Sinergi Mens Sano In Corpore Sana, Sinergi Manusia yang Berjiwa Sehat

Catatan Sinau Bareng Nandur Kabecikan, HUT Kab. Tulungagung ke-812

Jalur Tulungagung adalah rute wajib yang selalu saya lewati menuju Trenggalek, baik ketika sambang mertua atau silaturrahim Idul Fitri. Saya juga lumayan akrab dengan situasi terminal Tulungagung. Pasalnya, waktu itu bus dari Jombang jarang sekali langsung ke Trenggalek. Soal kehidupan di terminal membawa ingatan saya pada tulisan Mbah Nun: Terminal adalah Universitas Paling Jujur.

Atas kemurahan hati sahabat saya di Ngujang Tulungagung, malam itu, menjelang Sinau Bareng di GOR Lembu Peteng, saya dibonceng menuju RSUD Tulungagung. Alhamdulillah, saya telat. Sedianya saya akan menulis catatan selama Mbah Nun berkeliling dari ruang ke ruang di RSUD dr. Iskak Tulungagung. Mbah Nun dan dr. Supriyanto Dharmoredjo, Sp. B, FINACS telah berada di ruang direktur.

Kesempatan saya berikutnya adalah menyimak Sinau Bareng Nandur Kabecikan dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Tulungagung ke-812. Di bahu jalan, jalur Tulungagung-Trenggalek, sekitar 500 meter menuju lokasi acara, parkir motor cukup padat dan berjubel. Demikian pula parkir di halaman GOR Lembu Peteng penuh oleh motor. Didominasi oleh anak-anak muda, tidak sedikit pula yang sarungan—saya perkirakan mereka adalah para santri—bergerak menuju satu pusaran yang sama: pusaran Sinau Bareng.

Hari jadi Kab. Tulungagung yang ke-812 dan ulang tahun RSUD dr. Iskak yang ke-100—ibarat pohon adalah pohon jati yang akar tunggangnya menghujam sangat dalam ke bumi. Diameter batangnya tidak cukup serangkulan lengan manusia. Rimbun ranting dan daunnya nyumambrah, mengayomi, menaungi manusia dan makhluk-makhluk lainnya.

Ditilik dari usianya Tulungagung bukan hanya kota “tua”. Tulunggagung bahkan sudah sangat ngoyot, berdiri tegak di bumi Nusantara. Gamblang sudah sikap pertanyaan Mbah Nun satu tahun lalu: “Indonesia harus belajar kepada Tulungagung. Kita ngemong Indonesia.”

Dalam konteks itu pula Mbah Nun mengajak kita ber-tahadduts bin-ni’mah. Bukan terutama untuk pamer atau riya, melainkan ungkapan rasa syukur dilangsungkan dengan saling berbagi, saling menginformasikan, saling mengabarkan apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kita.

Untuk itu diperlukan anatomi berpikir—belajar dari mekanisme organisme alam—yang menjadi salah satu bagian dari ayat kauniyah, selain ayat-ayat yang terdapat dalam diri manusia dan ayat-ayat tekstual yang tertulis di Al-Qur`an. Berpikir anatomis digambarkan cukup sederhana oleh Mbah Nun. Berpikir seperti anatomi kelapa—lengkap dan integral antara unsur bathok, serabut, kulit dan seterusnya. Setiap bagian unsur tersebut berlangsung kerja sama yang sinergetik.

Sayangnya, ayat-ayat kauniyah yang terhampar di alam semesta dan terkandung dalam diri setiap manusia jarang bahkan nyaris tidak dikenalkan kepada anak-anak. Ayat-ayat Allah Swt dipahami seakan-akan yang tertulis di Al-Qur`an saja. Padahal daun, angin, sungai, gunung, badai, banjir, tanah longsor adalah ayat-ayat Allah. Akibatnya, yang dimaksud khataman Qur`an terbatas pada upacara usai membaca teks secara bin-nadhor (melihat) atau bil-ghoib (hafalan).

Malam itu, Mbah Nun membuka cakrawala pengertian khotmil Qur`an yang tidak lazim dilakukan. “Ada orang khatam nglakoni Al-Qur`an. Satu surat atau satu ayat yang diamalkan secara istiqomah dan sungguh-sungguh juga pantas disebut khatam.” Pada konteks khatam nglakoni tersebut Tulungagung mensyukurinya: khataman sinergentik atas berlangsungnya kerja sama antar setiap komponen pemerintah yang mengabdikan dirinya untuk melayani rakyat.

Tidak menunggu lama. Intro musik shalawat KiaiKanjeng menyergap perhatian. Disusul suara Mbah Nun melantunkan shalawat Nabi, mengalirkan amr dan iradah yang segelombang: gelombang cinta dan rindu kepada Rasulullah. Di belakang panggung saya seperti dirangkul oleh nuansa-nada kegembiraan yang khusyuk. Musik KiaiKanjeng, lantunan shalawat Mbah Nun, jamaah yang duduk di atas panggung maupun yang tersebar di halaman barat GOR Lembu Peteng; serta tentu saja udara, angin, pohon, langit, bintang menyatu dalam harmoni orkestrasi kebersamaan. Kita sedang bersama Allah. Kita sedang bersama Rasulullah.

Gelombang saling sinergetik itu sesungguhnya mencerminkan keadaan faktual Tulungagung itu sendiri—dan Mbah Nun menangkap harmoni tersebut sehingga lantunan shalawat dan doa khatmil Qur`an di pembuka acara menemukan momentumnya. Itulah kaliber maestro—kata yang saya ingat dari Pak Joko Kamto. Sang maestro telah menemukan momentum yang tepat saat mengorkestrasi setiap unsur menjadi harmoni irama yang tidak hanya indah, tapi juga selamat dan menyelamatkan.

