Berpegang Tali Keseimbangan dalam Meniti Jembatan Zaman

Cobak sebutna, ana ta gak sing slamet yen ora seimbang.” Entah kenapa, sepatah kalimat tanya yang dilemparkan Mbah Nun di lapangan Polinema malam itu masih saja terngiang-ngiang. Coba sebutkan, adakah keselamatan yang tak berakar dari keseimbangan. Bahwa kenyataannya, saya pun memang belum menemukan, sesuatu bisa berjalan dengan normal ataupun bisa selamat, jika ia tidak dalam keadaan seimbang. Naik sepeda, berjalan di atas jembatan bambu yang memang terbuat hanya dari sebatang bambu, atau apapun saja, semua membutuhkan keseimbangan.

Kunci Keseimbangan

Di awal Sinau Bareng malam itu pun, Mbah Nun juga sempat menyinggung tentang posisi duduk yang seimbang. Seperti yang selama ini dipraktikkan Mbah Nun dalam setiap Maiyahan. Punggung tegak, tidak membungkuk. Ini hanyalah satu di antara beberapa cara untuk berusaha menjaga keseimbangan. Tak heran, beliau pun betah duduk berjam-jam sampai selesai Maiyahan. Ndak ngantuk. Tidak ada alarm protes dari dalam tubuhnya.

Dan sayup-sayup saya pun jadi ingat bisikan teman saya yang sempat ngomel-ngomel sendiri membaca lembaran-lembaran kertasnya. Sepertinya dia tengah diajak bercanda sama yang namanya persamaan fungsional. Dari omelannya itu, saya pun sempat menangkap, bahwa ternyata persamaan fungsional itu bisa diaplikasikan jika ia telah terbukti seimbang, stabil.

Kalau tidak salah tangkap, persamaan fungsional itu semacam formula atau persamaan umum, yang nantinya bisa diberikan inputan. Persamaan fungsioal ini biasanya dimanfaatkan oleh orang-orang teknik. Dengan catatan, persamaan fungsional apapun saja, ia tidak akan bisa diaplikasikan selama ia masih belum terbukti keseimbangannya. Artinya, hanya persamaan fungsional yang seimbang sajalah yang bisa digunakan dan dimanfaatkan.

Tiba-tiba saya pun diajak menyelami ke dalam diri saya sendiri. Mungkin ini yang menjadi satu di antara alasan-alasan yang ada, bahwa selama ini saya pun juga demikian. Saya belum bisa totalitas, ataupun sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu ketika hati dan pikiran saya belum seimbang. Dalam menulis pun juga begitu. Tak jarang saya sudah sempat melihat bayangan yang menari-nari di kepala saya, tapi saya pun belum bisa menuliskannya. Setiap kali saya mencoba, entah kenapa rasanya ndak enak. Ndak enak bagaimana? Ya, ya ndak enak. Tidak enak bagi saya. Perasaan tidak enak dalam diri saya. Jadi, kira-kira ya cuma saya saja yang merasakannya, hehehe.

Sedikit berkaca pada persamaan fungsional tadi, kalau lah persamaan fungsional itu bisa diaplikasikan dan hanya jika dalam keadaan seimbang, entah kenapa bayangan saya pun kembali tak bisa saya elakkan dari para pemuda dan semua jamaah yang duduk-duduk di atas lapangan berlumpur itu. Lapangan basah, genangan air, dan berlumpur jejak-jejak guyuran hujan barusan itu, tak sedikit pun menggentarkan hati mereka untuk tidak menyimak Sinau Bareng malam itu dengan penuh khidmat.

Rasanya, tidak mungkin mereka mau dan bisa menerima semua itu dengan legawa kalau mereka tidak dalam keadaan seimbang. Bisa jadi mereka akan lebih memilih kembali ke kamar kostnya, kembali ke rumahnya, ambil selimut dan menjalankan ritual tidurnya. Ini lebih asyik kalau hanya ingin sekadar memanjakan diri. Tapi kan kenyataannya mereka tidak demikian. Mereka lebih memilih basah-basahan, kehujanan, ndeprok di atas rerumputan menyimak Maiyahan.

