Surat Terbuka untuk Cak Nun

Aku melihat Indonesia di dalam dirimu.

Engkau berhasil membesarkan hati Bapak Soeharto untuk berkata “ora dadi presiden ora patheken”–di saat itu pula kamera dan media semakin fokus ke arahmu, namun Kau memutuskan untuk kembali pulang ke rumahmu: bersama rakyat, menyelesaikan persoalan sosial. Terima kasih telah menyadarkanku, bahwa menjadi kewajibanku untuk merangkul pundak dan memijit tangan mereka yang menderita hidupnya. Terima kasih telah menatarku bahwa untuk mengabdi pada negeri tidak harus menunggu menjadi pegawai negeri.

Sebetulnya pedih menhistoriografikan hidupmu. Bahkan sempat kesal dengan keputusan “Jalan Sunyi”-mu. Namun siapalah aku berani mendesakmu untuk mengetuk pintu setiap orang, termasuk pintu rumahku. Sadar, layaknya padi: semakin berisi semakin merunduk. Begitu pun dirimu. Berbagai program televisi ternama mengundangmu menjadi tamu, namun kau tolak. Terima kasih telah membelajarkanku bahwa sebagai manusia harus konsisten terhadap pilihannya. Terima kasih telah membukakan mataku bahwa menjadi moderat adalah suatu hal yang terhormat. Tidak berlindung pada suatu golongan. Berani mengkritik namun juga berani menyelamatkan. Bahkan tidak memanfaatkan peluang dalam ranah pemerintahan. Karena itu, aku melihat Garuda di dalam dirimu.

Terima kasih telah mengajariku, bahwa berada di atas bukanlah satu-satunya yang harus aku tuju. Karena kemerdekaan bukan tentang gedung megah yang disejukkan dengan air conditioner dan mobil mewah dengan dua pintu. Kemerdekaan adalah tentang hati dan pola pikir. Terima kasih telah mengingatkanku bahwa bukan seberapa panjang gamis dan kerudungku, tetapi output sosial dari sholatku.

Selamat Ulang Tahun, Mbah.

Semoga panjang umur dalam ketaatan dan wal afiat, agar ilmu yang begitu luas di dalam kalbumu bisa terus Kau bagikan melalui lisan dan tulisan.

Mbah, izinkan aku menyejarahkan dirimu untuk generasi penerus bangsamu.

Sabtu, 27 Mei 2017 / 1 Ramadhan 1438

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image