Meruang, Perjuangan Jihad Menuju Sakinah

Liputan Sinau Bareng CNKK di Alun-alun Satya Negara Sukoharjo, 30 Oktober 2018

“Peci model itu yang taliban habis Mas, laris. Tapi malah sama yang produksi diberhentikan dulu. Pemakaian bahannya lebih banyak soalnya,” jadi bukan karena talibannya hehe. Sebenarnya bukan betul juga menyebut peci taliban, ini model. Peci yang belakangan saya suka koleksi namanya pakol. Beberapa suku di sekitar Afghanistan sering memakainya sehari-hari bahkan aslinya lebih erat dengan petani dan pedagang. Hanya karena sering terlihat di media-media dipakai oleh para pejuang taliban dan beberapa mujahidin di wilayah lain, kesan peci jihadis itu melekat. Trend dan simbol, berjalan dan pemaknaan bisa berubah seiring zaman.

Tadi itu obrolan saya sama bapak yang menjual peci. Bapak ini ilmu marketingnya sedap juga, walau potongan beliau sangat santri lokal, sarungan, tapi dengan kelihaian saudagar cepat saja beliau tanggap, “Bagus memang peci begitu Mas, apalagi orangnya brewokan, sangar. Pas betul kayak jihadis”

Budaya bukan bergantung bentuk belaka, tapi bagaimana kreativitas satu lokalitas memberi makna pada sesuatu sesuai kearifan dan kesesuaian lokalnya masing-masing. Selama manusia masih aktif memberi makna, budaya dan peradaban masih berjalan. Dan itulah dalam Sinau Bareng kita mengasah kemampuan kita memberi makna. Artinya menajamkan kemampuan mencipta peradaban.

Alun-Alun Satya Negara, Sukoharjo malam ini tanggal 30 Oktober 2018M. Bulan tak tampak, angin sepoi saja. Walau ada perubahan sedikit ketika KiaiKanjeng sedang melantunkan nomor PadhangmBulan. Saya cuma niteni sebisanya, dan saya sedang makan steak di warung lesehan, salah satu dari berbagai macam warung jajanan lain yang berdiri meriah di sekitar alun-alun ini.

Saya kurang favorit sama steak, lagipula mahal, tapi saya penasaran juga bagaimana steak yang biasanya kesannya makanan resto mahal kok ada di lesehan sederhana. Atau yah, itu hanya kesan-kesan saja. Sama seperti kesan yang saya rasakan, saat nomor PadhangmBulan melantun, angin di sekitar rasanya lebih kencang bahkan sedikit menderu dan seiring selesai lantunan itu, angin kembali sepoi seperti mulanya. Mungkin kebetulan, mungkin bagi beberapa orang ada maknanya, atau mungkin saya salah mengukur kecepatan angin. Semuanya kemungkinan.

Tak butuh waktu lama untuk alun-alun ini penuh oleh hadirin dari berbagai latar belakang. Nampak saja dari ragam penanda dan busananya, dari santri paling modern pada masanya hingga yang modernnya zaman sekarang. Dari yang tatoan, berkostum perguruan silat, Banser hingga yang kathokan congklang dan bercadar (dua ini tentu maksudnya beda orang).

Mobil ambulans dari pemerintah daerah dan satu lagi dari PKU Muhammadiyah bersiaga di sisi lapangan. Keseriusan panitia tampak sekali menyambut sajian cinta dan kebahagiaan ilmu Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng malam ini.

Mbah Nun ketika telah berada di panggung membabarkan pedoman-pedoman yang prinsipil di antaranya bahwa kita, “Jangan punya konflik sama Allah. Baik individu maupun kolektif. Kalau punya konflik sama HTI, sama PKI dan selainnya bisa kita cari-carikan jalan keluarnya, tapi kalau sampai berkonflik sama Allah kita tidak bisa apa-apa”

Sinau Bareng malam ini diinisiasi oleh BKKBN, yang urusannya soal keluarga dan berbagai hal mengenainya. Bangsa Nusantara adalah satu keluarga dan begitulah kita mestinya memperlakukan semua yang berada di dalam naungan rumah tangga negeri ini. Kebetulan sekarang sedang pada masanya Indonesia.

Pedoman keluarga dibabarkan Mbah Nun dari Ar-Rum ayat 21, kalimat “litaskunu ilaihaa“. Litaskunu ini menurut Mbah Nun merupakan satu akar kata dengan “sakinah“. Penggunaan kata “ilaiha” oleh Mbah Nun diartikan sebagai pesan bahwa sakinah adalah sesuatu yang perlu dan selalu harus diperjuangkan. Dia dinamis dialektis, tidak statis. Kadang menurun kadarnya, diperjuangkan kembali, naik sedikit kadar ke-sakinah-an, mesra, bertengkar lagi tapi kita perlu terus berjuang.

Dan salah satu bentuk perjuangan merengkuh sakinah itu adalah dengan menjembarkan jiwa, menjadi “manusia ruang” yang menampung segala hal segala pikiran, semua ide, setiap golongan. “Sekarang terlalu banyak yang menjadi perabot, maka kita pilih menampung semua. Kita pilih menjadi ruang”. Karena kasihan, perabot yang saling enyah-mengenyahkan, saling bakar-membakar, saling menjegal, bertubrukan dan menyingkirkan itu sedang merasa terhimpit pada ruang sempit bernama NKRI. Jadilah ruang dan mari berjihad menuju sakinah.

Buku dan Merchandise