Nada Dasar dan Keikhlasan Bersama dalam Shalawatan

Dalam agenda jadwal Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng bulan Desember tahun lalu, kebetulan tempatnya agak dekat dari tempat saya berdomisili, meski tetap harus menempuh perjalanan sekitar 1 jam lebih. Tentunya saya sangat bersemangat sekali ingin hadir di Sinau Bareng di kota Kudus, Semarang dan Demak. Bagi JM yang rindu sama Mbah Nun dan KiaiKanjeng sudah pasti berupaya tidak akan melewatkan acara maiyahan di kota-kota tersebut, karena beliau-beliau sudah lama tidak menyambangi mereka. Sudah pasti rindu kepada beliau-beliau akan terobati bagi para JM yang berdomisili di sana.

Bagi saya selagi ada jadwal terdekat, sudah pasti saya putuskan berangkat lebih awal setelah pulang bekerja, untuk menyambut KiaiKanjeng yang sudah hadir terlebih dahulu dan melihat beliau-beliau saat melakukan soundcheck. Tentunya rasa senang ini selalu hadir, melihat dengan jelas sekali skill beliau-beliau memainkan alat musiknya. Apalagi mendengarkan alunan suaranya dari jauh maupun dekat, yang saya rasakan bukan hanya senang tetapi juga sambil belajar bagaimana KiaiKanjeng membawakan lagu-lagunya. Bukan hanya mendengarkan tetapi juga belajar menikmati setiap alunan musik KiaiKanjeng. Karena di setiap tempat pasti berbeda-beda suasana soundcheck dan setting-an suaranya.

Seperti yang terjadi di Kudus dan Demak ketika itu, setelah tiba di lokasi beliau-beliau KiaiKanjeng langsung naik ke atas panggung. Bukannya istirahat dahulu melainkan langsung memainkan alat musik untuk soundcheck. Itu pun saya perhatikan dilakukan tidak hanya sekali dua kali di banyak soundcheck Sinau Bareng.

Pergelaran Sinau Bareng sendiri sudah dijalani beliau-beliau ribuan kali. Ketika Sinau Bareng itu saya sempat menanyakan langsung pada salah satu personil KiaiKanjeng, ternyata Sinau Bareng di kota Demak itu adalah yang ke-3870 dalam menemani masyarakat di berbagai lapisan. Kalau kita bayangkan setahun saja dengan padatnya jadwal beliau-beliau pindah-pindah dari kota ke desa, dari desa ke kota, sudah berapa kali soundcheck yang dilakukan.

Maiyahan di Kudus tanggal 5 Desember saat itu tentu berbeda dengan  Sinau Bareng sebelum-sebelumnya. Sering kali Sinau Bareng digelar di area lapangan sepak bola. Namun di Kudus itu diselenggarakan di halaman sebuah Masjid yang halamannya cukup luas dan juga di pinggir jalan raya. Pada maiyahan di Kudus itu kita diajak Mbah Nun melantunkan Shohibu Baiti. Seingat saya ia sangat jarang dibawakan saat Sinau Bareng. Suasana yang sebelumnya terang oleh cahaya lampu berubah jadi gelap untuk bersama-sama melantunkan Shohibu Baiti. Suasana khusyuk JM yang hadir sangat saya rasakan. Mereka semua diminta oleh Mbah Nun agar berdoa, seandainya punya hajat apapun semoga segera dikabulkan oleh Allah.

Banyak ilmu saya peroleh pada rangkaian tiga kota Sinau Bareng kali ini. Termasuk juga dari Kenduri Cinta yang digelar selepas rangkaian ini. Salah satunya kita diajak Mbah Nun belajar kembali tentang nada dasar Do-Re-Mi-Fa-Sol-La-Si-Do melalui workshop yang melibatkan jamaah. Apa yang telah dituturkan beliau kemudian kita terapkan di keluarga, masyarakat dan kehidupan kita masing-masing.

Pada saat saya sekolah dulu, rasanya saya belum pernah diajarkan tentang bagaimana nada dasar tadi dipelajari secara detail seperti di Sinau Bareng ini. Melalui belajar nada dasar itu, kita diharapkan mempunyai bekal dalam  menentukan patokan hidup dan menentukan seberapa panjang tali hidup kita. Karena kita hidup di dunia ini tidak ada ujungnya. Diberi rezeki apapun oleh Allah, kita selalu merasa kurang. Meski saat ini kita menjabat sebagai bos suatu perusahaan atau yang lainnya selalu masih merasa kurang.

