Menimba Ilmu Kepada Mbah Nun

#65TahunCakNun

Perjalanan Mbah Nun dan KiaiKanjeng sampai detik ini sudah hampir 4000 pagelaran menemani masyarakat di berbagai lapisan. Tentu perjalanan Beliau-beliau itu sangat membutuhkan pergorbanan. Tidak tahu sudah berapa puluh ribu kilometer sampai saat ini perjalanan yang telah ditempuh.

Belum lagi perjalanan Mbah Nun di forum Padhangmbulan sudah 24 tahun berjalan, Mocopat Syafaat 20 tahun, Gambang Syafaat 18 tahun, Kenduri Cinta 17 tahun, Bangbang Wetan juga sudah 11 tahun. Dan masih ada simpul-simpul Maiyah lainnya juga menanam benih-benih sendiri di berbagai daerah. Belum lagi lingkar Maiyah yang kecil-kecil juga berdiri di pedesaan diberbagai daerah juga. Semuanya berjalan atas perintah Allah dan keistiqomahan sendiri, tidak ada perintah ataupun paksaan atas seseorang. Semua berjalan karena memang diperjalankan oleh Allah dalam menggapai syafaat Rasulullah Saw.

Saat mengikuti Sinau Bareng atau di forum Maiyahan lainnya, yang kita dapatkan tidak hanya ilmu-ilmu baru. Melainkan kita juga kenal saudara baru dan teman baru. Kita juga tidak hanya menikmati musik yang dipersembahkan oleh KiaiKanjeng, tidak hanya mengambil buah ilmunya. Kita diajak berpikir bersama, berpendapat kemudian dicari solusinya bersama-sama. Setiap kali acara Maiyahan berlangsung, Mbah Nun ataupun KiaiKanjeng tidak hanya memberi materi-materi dan bekal-bekal hidup untuk kita, namun kita juga diajak bergembira dalam bentuk dolanan. Semua tercipta karena kemesraan dan keikhlasan antara kita semua.

Begitupun juga saat menauladani personel KiaiKanjeng. Jangan hanya mendengarkan musik yang dibawakannya saja. Kita mesti belajar kepiawaiannya dalam memainkan alat musik. Juga belajar kepada kesetiaannya, kebersamaanya, keistiqomahannya dan kerendahan hatinya. Dan KiaiKanjeng ke manapun pergi juga bersama Mbah Nun.

Bagi KiaiKanjeng dan Jamaah Maiyah, Mbah Nun adalah guru bagi semuanya.  Sinau Bareng tidak hanya kebaikan untuk diri beliau sendiri, melainkan kebaikan untuk siapapun. Beliau tidak merasa dirinya lebih pintar dari siapapun dan beliau juga sangat rendah hatinya kepada siapapun juga, bahkan ada orang kurang waras pun beliau sering menyapanya.

Bagi saya dan Jamaah Maiyah, Mbah Nun adalah sekaligus sosok orang tua sebagai pengayom Bangsa ini. Tidak sedikit apa yang beliau pesankan dan sampaikan, selalu membuat saya lebih berintrospeksi diri dan saya terapkan di kehidupan saya sendiri, keluarga dan masyarakat. Mengikuti Sinau Bareng ke sana kemari juga membutuhkan pengorbanan, entah itu fisik dan juga yang lainnya. Saya dan Jamaah Maiyah pasti tidak pernah menghitung berapa biaya perjalanan kami tempuh saat pergi maupun pulang. Biarlah Allah yang menghitung atas keikhlasan kita untuk Sinau Bareng dan nyedulur kepada yang bukan kerabat sendiri.

