Mendetoksifikasi Diri di Pengajian Padhangmbulan

Liputan Majelis Ilmu Padhangmbulan 26 Juli 2018

Malam ini oase itu kembali dihamparkan. Para kafilah, para salik, para pejalan kehidupan yang di antara mereka datang dari tempat yang jauh, berdatangan ke desa Mentoro.

Padhangmbulan, bagi saya, mungkin juga bagi jamaah yang lain, tak ubahnya oase di tengah tanah gersang yang sering memaksa kita menjadi seekor atau sekumpulan binatang.

Semoga penggambaran ini tidak berlebihan, mengingat setiap satu bulan sekali, pada malam bulan purnama, kita menjalani semacam detoksifikasi, menghancurkan virus yang mengubah kita menjadi manusia yang tidak jangkep.

Faktanya, selain formula yang ditaburkan di angkasa langit kesadaran sehingga selama pengajian berlangsung kita seperti orang nglilir bangun dari tidur, kita juga menjumpai pasar rakyat di sepanjang jalan menuju area pengajian Padhangmbulan.

Nenek penjual kacang godhok, bapak lanjut usia penjual tahu solet, ada pula yang menggelar ramuan untuk melebatkan rambut. Yang pasti tidak ketinggalan adalah warung kopi lesehan. Dagangan mereka digelar di tepi jalan–strategi penjualan yang akan ditertawakan oleh ilmu marketing modern.

Tidak jadi soal–mereka berjualan tidak semata-mata mengincar laba. Melayani sesama saudara dalam transaksi jual beli yang bermartabat adalah bonus akhirat yang nilai kebaikannya akan mereka bethok kelak.

Mencermati dan mendalami kenyataan bagaimana pasar rakyat digelar, hal ini sudah merupakan detoksifikasi manakala otak kita dijejali oleh narasi ekonomi materialisme yang orientasi utamanya adalah laba dunia seraya menggadaikan laba akhirat.

Lihatlah kemesraan itu, keguyuban itu, persaudaraan itu, tidak terutama antara penjual dan pembeli, melainkan antar sesama manusia. Kalau riset dan data statistik menyatakan terjadi ketimpangan dan kesenjangan ekonomi dan pendidikan di Indonesia, agaknya para peneliti perlu juga memotret kesetaraan ketika manusia bertemu manusia di oase Padhangmbulan.

Selamat datang, Kawan, di pengajian Padhangmbulan. Selamat mendetoksifikasi hati dan pikiran. (Ahmad Saifullah Syahid)

Malam ini oase itu kembali dihamparkan. Para kafilah, para salik, para pejalan kehidupan yang di antara mereka datang dari tempat yang jauh, berdatangan ke desa Mentoro. Padhangmbulan, bagi saya, mungkin juga bagi jamaah yang lain, tak ubahnya oase di tengah tanah gersang yang sering memaksa kita…