Dusun Nangsri Golèk Aji Bebarengan

Reportase Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam Merti Dusun Nangsri, 18 April 2018

Warga desa di manapun, tak terkecuali dan utamanya warga Dusun Nangsri malam itu memang selalu memiliki modal sosial berupa keramahtamahan, kelapangan jiwa dalam menerima segala yang berbeda, unggah-ungguh dan tepa slira. Mbah Nun meneguhkan bahwa, manusia desa Jawa adalah manusia paling sinkretis. Sinkretis di sini bukan sinkretisme ala tukang campur aduk simbol-simbol agama ala spiritual new age yang belakangan marak di perkotaan. Manusia desa Jawa-Nusantara punya kemampuan mengolah segalanya dan menjadikannya menuju tauhid.

Sayangnya capaian peradaban itu tidak dipelajari oleh anaknya yang bernama negara. Negara adalah konsep baru, bahkan definisi apa-bagaimana itu negara pun disusun oleh mereka yang terlanjur tercemar pendidikan dan ideologi Eropa.

Mbah Nun menjelaskan, bahwa ada negara modern yang memutuskan beraliran politik kanan atau kapitalis yang prinsipnya rakyat bebas memilih berbicara apa saja, tapi makan cari sendiri-sendiri tanpa ditanggung negara. Satu sisi, ada negara modern yang dialiran kiri macam komunisme, yang prinsipnya kebutuhan rakyat ditanggung negara tapi rakyat jangan banyak bicara. NKRI adalah hasil penyatuan sempurna antar keduanya di mana hasilnya adalah; Rakyat jangan banyak bicara dan kebutuhan hidupnya silakan cari sendiri-sendiri.

Karena NKRI tidak belajar dari sesepuhnya, tidak “deso mowo coro negoro mowo toto”. Maka yang tampak dan lahir kemudian adalah kaum intelek-ideologi yang pintar-pintar tapi kurang melumrahi hidup apa adanya, pemerintahan yang adigang-adigung-adiguna serta rentetan daftar nama presiden-bukan-pemimpin yang ingah-ingih di hadapan investor dan merasa berjasa dengan pembangunan infrastruktur tanpa konteks.

Kita tak perlu jadi massa haters juga. Santai saja dengan semua itu, tidak perlu ikut keributan kubu lovers vs haters di luar sana. Mbah Nun mengajak untuk konsentrasi pada jati diri, khusyuk membimbing generasi muda karena “Harapan kita tinggal dua sekarang: Karang Taruna dan Remaja Masjid”. Di hadapan saya seorang bapak-bapak busananya khas golongan santri Islam Nusantara; peci dan sarungan, nilai plus pada jaket yang di bagian punggung bertuliskan “Indonesia Era Kemunduran” tampak akrab dengan seorang berseragam hansip.

Ada lewat dua orang (semoga tidak salah) perempuan, bercadar. Sapa-sapaan. Duduk ikut Sinau Bareng. Tak berbilang jumlahnya Mbah-Mbah uti dan ibu-ibu membawa anak kecil yang bebas riang saja dis ekitar lokasi Sinau Bareng. Itu saat saya sadar bahwa obrolan tadi dengan Mas Arif bisa dituangkan dalam tulisan, eh beliaunya sudah hilang. Saya cuma sempat liat beliau dari kejauhan, sambil minta izin dari dalam hati, moga-moga diizinkan.

Suasana Sinau Bareng lebih didominasi kegembiraan. Permainan dolanan jamuran membawa keriangan masa kecil di mana segala hal masih sangat sederhana, murni dan apa adanya. Jawa menurut Mbah Nun adalah peradaban yang sudah puncak dan kemudian Islam datang memberi cap penyempurna, seperti tumbu ketemu tutup. Kesalahkaprahan intelektual modern, dianggapnya Jawa itu satu nama suku di antara beribu-ribu suku di Nusantara sehingga dikatakan interculture dan intertribal.

Padahal konsep Nusantara adalah, Jawa ya Bugis, ya Minang, ya Sunda, ya Ternate, ya modern, ya tradisi, ya Persia, ya Yunani, ya ini ya itu manunggal gathuk-gathuk udak-aduk kebyur kawula gusti tan kinoyo ngopo tan keno kiniro. Jadi Nusantara kalau di zoom out. Maka kalau ada term “anti Jawa centris”, itu pasti sudah lipatan persoalan kesalahan pikir modernitas yatim budaya, yang tidak murni asal tanah-lautan, udik-hilirnya.

Situasi kita belakangan sangat penuh himpitan pertengkaran, kesempitan memadat dan saling berbenturan, bertengkar atas pembelaan terhadap tokoh yang tidak kita kenal juga kalibernya, ideolog yang entah asal muasalnya, caci-maki berbalut bunga kata. Sementara rudal-rudal santet investor luar telah selalu mengarah ke tanah kita, kalau ada pajangan wayang Werkudoro di kapal USS Shenzou dalam seri Star Trek paling akhir (Star Trek Discovery, tahun 2016), jangan langsung dianggap budaya kita sedang dihargai oleh Hollywood, karena lebih besar kemungkinan bahwa budaya kita sedang jadi incaran untuk jadi bahan dagangan.

Hampir bisa dibilang, keilmuan kota-sekolahan-modern tidak bisa lagi mengatasi persoalan. Maka itu Merti Dusun seperti yang dialami Dusun Nangsri Sinau Bareng, golek aji bebarengan sangat diperlukan. Bukan sekadar ilmu, tapi mempertahankan nuansa kebersamaan yang murni tanpa embel-embel kepentingan dangkal. (MZ Fadil)