Antara Cak Nun, Maiyah, Go-Jek, dan Disrupsi Gerakan Sosial Keagamaan

Makalah untuk Simposium Regional "Decoding The Labyrinth of Conflict", Unair, 29 November 2018 (bagian 1/3)

Gerakan Sosial Keagamaan dalam Dekade Disrupsi

Disrupsi, menurut kamus besar bahasa Indonesia memiliki arti: hal tercerabut dari akar. Dalam kehidupan sehari-hari, disrupsi dimaknai secara lebih luas sebagai “sedang terjadi perubahan secara mendasar”. Disrupsi atau sedang berlangsungnya perubahan yang sangat mendasar itu umumnya dikaitkan dengan perubahan model bisnis yang didukung oleh perkembangan sangat cepat teknologi informasi dan internet. Perubahan model bisnis ini serta merta telah mengacaukan lanskap bisnis yang selama ini mapan.

Tak kurang, hal itu menyebabkan banyak bisnis besar yang berjaya selama puluhan tahun mendadak rontok. Ada beberapa model bisnis baru yang bisa diambil sebagai contoh bisnis yang mengacaukan kemapanan model bisnis konvensional. Misalnya: toko online Amazon, “perusahaan transportasi” Uber, Travel Agent “Traveloka”, dsb.

Amazon dan Uber dinilai sebagai perintis awal model bisnis baru yang berbasis online. Model bisnis keduanya kemudian dikembangkan oleh para pelaku bisnis muda di seluruh dunia dan dengan segera merontokkan bisnis-bisnis serupa yang telah mapan selama puluhan tahun.

Ambil contoh misalnya di Indonesia. Marketplace (pasar online) yang membanjiri Indonesia sejak Tokobagus (belakangan berubah menjadi OLX), Bukalapak, Tokopedia, mataharimall.com, Lazada, blibli, Sophee, dsb telah merontokkan Matahari dept. store dan Ramayana dept. store. Kedua ritel pakaian itu harus menutup beberapa gerainya karena tak sanggup lagi meladeni persaingan ketat dengan marketplace.

Dalam bisnis transportasi, Blue Bird, perusahaan taksi raksasa yang selama ini menjadi barometer taksi di Indonesia harus susah payah bersaing dengan Go-Car (salah satu layanan Go-Jek) dan Grab-Car. Setelah melalui ketegangan yang mengarah ke konflik terbuka antar pengemudi, akhirnya, Blue Bird harus bertekuk lutut di hadapan mereka berdua dengan masuk ke jaringan aplikasi mereka. Di bisnis travel agent, persoalannya juga serupa. Banyak travel agent yang terpaksa menutup usahanya karena kehadiran Traveloka.

Pertanyaan yang bisa diajukan kemudian adalah apakah kekacauan dalam dunia bisnis itu hanya berhenti dalam dunia bisnis saja ataukah bisa meluas ke bidang-bidang kehidupan lain? Apa sajakah yang berubah dari revolusi dunia bisnis seperti di atas? Apakah terbatas hanya pada metode atau cara bisnisnya, ataukah sekaligus mengubah pula cara berpikir dan perilaku bahkan mengubah karakter penggunanya?

Di “zaman now”, melalui internet, generasi milenial telah mendapatkan kemerdekaan, kedaulatan dan kesetaraan. Hal yang sulit dibayangkan akan diperoleh di masa pra-intenet. Melalui internet, setiap orang memiliki kebebasan berkomunikasi secara langsung dengan siapa pun, tanpa batas. Dengan internet, dunia menjadi flat. Bahkan, generasi “zaman now” bisa mengakses langsung presiden mereka melalui Twitter. Mereka bisa mengkritik, mendukung bahkan menghabisi kebijakan presiden di media sosial. Mereka berdaulat dalam berpikir dan bersikap dan tidak berada dalam tekanan siapa pun.

Setiap orang juga bisa memiliki “media”-nya sendiri, baik itu media tulis (blog pengganti koran dan majalah) maupun video (channel YouTube, pengganti TV). Komunikasi berbasis internet telah menghancurkan hambatan-hambatan struktural dan sosial dari komunikasi serta melepaskan orang dari kontrol “kekuasaan”. Baik itu kekuasaan politik maupun kekuasaan modal. Sebagai contoh, pada zaman pra internet, untuk menonton siaran langsung Liga Inggris, orang harus tunduk pada channel TV untuk menonton pertandingan tim yang ditayangkan oleh sebuah channel TV. Akan tetapi sekarang, orang bebas memilih pertandingan tim mana yang ingin ditonton melalui streaming.

Hal ini bisa terjadi akibat dari ekspansi internet yang sangat cepat, sehingga generasi saat ini bisa mengakses sumber-sumber informasi dan ilmu secara langsung serta melakukan pemaknaan secara merdeka tanpa perlu ada “perantara”. Kemudahan akses ini membangun nalar kritis generasi ini menjadi –semestinya–lebih baik. Segala kemudahan tersebut telah mengubah dengan mendasar cara berpikir, sikap dan perilaku generasi “zaman now”. Sehingga, diperlukan pendekatan baru untuk merespons perubahan karakter itu.

Demikian halnya dengan gerakan sosial keagamaan. Gerakan-gerakan sosial keagamaan yang telah mapan saat ini memerlukan pendekatan baru agar tetap eksis dan kehadirannya di zaman ini memiliki urgensi. Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, dua organisasi keagamaan dengan jumlah pengikut terbanyak di Indonesia pun berusaha meraih titik ekuilibrium baru sebagai respons atas perubahan zaman. Upaya-upaya menemukan ekuilibrium baru ini bisa dilihat misalnya dari inisiatif NU memperkenalkan konsep Islam Nusantara dan Muhammadiyah dengan Islam Berkemajuan.

Gagasan Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan merupakan salah satu upaya kedua organisasi sosial keagamaan tersebut untuk membangun narasi dan tetap berada di pusaran utama arus zaman. Lebih jauh, sebagai contoh, Muhammadiyah merekonstruksi kembali peran sosialnya dengan mengembangkan Muhammadiyah Disaster Manajemen Center (MDMC). MDMC sebagai lembaga yang bertumpu pada “solidaritas” dimaksudkan untuk membuat Muhammadiyah “hadir” di tengah-tengah masyarakat. Utamanya masyarakat yang sedang diterpa musibah. “Ingin terlibat dalam menangani persoalan sosial” merupakan salah satu karakter generasi zaman ini.

Buku Cak Nun