Generasi Maiyah Menggembleng Diri Menampungi Ruang

Catatan Singkat Sinau Bareng “Doa Bersama dan Deklarasi Damai Pilkada Jatim”, Surabaya 26 Juni 2018 - Bagian 1

Hari ini tanggal 27 Juni 2018 M, Pilkada dilaksanakan serentak. Provinsi Jawa Timur, tentu juga tidak mau ketinggalan. Pembagian provinsi, ruang administrasi, rasanya adalah bahasan yang sudah selesai di Maiyah. Maksudnya Maiyah tidak terkurung pada batasan-batasan provinsi atau negara. Karenanya tidak ada Maiyah pusat, Maiyah cabang provinsi, kabupaten, kecamatan dan sejenisnya walaupun kalau ada juga tak apa. Lingkar-lingkar yang lahir dari rahim kebersamaan di Maiyah tidak berazas batas-batas administrasi negara. Namun, di Maiyah kita belajar untuk menampung hal yang kita sudah selesai dengannya. Termasuk menampung ruang itu sendiri.

KPU Provinsi Jawa Timur, butuh sosok yang bisa menampung. Sementara di dunia maya, sebaran-sebaran anjuran, hujatan, hoax bertebaran. Selama manusia hanyalah perabot dari ruang, selama tidak ada keluasan menampung, maka perabot-perabot yang berebutan tempat pada ruang sempit bernama dunia, apalagi sekadar NKRI ini, punya potensi saling bertubrukan sehingga terpecah belah.

“Doa Bersama Dan Deklarasi Pilkada Damai Dalam Rangka Pilgub Jatim Guyub Rukun 2018”, begitu kalimat yang dipilih oleh KPU Provinsi Jawa Timur sebagai tajuk acara tadi malam. Apakah KPU sendiri sebagai panitia merasa Pilkada maupun pemilihan-pemilihan lain adalah sumber perbenturan dan keterpecahan? Entah, namun kemampuan meruang inilah yang sangat dibutuhkan sekarang. Mbah Nun dengan telaten dan sabar membimbing sejak acara dimulakan.

Ada FBM, Forum Beda tapi Mesra yang berisi tokoh dari berbagai agama: Kristen, Buddha, Hindu, Aliran Kepercayaan dan Kiai. Masing-masing oleh Mbah Nun dipersilakan mendoakan segala yang terbaik. Tentu dengan cara berdoa masing-masing agama. Dengan bahasa yang otentik kepercayaannya sendiri tanpa perlu meniru agama lain yang bukan dirinya.

Jamaah juga dipersilakan oleh Mbah Nun untuk mengambil keputusan sendiri-sendiri, apakah mau mengamini dalam hati atau dengan bersuara, atau apapun yang sesuai tafsirnya sendiri-sendiri. Generasi Maiyah, digembleng untuk tidak tergantung pada keputusan agamawan, komandan mazhab, kiai, ustadz atau apapun. Dan sekaligus juga meruangi segala macam itu. Tidak anti ini-itu namun menerima semua sebagai tambahan variabel perhitungan dalam diri.

Mbah Nun sendiri ketika dipersilakan memulakan, mengucapkan “assalamualaikum” selayaknya tradisi Islam. Mbah Nun menekankan, kita perlu menjadi ruang satu sama lain. Jangan sempit, jangan demi tampak menghargai keberagaman lalu mengucap salam dengan berbagai tradisi agama. Padahal banyak yang bukan tradisi hariannya. Karena itu artinya kita masih memendam curiga bahwa kalau orang jadi dirinya sendiri, dia akan mengancam lainnya. Otentik dan meruang, dengan begitu kita meluas dan siaga dalam menampung segalanya. Bahkan menampung ruang dan waktu. (MZ Fadil)