Jiwa Liar yang Mampu Menghargai Hukum, Pop Culture Sinau Bareng

Catatan Sinau Bareng CNKK “Risalah Cinta untuk Pemuda”, PKKH UGM, 5 November 2018

Sejak jam 19.00 WIB, gedung PKKH UGM tampak ramai. Semakin bertambah waktu, semakin ramai aliran manusia menuju ke pusaran gelombang Sinau Bareng itu. KMFH (Keluarga Muslim Fakultas Hukum) UGM merasa butuh Sinau Bareng dan diadakanlah pada malam ini pada tanggal 5 November 2018 M.

Hukum memang belum lengkap tanpa kebijaksanaan dan kebijaksanaan memancar dari kegembiraan. Kegembiraan hanya berguna bila bebarengan. Begitulah Sinau Bareng.

Hukum ditegakkan sejak awal, seorang panitia menegaskan dari atas panggung bahwa hadirin yang merokok diharap mengambil tempat di sisi luar gedung. Bentuk gedung PPKH yang terbuka, memang memungkinkan bagi orang yang berada di sisi luar untuk tetap menikmati sajian di dalam gedung.

“Sekali lagi, kami tidak melarang merokok. Tapi bagi yang mau merokok ada tempatnya,” ini bahasa hukum yang cukup bijak, menurut saya pribadi. Saya juga mengambil tempat di luaran. Saya merokok.

Dalam berbagai majelis Maiyahan, kita sudah sering terbiasa bandel-bandel, membongkar dan mendekonstruksi. Tapi orang Maiyah setahu saya biasanya suka tantangan. Biasanya kita menikmati kebersamaan di majelis Sinau Bareng dan Maiyah dengan kepulan asap rokok yang ingar-bingar, tapi kita sekarang punya tantangan baru untuk bagaimana menghargai sebentuk hukum yang berlaku dalam satu wilayah.

Mbah Nun beberapa kali mencontohkan pada kita, bahwa merokok atau tidak adalah pilihan. Kita juga sudah biasa membahas bahwa pelarangan rokok punya kepentingan di baliknya, tapi kita juga pasti bisa mengakui bahwa di balik industri rokok juga ada kepentingan. Orang Maiyah banyak yang merokok, tapi bukan berarti kita mewajib-wajibkan diri untuk merokok. Kemesraan biarlah cair, jangan dipadatkan.

Dalam berbagai kesempatan, Mbah Nun ketika berada di ruangan yang tidak memungkinkan untuk merokok juga bersikap menghargai pihak yang sedang menegakkan hukum dengan cara tidak merokok. Ada pesan yang kuat di situ, terserah bagaimana pembaca yang budiman memaknainya. Kalau saya memaknai bahwa, kita bisa saja (dan mestinya) punya ribuan cara untuk berontak, tapi kita latihan bijaksana dengan menenteramkan hati pihak yang kita hadapi. Bisa?

Sepasang MC tampil ceria di panggung. Panggung yang hampir tak berjarak dengan hadirin, beberapa kata pengantar diberikan. Sepertinya memang Sinau Bareng ini juga dirangkaikan dengan kegiatan mahasiswa muslim, semacam muslim fair atau apa gitu ya? Maaf saya tadi sambil nulis, malah keluputan.

Peta pergerakan Islam memang sudah jauh berbeda dari sekitar sepuluh-dua puluh tahun lalu. Generasi muda Islam baru yang tumbuh ini ingin mencercapi Islam dari beragam cara, fenomena hijrah dalam fashion, hijrah dalam olah kesehatan, pop culture dan sebagainya.

Keluputan kaum Islamis tradisional (kalau memang masih mau pakai istilah lawas itu) kita adalah mereka gagal menjadi panutan keren dalam pop culture. Itu saja sebenarnya.

Sinau Bareng masih punya potensi didekati dari berbagai sisi ini: Hukum tapi jiwanya berontak, tradisionalis tapi tetap ajang gaul dalam pop culture, anarkis walau nasionalis, tasawuf sekalian fundamentalis. Ragam sisi pandang dalam Sinau Bareng inilah, yang mungkin juga akan berguna bagi adik-adik kita yang setelah lulus nanti akan jadi praktisi hukum. Keragaman sudut, sisi, jarak dan pixel pandang dalam membaca ayat dan hukum-hukum.