Sangat terasa sekali militansi dan kesungguhan mereka untuk menimba ilmu kepada Mbah Nun, tanpa rasa jenuh sedikit pun. Mereka datang tidak tampak sebagai suatu kelompok atau golongan tersendiri. Yang terasakan dari mereka adalah kesetiaan dalam mencari ilmu kepada beliau. Di lokasi, mereka berbaur dengan hadirin atau jamaah pada umumnya. Duduk mereka juga tersebar, di mana saja. Ada yang di samping panggung. Ada yang di dekat pagar, ada juga tentunya yang mengambil tempat di antara jamaah di tengah-tengah halaman. Ada pula yang berdiri di sisi panggung berbagi dengan panitia. Usai acara, mereka juga akan menempuh kembali perjalanan berkilo-kilometer jauhnya untuk sampai ke rumah masing-masing. Saya juga pasti akan kembali menempuh perjalanan berkilo-kilo lagi menuju tempat saya bekerja.

Alhamdulillahirobil’alamin di bulan Mei 2018 tanggal 27, Mbah Nun menginjak umurnya yang ke 65 tahun. Seakan-akan kita diharapkan memberikan kado atau bingkisan pada setiap orang yang baru merayakan hari ulang tahunnya. Tetapi pada momentum yang spesial ini malah sebaliknya, bukannya kita memberi kado tapi kita malah diberi kado berupa ilmu-ilmu yang tentunya akan kita peroleh setiap hadir di Majelis Masyarakat Maiyah ataupun saat Sinau Bareng berlangsung. Tidak hanya satu kali, dua kali, atau tiga kali kita menimba ilmu kepada beliau, tentunya sudah berkali-kali setiap hadir kita selalu mendapatkan ilmu yang belum tentu kita dapatkan di forum-forum Majelis lainnya.

Karena pada hakekatnya, tidak seorang pun sanggup dan bisa menilai orang lain, maka kita sendirilah yang dalam hati dan batin kita masing-masing harus menjadi pengawas diri sendiri. Kita bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah. Kita juga bisa melihat kebaikan orang lain. Namun kita tidak bisa melihat apa yang baik pada diri kita. Setiap pandangan dan sikap orang lain atas kita sangat membantu penglihatan diri itu. Dialektika horisontal dengan orang lain sangat menolong kita dalam memacu menggembalakan diri sendiri.

Selagi Mbah Nun masih diberi umur panjang oleh Allah, gunakanlah waktu sebaik mungkin untuk bersama beliau. Untuk mereka yang memahami bahwa hidup bukanlah sekadar kumpulan waktu, hidup adalah kumpulan kesadaran. Karenanya, nilainya bukan ditentukan dari seberapa sebentar atau lamanya, tapi seberapa banyak kesadaran yang kita miliki tentang kehidupan itu sendiri. Kesadaran yang menjelma menjadi hikmah, juga pengalaman berharga dalam setiap episode kehidupan. Begitu juga dengan menunggu. Bukan seberapa lama waktu menunggu, tapi tentang seberapa banyak hal berharga yang bisa kita dapatkan dari proses menunggu itu sendiri.

Matur nuwun Mbah Nun, Engkau sudah mengajari kerendahan hati. Engkau sudah mengajari keluasan dan kedalaman berpikir. Engkau sudah mengajari kedaulatan atas diri sendiri. Engkau mengajari persaudaraan fid-dunya wal akhiroh. Dan engkau juga selalu membesarkan hati kami di manapun kita bertemu. Maaf kalau tidak ada kado untukmu, kado dari saya hanya bisa mendoakan setiap berjumpa langsung berhadapan denganmu.

Sugeng ambal warso nggih Mbah Nun. Mugi tansah diparingi sehat lan rahayu. Amin.

Semarang, 27 Mei 2018

Perjalanan Mbah Nun dan KiaiKanjeng sampai detik ini sudah hampir 4000 pagelaran menemani masyarakat di berbagai lapisan. Tentu perjalanan Beliau-beliau itu sangat membutuhkan pergorbanan. Tidak tahu sudah berapa puluh ribu kilometer sampai saat ini perjalanan yang telah ditempuh. Belum lagi…