Generasi Pribumi Digital dan Sinau Bareng

Liputan Sinau Bareng CNKK di Polres Kediri, 5 Juli 2018

Malam mulai naik, saya belum bisa beranjak dari warung. Yah, reportase di caknun.com ini ada jalan sunyinya sendiri. Saya pengen dapat narsum, tapi tampakmya asam lambung sedikit naik akibat formula semangkok rawon dengan sambal super pedas plus dua cangkir kopi hitam.

Warung tempat saya memantau acara Sinau Bareng Cak Nun KiaiKanjeng di halaman belakang Polres Kediri, mulai padat. Kursi di depan meja saya tiba-tiba sudah diisi oleh dua pemuda, salah satunya mengenakan peci putih merah (atau merah-putih, tergantung lihatnya dari mana) yang akrab bagi para Jamaah Maiyah. 

Eka dan Teguh namanya, dari Jombang berangkat motoran berdua. Itu saya tahu setelah saya buka obrolan singkat. Rupanya masih sangat belia, baru tingkat akhir di SMKN 3 Jombang.

Saya sempat tanya apa memang nyantri? Ternyata bukan, mereka siswa biasa. Hanya mungkin karena kultur lokal yang lekat dengan ke-santri-an, mereka akrab dengan majelis-majelis sholawatan dan pengajian.

Baru dua kali Maiyahan, kata mereka pertama kali waktu Menyorong Rembulan.

“Kenapa kok datang ke Padhangmbulan waktu itu?”, tanya saya. Jawaban mereka kompak, penasaran. Karena biasanya Maiyahan via YouTube. Tentu yang mereka maksud yang channel resmi, bukan video Maiyahan potong-potong dengan judul bombastis menjual. Maiyah ndak perlu berlaku seperti ideologi yang haus disebar-sebar dengan cara kompromis selera pasar. Ndak, ilmu dan pemahaman ketemu dengan personnya juga adalah jodoh, kita manusia ndak perlu terlalu ngoyo memaham-mahamkan orang.

Yang saya perhatikan belakangan, wacana di Maiyah tampaknya banyak berjodoh dengan generasi-generasi muda belia begini. Tidak hanya di Kediri saya ketemu generasi Maiyah seperti Teguh dan Eka. Hampir di banyak tempat. Generasi yang menurut Marc Prensky, diklasifikasikan sebagai Digital Natives. Cirinya ya itu awal Maiyahan lewat YouTube. Belajar banyak hal dari internet. Mereka lahir makbedunduk, internet sudah jadi kewajaran.

Kenapa Maiyahan? Tanya saya, agak nantang. Jawaban apa sih yang akan saya dapat? Lucu? Ringan? Pengin makrifat? Atau yang semacam-semacam itu?

Silih berganti jawaban Eka dan Teguh. Dan saya sedikit terkejut, “Di Maiyah belajar hidup itu sendiri”. What? Usia berapa ya saya mulai mikir sinau urip? Anak sekarang sudah mikir hidup dan kehidupan sejak belasan?

“Beragam bidang ilmu bisa didapat pintunya di Maiyah”.

Mau tidak mau saya merangkum dengan bahasa sendiri, artikel Marc Prensky yang terbit pada 2001 lalu soal Digital Immigrants (imigran era digital) dan Digital Natives (pribumi era digital).

Bahwa mereka, generasi Digital Natives punya proses belajarnya sendiri. Kita yang masuk dalam kategori Digital Immigrants, kadang memaksakan proses seperti yang dulu kita dapat (itu ‘logat’ dari tanah yang ditinggalkan). Kita pikir, untuk belajar matematika misalnya, orang harus menguasai dulu penjumlahan, pengurangan, pengalian, pembagian baru menuju ke desimal, diagram ven dan seterusnya. Pada generasi Digital Natives atau Pribumi Digital ini, mereka bisa saja belum dapat materi soal dasar itu, tapi sudah ke (misal) sin, cos, tan dllsb, yang menurut kita hitungan-hitungan tingkat lanjut.