Bukan hanya itu. Secara detail Mbah Nun menguraikan unsur-unsur atau setiap bagian bisa merangkai dialektika sinergi. Berangkat dari analogi tangga nada: do, re, mi, dan seterusnya, semakin gamblang bagaimana sebuah sinergi dibentuk. Nada “do” dibunyikan dan disebut “do” bukan karena “do” itu sendiri. Apa maksudnya? “Do” akan menjadi “do” kalau dia memiliki interval nada dengan “re”, “mi” dan “fa”. Untuk menjadi dirinya, “do” memerlukan keber-ada-an dan sinergi dengan tangga nada berikutnya. Interval antar nada yang terukur akan menciptakan sinergitas.

Analogi yang cukup cantik. Prestasi RSUD dr. Iskak Tulungagung tidak terlepas dari saling keterkaitan yang komprehensif antar komponen pemerintahan sehingga terbangunlah aransemen yang cukup bagus. Sinergi tidak terutama bergantung pada ketentuan teknis dan regulasi sistem, melainkan secara dinamis saling bekerja sama sesuai maqam posisinya masing-masing.

Prestasi layanan kesehatan masyarakat yang bahkan jarang dijumpai di Eropa ini harus dalam naungan rabbun ghafur. “Buat apa sukses dan kaya kalau Allah tidak nyepuro? Puncak sukses di dunia adalah rabbun ghafur,” tegas Mbah Nun.

Upaya agar Allah nyepuro adalah tidak menyakiti hati hamba-hamba-Nya. Hal ini direfleksikan sekaligus diaplikasikan dalam stratifikasi urgensi layanan kesehatan. Bagi pasien yang sangat kritis dan memerlukan penanganan super cepat dalam hitungan menit, disediakan layanan Red Zone. Nol menit, istilahnya. Yang harus segera dilakukan pada detik itu juga adalah pasien harus segera diselamatkan.

Di bawah Red Zone disediakan layanan Yellow Zone, yakni pasien yang memerlukan perawatan segera dalam hitungan jam. Sedangkan pasien yang perlu dirawat dalam hitungan hari disediakan program Green Zone. Semua layanan kesehatan itu terintegrasi dalam aplikasi online yang mengerjasamakan setiap komponen pemerintahan.

Bagaimana sistem yang sudah terbangun ini kelak harus dijaga? Mana yang harus lebih kuat, manusia atau sistem? Kedua-duanya harus kuat. Kalau yang kuat sistemnya, sedangkan manusianya bermental tikus, mereka akan ngrakoti apa saja. Sebaliknya, kalau yang kuat manusianya, tapi sistemnya rusak, harapan terbangunnya harmoni sinergetik bagaikan pungguk merindukan bulan.

Maka, faktor primer untuk menata harmoni-sinergi adalah manusia. Fokus orientasi untuk menyelenggarakan sinergi ditentukan oleh kualitas manusia. Jadi, yang utama bukan mens sana in corpore sano. Sebuah kalimat dalam bahasa latin yang artinya “dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.”  Ini teori yang terbalik, karena dalam jiwa yang sehat terdapat badan yang kuat. Mens sano in corpore sana.

Kalau akal dan hati kita sehat, maka kita tidak sembrono dengan kesehatan. Badan yang kuat dan sehat muncul dari ide, aspirasi dan pemikiran yang benar, berasal dari jiwa yang sehat pula. Ditegaskan oleh Mbah Nun, teori mens sana in corpore sano yang terbalik itu lahir dari kandungan sekularisme-materialisme yang tidak menemukan hubungan antara bumi dan langit.

Malam itu butiran-butiran glepung diuraikan Mbah Nun. Mangan gak mangan sing penting kumpul adalah satu diantara mozaik butiran glepung itu. Bukan soal makan atau tidak makan, tapi berkumpulnya itu yang menopang terjalinnya kerja sama dan sinergi. Susah-senang, sedih bahagia, kita senantiasa bersinergi dalam kebaikan. Uraian-uraian yang cespleng dan logis.

Ribuan jamaah yang memadati area halaman sebelah barat GOR Lembu Peteng semakin malam semakin padat. Tepat di depan panggung seorang ibu ngipasi anaknya yang tidur. Anak-anak tidak rewel, tidak merengek, tidak menangis. Pemandangan yang kerap ditemukan di setiap acara Maiyahan. Semua itu adalah “ayat” yang apabila direfleksikan juga menyiratkan sebuah sinergi: anak dan ibu merasa aman, nyaman, dan gathuk dengan setiap butir-butir unsur yang terangkai di Maiyahan.

Maka atas semua nikmat sinergi itu tiada yang patut dilakukan kecuali bersyukur. Lagu “Syukur” yang dinyanyikan bersama di akhir acara, kembali menegaskan bahwa Allah telah menginstal jiwa kita dengan default-system kebahagiaan. Malam itu, jamaah kembali ke rumah masing-masing dengan membawa sangu butiran-butiran glepung—simbolisme cara berpikir dan bersikap yang mengakar; menikmati sangu gerojokan mata air kebahagiaan, dan esok pagi lahir kembali. Ringan tangan memberi pitulung sehingga Allah mengangkat mereka menjadi manusia yang agung. (Achmad Saifullah Syahid)

Jalur Tulungagung adalah rute wajib yang selalu saya lewati menuju Trenggalek, baik ketika sambang mertua atau silaturrahim Idul Fitri. Saya juga lumayan…