On/Off Terhubung dengan Gelombang Maiyah

Menurut saya kesesuaian seseorang dengan gelombang Maiyah bukan hanya diukur dari volume kedatangannya bermaiyah saja, tetapi juga ejawantah nilai Maiyah dalam kehidupan sehari-hari. Yang tidak lain itu semua sebagai bagian dari meneladani kekasih-Nya dalam rangka melaksanakan kehendak-Nya.

Saya beberapa kali mengalami situasi di mana saya merasa terhubung dengan gelombang Maiyah dan tidak terhubung dengan gelombang Maiyah. Ini jelas tidak ilmiah, tidak bisa dibuktikan secara kasat mata, juga tidak bisa dibuktikan dengan penelitian ilmiah metode apa pun. Ini hanya persangkaan saya saja atas diri saya, keadaan hati saya. Namun, saya percaya bahwa kelihatannya memang seperti itulah yang terjadi.

Ketika saya merasa bahwa saya terhubung dengan gelombang Maiyah, ada sebuah semangat yang berbeda yang membuat saya merasa mudah melakukan sesuatu yang menurut saya bermanfaat. Di hati terasa menikmati itu semua. Lelah bukan halangan. Sesuatu yang berdatangan kepada saya dan harus saya lewati, saya lewati.

Ketika saya merasa tidak sedang terhubung dengan gelombang Maiyah rasanya benar-benar berbeda. Saya tetap berangkat Maiyah, membaca tulisan Mbah Nun, melihat video dokumentasi Maiyahan di channel YouTube caknun.com. Tetapi ada sesuatu yang aneh. Usaha untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat kepada sesama yang merupakan output dari berangkat Maiyah, membaca tulisan dan melihat video tersebut terasa tidak seperti  biasanya. Saya teliti, apa yang terjadi pada diri saya. Saya ketahui, bahwa ternyata ada perilaku saya yang agaknya kurang sesuai dengan yang seharusnya.

Keadaan untuk terhubung lagi dengan gelombang Maiyah tidak bisa dipaksa begitu saja. Seakan-akan Dia memang sedang memberikan hukuman kepada saya supaya saya tidak terhubung dengan gelombang Maiyah.

Dan masalah tidak bisa dipaksakannya keterhubungan gelombang Maiyah dengan siapa saja saya yakini jauh sebelum terjadi dinamika keterhubungan gelombang Maiyah di dalam diri saya. Dulu, saya sudah mengenal Maiyah jauh sebelum saya berangkat Maiyahan. Beberapa tahun setelah mengenal Maiyah saya baru berangkat Maiyahan. Beberapa orang yang saya coba ajak untuk datang Maiyahan tidak mau. Tetapi, anehnya beberapa tahun setelah lama tidak bertemu saya bertemu orang tersebut di acara Maiyahan.

Dalam berbagai uraian tersebut agaknya bisa diambil sebuah kesimpulan bahwa maiyah bagi saya bisa menjadi indikator bagi tegaknya akal. Tegaknya akal bukan hanya sebatas pandai menganalisis dengan metode canggih-canggih berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan, tetapi juga terejawantah dalam keterarahan perilaku kita yang sesuai kehendak-Nya.

Itu tidak pernah saya pelajari di manapun kecuali di Maiyahan. Secanggih-canggihnya metode di dunia pendidikan kita, selama saya sekolah tidak pernah mengalami pengalaman-pengalaman (spiritual) semacam itu. Yang paling saya ingat semasa sekolah saya hanya urusan bisa menjawab soal pelajaran ini, soal pelajaran itu atau tidak serta hapal isi bab ini, atau isi bab itu atau tidak. Saya bersyukut Dia menganugerahkan Maiyah di negeri ini.

Wallahua’lam.

Buku Cak Nun