Menggali Nada-Nada di Perjalanan Sunyi

Catatan Dikusi Sewelasan Perpustakaan EAN, 11 Februari 2018

Hujan masih turun cukup deras ketika saya sampai di Rumah Maiyah pada Minggu malam, tanggal 11 Februari 2018 kali ini. Hujan, seperti juga segala sesuatu, selalu datang dengan bunyi khasnya sendiri. Dan bunyi, seperti segala yang ada juga, memiliki sanad dan nasabnya, peta rute perjalanannya sendiri. Rasanya saya tidak perlu menjelaskan seperti apa bunyi hujan.

Derasnya hujan tidak menyurutkan semangat kawan-kawan untuk meramaikan acara Diskusi Sewelasan yang sesuai namanya, rutin diadakan pada tanggal 11 setiap bulan. Semangatnya bukan sekedar meramaikan tentu saja, tapi semangat untuk menggali dan mencari terus tanpa henti. Perpus EAN sebagai penyelenggara acara juga selalu serius menghadirkan bahasan-bahasan menarik dan tentu juga pemateri-pemateri yang layak digali.

Ketika motor saya parkir dan mantel hujan saya lepas, serbuan alunan nada menyerbu kuping. Tiba-tiba tubuh saya bereaksi di luar dugaaan. Jantung berdegup kencang, otot-otot menegang, saya tiba-tiba ingin lari ke satu arah. Butuh satu-dua detik yang terasa cukup lama untuk saya menyadari apa yang terjadi.

Rupanya sebagai pengantar suasana, dari speaker melantun alunan lagu Ummi Kultsum. Saya lupa judul lagunya apa, tapi itu adalah lagu yang selama enam tahun dulu ketika nyantri, selalu disetel setiap pagi pada jam yang sama di pondok kami. Ada potongan bagian lagu itu yang selalu dipahami oleh para santri sebagai penanda bahwa waktu menjelang bel masuk gedung sekolah sisa sepuluh menit. Maka ketika lagu telah mencapai bagian itu, serentak ribuan santri yang masih berada di kantin atau di jalan menuju gedung pembelajaran akan langung meningkatkan kecepatan dan kewaspadaan dan kemudian sprint demi menghindari hukuman-hukuman dari penegak disiplin.

Rupanya bagian lagu itulah yang sedang mengalun ketika saya tiba. Mengejutkan bagi saya, karena setelah dua belas tahun meninggalkan pondok, lagu itu masih tertanam dalam tubuh saya. Ada bunyi-bunyi yang tertanam. Dan Diskusi Sewelasan kali ini berusaha menggali itu, dari buku karya Bu Anne K Rasmussen berjudul “Women, Recited Qur’an and Islamic Music in Indonesia“.

Tampil sebagai pembicara Mas Rony K Pratama yang tulisannya banyak meramaikan resensi karya ilmiah atas Cak Nun dan KiaiKanjeng di web caknun.com. Dan Pak Ari Blothong dari KiaiKanjeng yang tentu juga telah akrab bagi semua Jamaah Maiyah–selain seorang musisi beliau juga tentu kita ketahui bersama adalah seorang akademisi musik. Bu Roh, sesepuh kita, tampil langsung sebagai moderator pada malam kali ini. Belakangan, Bu Anne sendiri juga bergabung dalam kebersamaan ini via video call.

Dari awal bahasan, pertama-tama Mas Rony menyampaikan materi yang telah dipersiapkannya dengan mencarikan latar belakang dan isi dari buku yang sedang dibahas. Poin-poin penting dari buku dikupas satu demi satu, kemudian menyusul Pak Blothong. Setelahnya, diskusi menjadi lebih cair dengan kolaborasi Mas Rony dan Pak Blothong yang saling menggali satu sama lain.

Kita menggali pada kedalaman penelitian yang dilakukan oleh Bu Anne bukan karena Bu Anne orang Amerika. Tapi karena Bu Anne memiliki akses untuk men-zoom out pandang terhadap kekayaan khazanah bebunyian yang kita miliki. Kita memiliki harta yang jarang kita tahu bahwa dia adalah harta. Kesadaran pemahaman kita, yang lahir dari budaya kita sendiri memang lebih banyak zoom in, dan itu terjadi dalam bidang apapun.

Ini bukan soal mana lebih baik dari budaya mana, tapi setiap capaian peradaban manusia tentu ada kelebihan dan kekurangannya, maka itulah “kami ciptakan engkau bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal”. Setelah saling mengenal, saling menjangkepi. Bukankah begitu?

