Lerena Mangan Sakdurunge Wareg, Tjokroaminoto dan Maiyah

Lerena mangan sakdurunge wareg, atau berhentilah makan sebelum kenyang. Ungkapan berbahasa Jawa terkenal demikian dikatakan mengutip dari sebuah hadist Rasul yang menurut beberapa sumber berstatus dlaif. Kita lebih banyak akrab dengan kutipan aslinya. “Makanlah setelah lapar, berhentilah (makan) sebelum kenyang”.

Seorang guru bangsa memperkenalkannya dengan cara lain, membumi di tanah Jawa sebagai pepatah “lerena mangan sakdurunge wareg”. Ungkapan tersebut kemudian menjadi terkenal seiring dengan membuminya tokoh tersebut. Beliau adalah sosok yang disegani di masanya, guru yang Bung Karno bahkan dikatakan meniru gaya berpidato dan pemikirannya. Sejarah kemudian lebih memperkenalkannya dengan nama H.O.S Tjokroaminoto.

Sekira 1 tahun lalu saya berziarah ke makam guru bangsa yang di nisannya terukir sebuah penghormatan untuk beliau ini, “Pahlawan Islam jang Utama”. Kompleks pemakaman beliau cukup dekat dari Rumah Maiyah, bahkan mungkin bisa ditelusuri dengan berjalan kaki lewat gang belakang jika berjalan dari sana. Satu kompleks dengan makam Haji A.R. Fachruddin dan Ki Bagus Hadi Kusumo, keduanya tokoh terkenal Muhammadiyah. Letaknya di kompleks pemakaman Kuncen Lama, gang seberang Pasar Pakuncen, utara perempatan Wirobrajan, Yogyakarta. Baru setelah mengecek aplikasi Google Maps, saya menyadari begitu dekatnya lokasi ini dengan Rumah Maiyah. Di kemudian hari saya bahkan baru sadar bahwa ada satu makam tokoh besar, Ki Bagus Hadi Kusumo yang terlewatkan untuk diziarahi karena tak ada penandanya, sesuai dengan permintaan keluarga almarhum Ki Bagus.

Dari sekian banyak ide besarnya Mbah Tjokro, kalimat “lerena mangan sakdurunge wareg” memang salah satu yang cukup terkenal karena sebegitu membuminya di masyarakat Jawa. Berhentilah makan sebelum kenyang. Baru beberapa minggu terakhir, ketika membaca kembali buku-buku tulisan Mbah Nun dan sekali-dua kali mengikuti Maiyahan setelah sempat lama absen karena tak sempat meluangkan waktu, saya menyadari memang sudah sekian lama kalimat ini Mbah Nun dan sedulur Maiyah praktikkan dalam kehidupan.

Makna kalimat tersebut sangat luas, tak terbatas hanya persoalan tentang makan dan minum secara harfiah saja. Tapi juga meliputi kesediaan untuk menahan diri tidak ‘memakan’ atau ‘menelan’ apa pun hingga kenyang. Era booming informasi atau opini seperti sekarang ini, misalnya. Perlu ada kemampuan untuk menahan diri ketika merasa sudah cukup kenyang terhadap sesuatu. Perlu ada sensitivitas diri, mawas diri untuk bersikap leren ketika memang sudah saatnya belum kenyang, sakdurunge wareg. Bukan hanya saat kenyang, tetapi bahkan sebelum kenyang.

Informasi atau opini yang sudah cukup kita makan sehari-hari, ilmu, hak materiil, jabatan, atau mungkin bahkan sekadar pengalaman saja. Perlu saatnya untuk istirahat ketika belum memasuki masa kenyang. Perlu adanya mawas diri agar kita tak sampai masuk ke keadaan mabuk atau ketagihan pada hal-hal semacam itu. Saya sendiri sebagai wartawan lepas memang sudah beberapa kali menyaksikan hal demikian. Orang-orang sangat mudah mabuk bila makan dan menelan terlalu banyak hal. Bahkan pada hal yang kecil sekalipun semisal reputasi atau rasa ingin dihormati. Atau pada hal kecil di media sosial saja, misalkan. Perlu ada kemampuan untuk menahan diri istirahat agar tak ‘kenyang’ memberikan komentar saat memang kita merasa ingin. Terkadang bahkan kita mabuk dan ketagihan juga kalau sudah masuk dalam persoalan komentar-mengomentari orang lain.

