Menampung Taman Semesta, Menanam di Tamansiswa

Reportase Sinau Bareng CNKK di Tamansiswa Nanggulan, 1 Juli 2018

Nusantara asli tidak pernah mengaku-ngaku diri sebagai Nusantara. Banyak pertimbangan dan pembacaan kenapa bisa begitu, salah satunya mungkin adalah potensi psikologis manusia-manusianya yang lekas militan dan punya daya amuk tinggi. Maka leluhur Nusantara tidak pernah mengideologiskan ke-Nusantara-an. Kalau ada yang punya ide meracik formula semacam: Merek dien plus “Nusantara” nah itu mestilah lahir dari kesadaran ideologis manusia modern. Apalagi, kacamata pandang tentang apa itu Nusantara yang sekarang digunakan, seringnya masih memakai angle orientalis-kolonial akhir 1890-1930-an. Makin runyam.

Oleh leluhur luhur, Nusantara diambil sisi sifat meruangnya, dan diaplikasikan dalam sikap dan perilaku. Tak jarang hasil elaborasi ini jadi turun-temurun di berbagai suku dan wilayah. Sehingga menjadi tradisi.

Maiyah dengan sikap Sinau Bareng-nya dan Tamansiswa dengan konsep amongnya, menurut pandangan saya pribadi adalah implementasi ke-Nusantara-an itu. Tidak mengembel-embel Nusantara tapi menjadi ruang secakrawala, sesamudera, seangkasa, men-semesta. Menampung beragam keberagaman, menjadi taman di mana segalanya tumbuh sesuai dengan dirinya. Belajar meluas hingga mampu menampung ruang dan waktu.

Pada Sinau Bareng dalam rangka memuncaki Gelar Budaya XI Perguruan Tamansiswa Nanggulan, Kulon Progo pada 1 Juli 2018 Masehi itu, Mbah Nun menyampaikan bahwa semenjak awal 1970-an sampai sekarang, baru kali ini Mbah Nun mengenakan batik dalam acara semacam ini. Tak lain, ini dimaksudkan untuk memberi penghormatan kepada Perguruan Tamansiswa.

Intensitas mengenakan batik tidak lantas berpengaruh pada keluhuran sikap dan jiwa Jawa-Nusantara sendiri kan? Duh, belakangan pola pikir kita makin memadat. Apa-apa dicap sebagai penanda identitas. Berbatik ria dibilang cah etnik, bersorjan dikata supporter kebatinan, berjidat hitam dibilang pro wahabi dan seterusnya. Kita hidup dengan pola pikir yang makin tidak apa adanya.

Tamansiswa, seperti juga Sinau Bareng pada Maiyah seperti Mbah Nun juga yang tidak sering mengenakan batik, namun bersikap manusia ruang Nusantara itu sendiri.

Pak Giyo Godong-Godongan Nusantara

Indah dan mudah memang untuk berkata meruang dan menampung, atau bahwa Sinau Bareng bukan pengajian satu arah pengomong. Praktiknya apalagi di zaman ini, tidak selalu mudah. Tanpa kuda-kuda mateg aji logika, dan kesiapan menghadapi tak berhingganya kemungkinan, akan mumet mungkin menghadapi manusia macam tanaman liar Pak Giyo yang murah senyum mendekat nyengir dengan sarung putih yang melorot ketika diajak main lepetan oleh Mas Doni dan Pak Jijit.

Pak Giyo harusnya diam saja, duduk takdhim menyimak sang pengomong. Terima apa adanya, tidak usah protes. Dengan kekuatan karomah magis mode, pasti jamin sembuh pinter asal mau ngalap barokah. Karena pengomong pasti lebih tau sedang ummat awam mah apa atuh.

Tapi bukan begitu Sinau Bareng. Mbah Nun dengan sabar, sesekali menyentak, berdialog dengan Pak Giyo. Lempar pertanyaan, lanjut ke pertanyaan turunan, diturunkan lagi konsepnya. Sudah tertata logika, kesimpulannya malah mengkhianati bangunan logikanya sendiri.

“Kenapa anak-anak pada klitih?”

“Karena orang tuanya makan godong, saya ngalamin sendiri. Dulu saya makannya godong-godongan”

“Anak njenengan klitih?”

