Dipimpin Maiyah

Pernah merasa sangat apes telah lahir, tinggal, dan mungkin kelak mati di Indonesia? Mungkin itu kesimpulan saya setelah belasan tahun bergaul dengan sistem “Dasamuka”. Atau pernah mantap untuk “a” dalam artian apapun? Mulai dari a-gnostik lalu a-theis berdampak a-patis, a-sosial, sampai a-jal di depan mata. Cobalah berkenalan dengan Maiyah.

Misal dari buku seputar Markesot, saya menyeburkan diri ke fase “mbambung”. Maiyah saya resapi sebagai gaya hidup. Memang awalnya pesimis bisa digunakan di keseharian, tapi alah bisa karena biasa“. “Mbambung” bisa diistilahkan “adaptif”, menjadi Muhajirin yang mengungsi sekaligus Anshor yang menjamu tamu. Menampung entah pelarian dari Indonesia ataupun melayani Indonesia tak jadi soal.

Jelas terasa sial hidup di zaman now yang diracuni “micin dan plastik”. Parahnya, zaman di mana nafsu dijadikan sebagai panglima. Kebanyakan orang ikut-ikutan tren memerankan lakon yang bukan keahliannya. Tapi karena mabuk keinginan, mereka memaksa melakoni secara sembrono. Mirip kesurupan, semua dilakukan tanpa sadar. Di tengah keputusasaan pada situasi dan kondisi semacam itu, Maiyah menantang untuk menghindari kita ikut-ikutan mabuk. Kecuali jika kita mengklaim diri sehebat ikan yang tidak lantas menjadi asin walau tinggal di lautan.

Dari Gelapan Menuju Terang

Langkah ternekat saya tapi praktis menjalani gaya hidup Maiyah adalah keluar masuk bermacam profesi. Dari kelas atas sampai bawah, murni pakai otak atau otot. Titik-titik ekstrem dalam mencari sesuap nasi saya coba satu persatu. Sampai akhirnya saya memproklamirkan pecat diri dari berbagai peluang yang menawarkan kemegahan istana Firaun, kekayaan Qarun, ketenaran Namrud, dan kecantikan Ratu Bilqis. Saya menjadikan “celana kotor tidak bisa disucikan dengan air kencing” sebagai prinsip.

Berat di awal, ringan setelah menjadi kebiasaan di keseharian. Mungkin dulu ada yang dengan enteng menyodorkan proposal mengumbar aib negeri dengan dalih penelitian ke pihak asing, melobi pejabat negara hanya untuk melakukan kewajiban atas gaji yang diterima, sampai mempermak citra sesuatu yang buruk hingga mendekati suci. Semua dilakukan dengan bangga berkedok profesional. Mematikan simpati-empati. Anehnya, mereka tak pernah merasa salah lantaran ibadah wajib rajin dilakukan, bahkan sunnah pun jarang ditinggalkan. Bahkan dicap jadi segelintir yang masih menghamba Tuhan di kerumunan penganut agama tapi malas menunaikan kewajiban.

Kini meski melakukan hal yang dianggap remeh oleh lingkaran terdahulu, apakah hati merasa biasa saja? Termasuk ketika pandangan dan omongan menyelepelekan terlihat dan terdengar. Yang penting “asal Tuhan tak marah padaku”. Dulu materi menjadi patokan gengsi, saat ini tak paham apa itu gengsi. Mencoba secara perlahan jalan Maiyah di mana derita dijadikan batu tapal perjalanan menuju Tuhan. Saya menghibur istri dan anak ketika kebutuhan dunia mendesak dengan “Kanjeng Nabi Muhammad saja penderitaannya masih jauh dari ini”.

Kalimat yang diungkapkan hanya sebagai pelipur lara itu bisa jadi malah dipegang erat oleh keluarga. Saat tiba-tiba ego mencuat dan ingin kembali ke zaman jahiliyah, mereka bisa diingatkan pada tujuan berkeluarga dan hidup. Menapaki yang sejati, membangun fondasi masa depan generasi dengan yang murni. Godaan kemudahan di bidang materi sebagaimana masa silam tiba-tiba luruh ketika sadar bahwa semua itu tak dipandang Gusti Allah. Berkaca pada kawan-kawan yang harus mengorbankan keluarga, raga, batin, sampai akal sehatnya demi hal yang berbau dunia, seketika ambisi menciut.

