit berlebihan, pengkultusan dan sekarang kita menuai hasil dari tabungan persoalan itu.

Mbah Nun pada malam ini sempat menegaskan bahwa kita perlu peka pada kehadiran Allah dalam hidup kita. Semoga saya tidak berlebih-lebihan makna, semoga saya terhindar, terselamatkan dari mendramatisasi nuansa atau lebay-lebay spiritual. Saya inginnya tetap rasional saja. Tapi saya tidak bisa berhenti bertanya adakah maksud Allah menaruh KM Pantokrator di sisi dermaga malam itu? Rasanya seolah diawasi beneran oleh Sang Maha Kuasa yang Sejati dan rasanya sangat dekat, bergetar sayup dan mesra.

Populer