Satu contoh, menurut Bu Anne dalam bukunya selalu ada perbedaan nada di Timur Tengah antar nada Mesir, Maroko, Yaman dan lainnya, semua memiliki ciri khasnya sendiri. Namun di negri ini Bu Anne mendapati semua nada timur tengah itu bertemu dan dilantunkan dengan biasa saja, tanpa banyak yang mengetahui nasab muasalnya nada itu.

Bu Anne sendiri terheran dan penasaran bagaimana bunyi-bunyian itu sampai bisa berjalan masuk dan meresap di negeri ini. Gamelan, adalah sesuatu yang menurut Bu Anne susah dipahaminya secara teori. Dan di atas itu, musikalitas KiaiKanjeng lebih tak terjangkau lagi oleh pemahamannya namun sangat beliau nikmati. Satu hal yang menurut saya pribadi adalah ukuran seorang peneliti yang baik adalah ini; paham limitasi pandangnya sendiri.

Musikalitas KiaiKanjeng pun menjadi bahasan seru malam itu. Mas Rony menyoroti bagaimana Mbah Nun dan seluruh dzat bagian KiaiKanjeng memiliki endurance dan stamina kreativitas yang begitu tinggi disamping tentu juga keliaran karya, tingkat capaian nadanya. Pak Blothong pun mafhum bahwa sebagai sebuah grup musik, KiaiKanjeng telah sampai pada tingkat “pembongkaran”. Maka seorang yang berasal dari teori baku musik klasik seperti beliau pun kemudian mesti bersedia menjalani laku musikal. Bahwa musik KiaiKanjeng bisa melampaui teori-teori musik yang dipahaminya.

Di satu sisi, Pak Blothong juga mendorong teman-teman, sedulur-sedulur JM untuk tetap mau berendah hati mempelajari teori-teori musik, jangan meremehkan teori juga. Pesan Pak Blothong yang ini mungkin akan saya tegaskan dalam tulisan ini. Saya kasih “BOLD” karena bagi saya, tidak hanya dalam musik sebenarnya. Tapi Maiyah sendiri telah mencapai maqom pembongkaran teori dalam berbagai hal.

Bahasan di Maiyah sudah banyak melampaui capaian-capaian akademisi ilmiah, ideologi, tarekat, estetika seni dan sastra, madzhab pemikiran maupun khazanah kitab-kitab klasik. Namun memang sebaiknya itu tidak membuat kita malas dan ogah-ogahan untuk tetap mengkaji hal-hal tersebut. Rasionalnya, kita bisa menikmati pembongkaran ketika kita sudah tahu apa yang dibongkar. Kalau sekadar membongkar, toh remaja-remaja yang baru belajar post-modernisme pun bisa juga.

Musik KiaiKanjeng selalu enak didengarkan, tapi bagi mereka yang punya bekal teori musik baku, musikalitas KiaiKanjeng terasa jauh lebih dahsyat.

Nada-nada berjalan. Jauh. Mantra-mantra dari keluasan Afrika terbawa bersama budak-budak ke daratan Amerika. Kawin dengan pola tanam, masuk ke gereja, menjadi liukan-liukan nada, cengkok yang tak dipahami oleh manusia kulit putih. Menjadi cikal bakal musik blues di kemudian hari. Blues ditingkatkan temponya menjadi Rock n Roll. Tapi pada asal mula, induk mantra itu sendiri berasal dari mana?

Nada-nada berjalan. Jauh. Rindu kampung halaman yang sejati. Nada-nada berjalan pulang, menempuh jalan sunyinya masing-masing.

Makin malam, diskusi Sewelasan di Rumah Maiyah makin hangat. Bahkan Bu Roh kemudian memutuskan untuk menunda waktu selesainya acara karena saking banyaknya pertanyaan yang muncul. Masih banyak yang bisa dibahas, namun waktu telah menjelang jam 12 malam. Diskusi yang baik memang bukan sekadar gudang jawaban, tapi bagaimana menemukan pertanyaan-pertanyaan untuk menjadi bahan penggalian masin-masing. (MZ Fadil)

Hujan masih turun cukup deras ketika saya sampai di Rumah Maiyah pada Minggu malam, tanggal 11 Februari 2018 kali ini. Hujan, seperti juga segala sesuatu, selalu datang dengan bunyi khasnya sendiri. Dan bunyi, seperti segala yang ada juga, memiliki sanad dan nasabnya, peta rute perjalanannya…