Kok bisa? Karena struktur otak generasi ini lebih banyak berpikir nuansa. Hal yang memang perlu dipelajari, akan dikejar dengan sendirinya dalam simulasi pikiran mereka. Kita suka bicara proses, mereka juga berproses tapi tahapan proses mereka berbeda, jelas jauh dari yang pernah kita bayangkan.

Pola pikir nuansa ketimbang struktur logis itu yang membuat mereka lebih bisa menerima kalau dalam satu pertemuan sajiannya prasmanan berbagai bidang, ketimbang konsentrasi satu bidang, satu kitab, per bab, dengan tahapan-tahapan dan kelas-kelas mudah ke sulit. Mereka tidak berpikir dari bawah ke atas, cara pikir mereka bekerja meluas dan ke dalam.

Nuansa itu mungkin intinya.

Jauh-jauh hari di Maiyahan yang dibangun bukan melulu keilmuan salah-benar. Tapi nuansa dulu. Senang dan bahagia. Itu mungkin maksud belajar hidup dari dua generasi pribumi digital yang semeja dengan saya.

Dengan nuansa itu, berbagai kunci ragam bidang terbuka. Belajar jadi gembira, pada generasi ini mereka tidak bisa menerima konsep harus takdhim hanya karena tua atau sepuh (untuk budaya kita, menurut saya kita perlu hati-hati di sini). Generasi pribumi digital akan memilih orang yang layak menerima penghormatan mereka berdasarkan seberapa relevan orang itu dihormati. Buat kita yang generasi muhajirin digital, ini menyeramkan. Di dunia maya tampak gejala beberapa generasi seusia (dan yang lebih tua) dari saya mencoba meneguhkan relasi kuasa mereka dengan berbagai cara.

Mulai dari romantisme pengalaman (“zamanku lebih baik, anak sekarang manja”), atau dengan legitimasi ilmu (“jangan belajar bidang ini kalau belum khatam kitab nganu”), dan banyak lagi bentuk pembentengan relasi kuasa itu. Tapi sia-sia, karena bukan itu yang generasi pribumi digital butuhkan. Ini disebut oleh Prensky sebagai imigran digital yang logatnya masih kental di tanah yang baru. Generasi pribumi digital, mereka butuh nuansa belajar yang asik, yang senang yang berjodoh gelombang dengan struktur berpikir mereka.

Yang saya sukuri, generasi pribumi digital ini menemukan Maiyah. Generasi Maiyah. Oiya, bukankah dalam Islam kita bukan memakai pribumi dan imigran, melainkan muhajirin dan anshor? Semoga bisa kita elaborasi lebih jauh soal ini. Jadi mesti ada yang berperan sebagai penolongnya si digital immigrant kan? Kita yang non-pribumi digital ini yang paling butuh pertolongan mungkin.

Pembacaan atas artikel Prensky yang saya jadikan lambaran di tulisan ini hanya seingat-ingat saya dan kemungkinan lebih berat ke nuansa artikelnya daripada isi aslinya. Dengan kata lain, itu adalah tadabbur bebas saya. Jadi sangat mungkin pembaca yang budiman punya pembacaan yang berbeda. Nah, saya juga berpikir nuansa? Rasanya saya cukup bangga bisa mengaku sebagai generasi zaman now alias generasi pribumi digital. Maunya sih begitu.

Lihat lokasi tempat Sinau Bareng mulai padat. Ini catatan anggaplah sebagai selingan saja sambil menunggu acara dimulai.

Malam mulai naik, saya belum bisa beranjak dari warung. Yah, reportase di caknun.com ini ada jalan sunyinya sendiri. Saya pengen dapat narsum, tapi tampakmya asam lambung sedikit naik akibat formula semangkok rawon dengan sambal super pedas plus dua cangkir kopi hitam. Warung tempat saya memantau…