Nilai Tawar

Tol Solo-Kertosono yang belum jadi memang layak untuk dicoba sebagai jalur bersepeda pagi hari. Selain sepi juga menawarkan keasrian khas pedesaan, selebihnya adalah masih minimnya polusi kendaraan bermotor. Matahari mulai menyapa, keluar dari Tol mampir sejenak di warung di pinggir kampung, membeli air mineral sambil mendengarkan obrolan orang desa soal Tol.

Bapak 1:Suk nik tol iki dadi ngko bakal reja kene.

Kebetulan warung yang saya beli memang dekat rencana pintu keluar Tol.

Bapak 2: Iyo kang, mugo warungku tambah laris.

Bapak 1: Yo mestine kang, sing lewat wong saka adoh, biasane sangune rodo akeh, daganganmu isa kok dol rodo larang.”

Bapak 2: “Yo tak undhakne nanging ora dhuwur-dhuwur ben wong ndesa kene tetep tuku gonanku.

Bapak 1: “Yo ra popo kang, rada larang, wong kono liwat dalan sing mbayar kuat, mosok tuku cemilan ora kuat.

Dst…

Sambil duduk-duduk mengurai keringat, lalu terbersit soal nilai tawar. Bagaimana sesuatu dinilai dan dihargai lewat fungsi dan peran yang dihasilkan oleh sesuatu tersebut.

Kenapa orang mau membayar beberapa keping rupiah/e-money demi beberapa puluh kilometer di jalan Tol?

Berapa jumlah manusia yang tahu bahwa singkatan Tol adalah ‘tax on location‘ atau pajak ketika sudah sampai tujuan tertentu? Saya kira tidak semuanya tahu, yang menjadikan mereka mau untuk membayar dan tidak menggunakan jalan umum yang gratis, lebih karena akses yang cepat dan mudah, tidak macet, dst.

Atau kenapa saya mau membayar air mineral di warung tadi? Padahal jika mau minta pada sang pemilik warung pasti ada air mineral gratis di rumahnya.

Tentu bisa dijawab karena kita termakan iklan bahwa air mineral botol itu lebih steril, selain juga menambah pendapatan warung tadi.

Merogoh kocek lebih untuk fungsi tertentu inilah yang saya maksud nilai tawar. Lalu sebagai manusia berapa nilai tawar dihadapan sesama atau Tuhan?

Dunia yang sekarang kita tinggali baru sampai pada pencapaian fisik, maka segalanya akan diukur berdasarkan fungsi material kita di dunia. Dan memang akhirnya ukuran manusianya diambil dari spesialisasi material yang dapat ia kerjakan.

Mampu membangun gedung, memelihara burung, merakit TV atau membuat roti. Lalu kesuksesan di dunia sekarang hanyalah pada hasil yang dapat dilihat oleh mata. Sisanya kalau pun mendapat tempat juga berdasarkan standar material, Ijazah atau lulusan Universitas mana, misalnya. Dari ukuran itu kita baru bisa dimasukkan dalam kategori seseorang yang punya spesialisasi atas suatu bidang, yang tidak kuliah atau otodidak tidak mendapatkan tempat.

Mereka yang miskin, apalagi tidak kuliah yang sangat menyukai sastra, sejarah atau filsafat misalnya, sama sekali tidak akan mendapat kursi di masyarakat sebelum mereka mencipta sesuatu yang kasat mata. Apalagi perusahaan, nampaknya saya belum tahu ada perusahaan sastra. Lalu dicaplah ketidaksuksesan di jidat mereka-mereka yang digolongan ini.

Memang nampaknya masih jauh bagi bangsa ini untuk menghargai pemikiran seseorang, melihat nilai tawar yang diajukan masih berputar-putar di soal Materialisme. Sukses nampaknya Revolusi Industri membawa gaung perubahan Global.

Selanjutnya, adalah bagaimana nilai tawar kita di mata Allah. Semua Nabi dari Daud, Sulaiman, Isa, maupun Muhammad bercerita soal akan dihakimi semua orang menurut perbuatannya di dunia, dan itu menjadikan nilai tawar untuk masuk ke dalam Rahmat Surga-Nya atau tidak.

Tapi Mbah Nun sering menegaskan bahwa surga-tidaknya seseorang semau-mau Tuhan, dengan berbuat kebajikan yang semaksimal mungkin diusahakan manusia, hanyalah sebagai jalan untuk manusia berdekat-dekat dengan-Nya. Dan keputusan surga-tidaknya menjadi Hak Prerogatif Allah.

Manusia sama sekali tidak boleh menawar, karena memang semua yang punya di dunia adalah milik-Nya dan kembali pada-Nya. Di sinilah proses ketaatan itu berlangsung, manusia yang kelihatannya punya pilihan namun sebenarnya pilihan-pilihan itu berada mutlak digaris keputusan-Nya.

Dan adanya pilihan itu adalah Nilai Tawar lebih yang diberikan Tuhan pada manusia karena pada saat ciptaan lain harus taat 100 persen, manusia diberi akal untuk memilih jalan mana, lakon mana yang akan dia tempuh. Menyitir kalimat simbah: “Sebab akal pasti sehat. Yang tidak sehat, bukan akal. Tidak ada akal sehat, yang ada adalah akal, dan akal pasti sehat.

Dan nilai tawar dari dan oleh Tuhan berupa akal harus menjadi sesuatu yang agung yang harus disyukuri seluruh umat manusia, memandang dari segala ukuran bukan hanya berdasar kasat mata saja. Juga untuk terus-menerus menghasilkan output yang bermanfaat bagi sesama mahkluk, entah kepada semesta maupun manusia. Akal akan membimbing otak manusia pada keseimbangan, kewajaran, keadilan, kebaikan, dan berbagai wujud persambungan Cinta Tuhan untuk semua mahkluk.

Selamat merenung, dan meneruskan kebaikan-Nya ke penjuru bumi.

Sragen, 5 Februari 2018

Tol Solo-Kertosono yang belum jadi memang layak untuk dicoba sebagai jalur bersepeda pagi hari. Selain sepi juga menawarkan keasrian khas pedesaan…