Bergaya Hidup Maiyah

Inilah tali kekang untuk kuda yang penuh nafsu yang memberi batasan-batasan agar tak kebablasan. Saya mengikuti ngaji kitab yang membahas ibadah walau pernah sengaja saya tinggalkan untuk dikaji sedari lepas dari bangku SMA. Saya memilih berkelana dengan ilmu duniawi dibanding memperketat perjalanan ruhani. Dalam ngaji rutin seputar ibadah akan ditemukan konsep dan praktik Maiyah yang sangat keras kepada diri sendiri, tentu tanpa melupakan tujuan untuk berbahagia.

Sadar diri sebagai santri yang telat belajar teks agama, saya harus memosisikan diri sebagai yang paling bodoh. Kalau hanya bisa merangkai kata, itupun dirasa berantakan, saya melaksanakan untuk mengikat ilmu. Saya menjalani nasehat Guru Ali bin Abi Thalib untuk menuliskan pengetahuan-pengalaman yang didapat. Oleh karena ingatan yang lemah, simpanlah di awan Google, Facebook, Twitter, dan beberapa portal. Setidaknya dari yang kecil itu bisa dicicil untuk dilakoni.

Sebelum hijrah dalam hal apapun saja, tempat maupun niat, adakan kesepakatan dengan Tuhan. Jika digariskan pindah fisik maka yang akan lebih dipakai adalah otak, lain jika hanya hijrah pola pikir, otot didahulukan. Bisa berlaku sebaliknya. Nanti meski mustahil secara logika matematis pasti bisa terwujud, Gusti Allah ber-kunfayakun. Jadilah ke manapun pergi membawa alat tulis untuk merangkai benang merah di otak. A-Ndil-Allah, niscaya tak pernah kehabisan pekerjaan dan kegiatan.

Memang penuh derita bergaya hidup Maiyah. Contohnya, sukarela menolak fasilitas roda empat yang ditawarkan sebuah NGO kelas dunia hanya untuk jaga netralitas. Merasa senang, tenang, dan baik-baik saja meski harus kehujanan, kedinginan, dan kepanasan di atas kuda besi butut. Misalkan dulu harus meng-handle area Sumatera-Jawa dengan kaki tangan yang siap ke manapun pergi jam berapapun, kini harus melakukan apapun sendirian. Konsep kepemimpinan yang didapat dari pelatihan-pelatihan berbayar juga semestinya terpakai untuk memanajemeni diri, istri, dan anak.

Tidak Ingin Menjadi Siapa-Siapa

Menginjak bangku kuliah, visi besar mahasiswa biasanya hanya jadi “seseorang” di bidang keilmuan yang ditekuni. Setelah bergaya hidup Maiyah, bisa dicoba bergeser cuma untuk melayani Gusti Allah. Tinggal pilih sesuai dengan ketepatan momentum. Kadangkala pendekatan syariat lebih terasa pas daripada ma’rifat, dan sebaliknya. Pernah mengabdi pada Gusti Allah sebagai pedagang, makelar, kuli, dan petani, kini terima serabutan sesuai tuntutan masa dan massa untuk menghayati kehidupan.

Saat keputusan yang diambil disalahkan banyak pihak, saya kembalikan kepada “pancer” yaitu Gusti Allah. Ijtihad atau cara yang saya ambil berdasarkan bekal pengetahuan-pengalaman baik Qur`an, Sunnah dan Sirah Rasul, juga pandangan para ulama. Andai kemudian keputusan saya tidak sesuai dengan bekal tersebut, saya harus menarik ide yang terlontar dari lisan maupun tulisan. Saya mencoba berhati-hati tidak hanya kepada “bisikan jin dan manusia” tapi juga bersitan gagasan di dalam diri. Inilah jihad terbesar dalam Islam yang menjadi prinsip dasar Maiyah.

Melihat tadabbur saya atas Maiyah ini tentu timbulkan pertanyaan “apa sebenarnya Maiyah? Kenapa saya sebut sebagai gaya hidup?” Sangat mungkin saya salah terkam kepada tajuk yang Mbah Nun tulis dengan judul “Kepemimpinan Hidup Warga Negeri Maiyah”. Tapi inilah upaya saya memahami Maiyah. Sebagai seseorang yang tergoda menjajal banyak gaya hidup, Maiyah adalah pilihan paling masuk akal di zaman konyol ini. Kalau Maiyah ini adalah sebuah negeri, saya hanya bisa berharap dimasukkan sebagai salah satu warganya.

Pernah merasa sangat apes telah lahir, tinggal, dan mungkin kelak mati di Indonesia? Mungkin itu kesimpulan saya setelah belasan tahun bergaul dengan sistem “Dasamuka”. Atau pernah mantap untuk “a” dalam artian apapun? Mulai dari a-gnostik lalu a-theis berdampak a-patis, a-sosial, sampai a-jal di…