“Oraaa…”

Pak Giyo nyengir. Mbah Nun mengulang lagi prosesnya, dialog lagi. Emosi naik sedikit, tapi bukan memaksakan doktrin. Proses berulang hingga pada akhirnya, Pak Giyo sadar di mana letak kekeliruan berpikirnya. Nyengir lagi dia. Hadirin menyorak-nyoraki, kelak pada beberapa jam kemudian Pak Giyo sudah berjoged bebas di samping Mas Imam ketika KiaiKanjeng membawakan nomer dangdut “Beban Kasih Asmara”. Hadirin terhibur. Bahagia, Sinau Bareng memang membahagiakan. Kebenaran, silakan cari sendiri.

Agamawan kita cenderung memilih pola ceramah. Satu arah, mungkin karena tidak siap menghadapi keliaran godong-godong Nusanatara macam Pak Giyo ini. Tapi Rasulullah Saw sendiri saya rasa sangat Nusantara walau tentu bukan penganut “Islam Nusantara-isme”. Wali Songo aja mungkin ndak, kan? Beliau Rasulullah manusia teragung lebih banyak berdialog dan menuntun logika para sahabat dengan pelan perlahan, ketimbang mencederai akal memakai pemaksaan pitutur searah. Karena pada manusia Nusantara, semua makhluk adalah sahabat, bukan murid yang dibaiat. Tapi mengikuti Rasul Muhammad Saw memang tidaklah mudah. Ya sudah pakai jalan pintas saja. Jalan pintas (tapi) berabad-abad lamanya itulah wajah Islam yang kita terima hingga sekarang.

Sinau Bareng memang sangat rasional, walau agak magis juga buat saya malam itu. Yang sejak mula penasaran dengan Pak Giyo ini tiba-tiba pada akhir acara disamperin olehnya dan bisa ngobrol sebentar untuk tahu bahwa: “Nami kulo Giyo Budi Haryono… Itu, griya kulo ten dusun (kalau tidak salah dengar) Plajuran. Kae lho cedak e Masjid Attaqwa, ono bok to kae (mana saya tau Pak?) Nah kulone onten pohon…”

Baiklah, too much information. Pak Giyo ke lokasi ikut rombongan pick-up sedesanya, tapi katanya ditinggal pulang duluan.

“Kalau saya numpang panjenengan apakah diperkenankan?” (saya ingat betul, begitu itu kalimatnya)

“Wah saya cuma pakai motor, bareng istri saya Pak” (istri saya sedang ke kamar kecil jadi melewati fragmen teatrikal surrealis ini)

“Oh ya sudah kalau begitu”

Pak Giyo melambai gemulai (serius ini!), pamit. Saya masih memperhatikan keunikan manusia Nusantara ini. Pecinya yang miring, sarung diselempang, sandal jepitnya dengan sangat normal dan rasional ditenteng, bukan dipakai di kaki. Saya tidak nemu alasan kenapa harus begitu. Atau, kenapa tiba-tiba beliau nyamperin dan nyalamin saya di akhir acara.

Sinau Bareng Itu Mirip Konseling

Istri saya, entah untuk keberapa kalinya dalam acara Maiyahan kembali berkata, mendapatkan hikmah sendiri yang bisa diaplikasikannya dalam seni konseling. Karena memang kerjaannya, salah satunya konselor psikologi. Istri saya ini selalu bilang bahwa Sinau Bareng itu konseling juga, hanya yang dikonseling banyak orang bukannya person to person.

Memang yang diajak berpikir, menemukan pertanyaan dan menggali jawaban bukan hanya Pak Giyo. Sejak awal Mbah Nun memang sudah melempar pertanyaan, dan mempersilakan jamaah dan hadirin yang mau berpikir serius untuk ikut di panggung. Dialog selalu terjadi, pertanyaan demi pertanyaan diolah.

Pandangan Indonesia terhadap Nusantara itu bagaimana? Tamansiswa dan NKRI, siapa kebo siapa gudél? Siapa nyusu ke siapa? Apakah Indonesia melanjutkan Tamansiswa dan leluhurnya?

Banyak pertanyaan. Jamaah dan hadirin berpikir sendiri, menggali dengan pengalaman otentik. Sehingga capaian makrifatnya pun juga akan khas sendiri-sendiri. Pencerahan adalah pengalaman masing-masing.

Begitu juga konseling, adalah sang konselor menuntun pelan-pelan logika klien. Menemukan apa sesungguhnya persoalan yang benar-benar persoalan dalam hidupnya. Karena tidak jarang, yang kita kira persoalan bukan persoalan. Dan yang kita kira persoalan ternyata memang bukan penting betul dipersoalkan. Dikira solusi, malah bikin persoalan makin semrawut. Banyak kemungkinan lain.

Negeri ini sepertinya sedang menghadapi komplikasi yang lebih rumit dan serius, maka konselingnya dengan Sinau Bareng.