Lagi-lagi, dugaan sementara saya, mereka bisa seperti itu karena telah dalam keadaan seimbang. Keseimbangan yang membuat seseorang bisa ditempatkan di manapun saja. Keseimbangan pula yang akan turut mengantarkan seseorang siap menerima dan diperjalankan ke manapun saja. Keseimbangan pula yang akan membuat seseorang bisa merasa lebih tenang. Kalau sudah menjadi bagian dari orang-orang yang berjiwa tenang, pantaslah ia menerima sapaan, “Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati ridla lagi diridlai. Dan kalau boleh menebak-nebak lagi, keseimbangan ini pula yang kelak menjadi kunci, yang akan turut membersamai kita dalam meniti jembatan zaman, jembatan shirothol mustaqiim, hingga akhirnya akan mengantarkan kita pada keselamatan yang sejati.

Mengenal Batasan

Berbicara masalah keseimbangan, tentu ini tak akan bisa dipisahkan dari yang namanya batasan. Batasan diperlukan untuk mengukur bagaimana dan seperti apa keseimbangan yang dimaksudkan. Semakin kabur batasan yang ada, semakin sulit pula kita mengenali titik keseimbangannya.

Malam itu, Mbah Nun bersama para narasumber mengajak jamaah untuk mengenali batasan. Dimulai dari yang paling sederhana, keseimbangan beberapa kata yang kita pun tak asing lagi dalam mengucapkannya. Kata yang tampak paling sederhana ini pun, hari ini mulai jauh dari titik kesetimbangannya. Mulai banyak kata-kata yang dipergunakan tidak sesuai dengan makna dan tujuan aslinya. Tidak sedikit kata yang hari ini mulai mengalami pergeseran makna. Atau, memang karena sebagian dari kita yang mulai menyalahartikannya.

Cinta misalnya. Dalam diskusi yang mencoba mencari keseimbangan kata itu, dokter Chris, salah satu narasumber malam itu pun mencoba sedikit memaparkan keseimbangan dari kata cinta. Menurut dokter Chris, hari ini sebagian kita mulai tidak sedikit yang salah dalam mengartikan cinta. Bahwa cinta, menurut mereka, adalah tentang take and give, saling memberi dan menerima. Sedang menurut dokter Chris, saling memberi dan menerima adalah prinsip dari transaksional, prinsipnya orang-orang yang bertansaksi. Berlomba untuk saling memberi, saling melayani, itulah  cinta. Dan malah bukannya berlomba untuk saling meminta dan menerima. Karena berlomba saling meminta, itu hanya ada pada orang-orang yang hanya ingin merampok saja.

Kata memang tampak sangat sederhana. Akan tetapi, jika kita melihatnya dari sebuah proses, satu kata saja, itu akan terlihat sangat tidak sederhana, sangat kompleks.

Dimulai dari bagaimana sosok manusia bisa mengucapkan kata. Bagaimana kecanggihan dan keruwetan otak manusia yang sampai akhirnya bisa membunyikan sebuah kata. Hingga bagaimana sebuah kata bisa memengaruhi perilaku dan kebudayaan manusia.

Hal-hal yang terkadang tampak sederhana, nyatanya mengandung suatu kerumitan juga. Sesuatu yang kelihatannya mempunyai pengaruh besar, nyatanya berawal dari sesuatu yang sederhana juga. Mungkin ini juga yang menjadikan alasan, mengapa malam itu jamaah diajak mencari keseimbangan dari sebuah kata. Mencari keseimbangan mulai dari sesuatu yang tampak sederhana dan biasa saja. Hingga semoga, keseimbangan dari sesuatu yang tampak sederhana itu, nantinya bisa menjadi dasar kita untuk mencari dan menemukan keseimbangan-keseimbangan yang selanjutnya.

“Cobak sebutna, ana ta gak sing slamet yen ora seimbang.” Entah kenapa, sepatah kalimat tanya yang dilemparkan Mbah Nun di lapangan Polinema malam itu…