Kunci-kunci ilmu dari Mbah Nun ini akan sangat berarti buat saya ataupun JM di manapun berada, entah esok hari, beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian. Mengikuti estafet Sinau Bareng kali ini, saya bersyukur sekali. Alhamdulillah saya selalu memperoleh ilmu-ilmu baru lagi yang belum pernah saya dapatkan di sekolah ataupun di majelis-majelis lainnya.

Pun ketika saya menghadiri Kenduri Cinta bulan Desember lalu, saya merasakan suasana baru, yaitu ketika Kyai Muzammil hadir di tengah-tengah para JM. Di tengah suara bising dan suasana ramainya ibukota Jakarta, kita diajak oleh Kyai Muzammil untuk bershalawat bersama-sama,  masih dalam memperingati Maulid Nabi. Padahal di jalan raya depan Taman  Ismail Marzuki tempat Kenduri Cinta digelar, suara klakson, sirine ataupun suara knalpot motor terdengar kencang.

Namun yang saya rasakan, JM sungguh-sungguh sekali shalawatan bersama untuk junjungan Nabi kita Muhammad Saw. Kekhusyukan mereka tidak terpengaruh suara bising dan bertauhid (menyatu) bersama-sama melantunkan shalawat mewujudkan cinta kita kepada Allah dan Nabi Muhammad Saw sampai menyambut Mbah Nun tiba di atas panggung.

Hingga saat ini pun saya selalu bertanya-tanya, entah semacam energi apa yang saya dapatkan malam itu. Tanpa alat musik pun, JM yang tadinya duduk kedinginan karena sebelum acara dimulai diberkahi oleh turunnya hujan,  bersama Kyai Muzammil mereka tetap bersemangat melantunkan shalawat. Saya juga melihat JM yang hadir tampaknya baru pulang kerja, karena sebagian masih mengenakan pakaian kerja. Hanya Sekitar 10 menit lebih  shalawatan bersama-sama, namun mereka semua yang hadir ber-tauhid melantunkan shalawat “Allah Ya Nabi Salam Alaika, Ya Rasul Salam Alaika, Ya Habib Salam Alaika, Shalawatullah Alaika”. Keikhlasan hati mereka dalam melantunkan shalawat itulah yang menurut saya membuat khusyuk.

Saya perhatikan JM yang hadir di Kenduri Cinta semakin malam semakin ramai. Mungkin sebagian dari mereka ada yang baru pulang kerja lebih malam. Suasana di Kenduri Cinta memang berbeda dari saat Sinau Bareng masyarakat di pelosok desa, karena selain mendengarkan suara Mbah Nun, suara lalu lalang kebisingan kendaraan Ibukota ikut menemani..

Saya pun merasa terharu saat Mbah Nun membesarkan hati kita, bahwa kebersamaan bershalawat dengan ikhlas saat itu adalah pertanda bahwa orang Maiyah akan diberikan kemampuan dikit demi sedikit untuk bisa mengubah keadaan yang semakin rusak ini. Entah itu beberapa bulan atau dalam tahun-tahun ke depan. Seperti tulisan Mbah Nun pada Mata Air Maiyah Tiga dari Sepuluh:

Para pereguk mataair Maiyah diantarkan dan dihimpun memasuki suatu jagat kejiwaan di mana mereka mengalami kenikmatan bertauhid, ketakjuban ber-Islam, kesegaran silaturahmi, kemurnian ukhuwah, keseimbangan mental, kejernihan penggunaan akal, keadilan berpikir, ketenteraman hati, kebijaksanaan bersikap–serta secara keseluruhan semacam keterbimbingan hidup.

Tetapi Allah menguji mereka:
Seperti ada tangan besar yang menarik mereka ke jalan sunyi, yang membuat mereka terasing, berbeda bahkan bertentangan dengan dunia dan Indonesia.

Dalam agenda jadwal Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng bulan Desember tahun lalu, kebetulan tempatnya agak dekat dari tempat saya berdomisili, meski tetap harus menempuh perjalanan sekitar 1 jam lebih. Tentunya saya sangat bersemangat sekali ingin hadir di Sinau Bareng di kota Kudus, Semarang dan…