Pada orang yang sudah wareg jabatan misalkan, banyak yang merasa diri ingin terus menikmati dan mabuk pada itu, bahkan rela mengorbankan atau memangsa saudaranya. Pada yang sudah kenyang dan mabuk dengan reputasi juga, siapa pun yang ia pikir berpotensi akan mengungguli dirinya di masa depan, sering orang semacam itu akan segera ia lumpuhkan juga. Pada orang kenyang informasi atau ilmu, ia malah sering tinggi hati ketika berhadapan dengan orang lain yang ia ketahui tak lebih berilmu darinya. Pada hal yang terkecil pun sama, ketika sudah kenyang pada makanan yang disuguhkan entah di mana pun, sering kali timbul keinginan untuk mampir ke sana lagi dan menikmati sensasi kenyang demikian. Tjokroaminoto mengajarkan hal yang menarik, lerena mangan sakdurunge wareg.

Pada Maiyahan bulan puasa entah tahun lalu atau 2 tahun lalu, Mbah Nun memperkenalkan idiom “ngegas dan ngerem”. Puasa adalah latihan untuk mengerem diri dari segala hal yang di bulan selain Ramadan seharusnya bisa kita ngegas. Idiom yang cocok kiranya kalau kita masukan dalam cara pandang ini. Melatih diri untuk menentukan kemampuan kita beristirahat. Sedangkan belajar dari sedulur-sedulur Maiyah dan Mbah Nun, keadaan kenyang adalah sesuatu yang sebisa mungkin harusnya dihindari. Mungkin Mbah Nun malah menertawai keadaan kenyang itu, toh beliau memang sudah purna kalau urusannya adalah puasa.

Bagi penulis lepas seperti saya dan banyak yang mengerti beliau, kadang pusing juga memikirkan bagaimana riwayat Mbah Nun ketika memutuskan istirahat dari keadaan yang bahkan setengah kenyang saja mungkin beliau belum. Memutuskan untuk menghindari jabatan yang terhitung cukup mudah andai beliau mau mengupayakan, menghindari undangan tampil terbuka di layar TV yang sudah bertahun-tahun berulang kali memohon untuk tampil, menolak permohonan besar yang bahkan hingga kini timbal baliknya tak bisa saya bayangkan karena saking besarnya permintaan itu. Orang yang terbiasa dengan bacaan formal dan rasional seperti saya malah akan gila sendiri karena ulah semacam itu. Tapi Mbah Nun tidak, malah memutuskan leren mangan semenjak es teh untuk pengantar makanan sudah dihidangkan.

Pada sedulur-sedulur Maiyah lain pun juga satu dua kesempatan sering kali saya melihat ‘kelakuan’ macam ini. Pada Kiai Muzammil, misalkan. Beliau pernah menceritakan bagaimana menolak permohonan salah satu orang untuk membantu pendanaan pondoknya yang di dekat Pantai Parangtritis itu karena sesuatu hal. Padahal pondok asuhan beliau sendiri, dalam pandangan sekilas saya bisa dikatakan adalah pondok yang terhitung cukup sederhana dan perlu ada perbaikan di satu-dua tempat. Terlebih beliau juga sempat mengupayakan pembangunan gedung baru.

Pada kesempatan lain juga, seperti yang diwartakan di salah satu laman Facebook Gerakan Anak Bangsa asuhan salah satu sedulur Maiyah. Ada sedulur yang ikhlas memberikan ilmu tentang sablon dan satu-dua pelatihan teknis yang sebenarnya itu sendiri seharusnya adalah wilayah transaksional, berbayar. Pelatihan sablon kaos, membuat bakso, desain grafis atau kemampuan teknis semisal hortikulura, di tempat-tempat lain adalah pelatihan yang idealnya memang berbayar. Namun, mereka tidak. Ikhlas memberi ilmu pada siapa pun yang mau belajar. Ada perasaan ikhlas yang saya tangkap untuk tak memuaskan diri menuju tahap wareg itu.

H.O.S Tjokroaminoto bukan tokoh sembarangan. Beliau dalam beberapa sumber juga dikatakan adalah anggota dari sebuah jamaah tarekat. Itu pun di luar atribusi sejarah beliau yang sangat beragam. Sebagai ideolog besar, guru Bung Karno, keturunan K.H. Hasan Besari Ponorogo yang juga adalah guru kinasih Ronggowarsito III, kawan dekat K.H. Ahmad Dahlan, dan pemimpin legendaris organisasi besar di masa perjuangan pra-kemerdekaan. Kalau dikaitkan dengan semua itu, bisa dikatakan kalimat lerena mangan sakdurunge wareg juga punya andil dalam nafas perjuangan kita sebelum proklamasi. Sudah saatnya kita, orang-orang yang akan dikenyangkan oleh penjajah hasil pemerahan paksa rakyat sendiri, bersikap leren, mengasingkan diri sejenak mengambil nafas. Orang kekenyangan akan sulit merasakan penderitaan warga yang lapar. Elan perjuangan akan sulit berkembang bila memang seseorang sudah kenyang. Terlebih bila ia mabuk karena kekenyangan. Apalagi jika merasa ekstase dengan keadaan kenyang itu, merasa belum kenyang padahal perut sudah sedemikian buncitnya.

Kita sudah cukup banyak mendengar bagaimana tingkah orang-orang yang kekenyangan dan kalap dengan itu. Orang kaya memaksa lebih kaya dengan memaku orang biasa. Orang kenyang memaksa meledakkan perutnya dengan mengambil jatah orang yang lebih berhak. Orang lapar dipaksa lebih lapar karena haknya kadung dimakan orang yang sudah kenyang. Mbah Nun melukiskan dalam Tetes: Tak Henti Makan.

“Alangkah sedihnya menyaksikan dunia ini diisi oleh banyak manusia yang tak henti-hentinya makan, padalah ia tak lapar, serta oleh banyak manusia yang tidak habis-habisnya makan, padahal ia sudah amat kekenyangan.”

Mbah Nun sudah sedemikian ekstrem. Beliau merasa bahagia dengan keadaan laparnya. Dimensi yang cukup jarang bisa dimasuki kami-kami yang belum purna dengan dunia. Sudah berulang kali saya mencoba mencari konteks dan perspektif yang lebih jelas dalam menyikapi kalimat lerena mangan sadurunge wareg di atas. Tapi pada Mbah Nun dan sedulur Maiyah, bayangan itu jadi sedikit lebih bisa teraba.

Kalaupun ingin mencoba menyandingkan Tjokroaminoto yang kini terbaring purna di jarak yang tak jauh dari kediaman Mbah Nun, mungkin kita akan banyak menemukan satu-dua persamaan. Jika Mbah Tjokro disebut dalam sejarah sebagai “Raja Jawa Tanpa Mahkota”; Mbah Nun, seperti yang (nampaknya) pernah dikatakan oleh Mbah Mus: “Santri tanpa sarung, haji tanpa peci, kiai tanpa sorban, dai tanpa mimbar, mursyid tanpa tarekat, sarjana tanpa wisuda, guru tanpa sekolahan, aktivis tanpa LSM, pendemo tanpa spanduk, politisi tanpa partai, wakil rakyat tanpa dewan, pemberontak tanpa senjata, ksatria tanpa kuda, saudara tanpa hubungan darah…”

Hanya saja, beliau berdua berbeda. Mbah Nun adalah Mbah Nun, Tjokroaminoto adalah Tjokroaminoto. Keduanya sosok yang masih perlu kita belajar takzim padanya. Kebetulan saja rumah Mbah Nun dengan pembaringan Tjokroaminoto hanya terpisah jarak sekian ratus meter.