Rumah Maiyah, Anugerah yang Penuh Berkah

Adakah tempat paling teduh untuk sekadar berlindung dari terik matahari selain rumah. Adakah tempat paling aman dan nyaman untuk sekadar berteduh dari dinginnya hujan selain rumah. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang bisa kita dustakan, jika sampai detik ini, kita pun masih dipinjami rumah, tempat singgah untuk sekadar melepas lelah. Sedang di luar sana, tak sedikit yang masih harus berjuang menahan ganasnya terik siang hari dan dinginnya angin malam di luar rumah.

Terlebih hari ini kita sedang menghadapi musim yang agak rewel. Musim yang seolah tak mengenal arah dan wayah. Sungguh, betapa tak mudah bertahan di tengah segala kekalutannya, jika kita tiada rumah yang akan menaungi kita. Betapa tidak sedikit energi yang kita butuhkan untuk sekadar menghadapi segala ketidakpastian, terlebih jika kita tiada tempat meminta perlindungan. Kita harus compang-camping ke sana ke sini menghadapi segala ketidakpastian alam.

Rumah itu Bernama Maiyah

Pun juga dengan situasi nasional kita hari ini. Alam nasional kita juga sedang menghadapi musim yang semakin ngeri di berbagai sisi. Mulai dari pendidikan kita, harga cabai di pasar, tarif listrik, dunia perpolitikan, sampai para pejabat yang kita gaji itu tak jarang menambah daftar ‘guyonan’ kita. Semua itu bagaikan hujan deras yang tak bosan mengguyuri kita.

Tiba-tiba saja imajinasi ini singgah pada sosok Maiyah. Mata ini kembali melihat wajah-wajah ribuan jamaah yang selalu tampak sumringah saat bermaiyah. Mereka tak bosan-bosan menghadapkan wajah mereka kepada Mbah Nun dan siapa pun saja yang tengah berbicara di panggung Maiyahan. Sama sekali tak pernah mata ini menangkap rona kesedihan di wajah para jamaah. Seberapapun berat persoalan hidup mereka, selalu saja mereka bisa tertawa bersama. Wajah mereka selalu tampak adem di sana.

Dan di sini, saya merasa bahwa Mbah Nun selalu tidak pernah tega dengan siapa pun saja. Beliau sangat tidak tega melihat orang lain menderita. Hingga tak jarang beliau memberikan guyonan-guyonan di tengah pengajian Maiyahan. Beliau menghibur dan membesarkan hati para jamaah yang kesepian dan juga dipermainkan sekelompok orang.

Maiyah sudah serasa rumah bagi para jamaah. Di Maiyah kita kembali pulang, melepas kepenatan di tengah menghadapi segala kerupekan persoalan di luar sana. Di maiyah pula kita bisa benar-benar merasa merdeka. Kita bebas mengekspresikan diri sesuka hati kita. Tanpa ada topeng-topeng yang harus kita pasang di masing-masing wajah kita.

Rumah Maiyah tak bosan-bosan membanjiri para jamaah dengan tulusnya kasih sayang. Saat di luar sana, betapa tak mudah kita mencari segala apa yang tulus. Hampir di banyak bidang, apapun saja, kita mulai kesulitan menemukan orang-orang yang benar-benar memberikan pelayanan yang didasari keikhlasan. Seringkali yang ada hanya sebuah transaksi kaku, hanya memerhatikan untung dan rugi dari sesuatu itu.

Tak hanya itu, di ‘Rumah Maiyah’, para jamaah juga mendapatkan banyak ilmu dan wejangan-wejangan kehidupan. Yang nantinya, semua itu kita jadikan bekal untuk menghadapi segala apa di luar rumah kita. Di rumah ini pula, kita digembleng untuk sebisa mungkin menghadirkan cinta, sekalipun ancaman dan kebencian yang disuguhkan kepada kita. Di sini, kita juga diajarkan bagaimana untuk tetap belajar melihat kejernihan di tengah kubangan kotoran yang menghantam diri kita.

Saya tak bisa membayangkan, seandainya rumah ini tak pernah ada. Mungkin saya sudah menjadi gelandangan di luar sana. Compang-camping ke sana ke sini terseret arus zaman. Arus yang sengaja diciptakan oleh sekelompok orang.

Betapa sangat bersyukurnya saya atas rumah ini. Di sini kita dan siapa pun saja diterima dengan tangan terbuka. Tanpa harus dihujani pertanyaan, kau siapa, mau apa, bawa apa, dari mana, dan deretan pertanyaan lainnya. Di rumah ini telah tersedia dapur yang memberikan kita hidangan keluasan hikmah dan tulusnya kasih sayang. Nantinya, makanan-makanan inilah yang akan memberikan kita suntikan energi saat beraktivitas di luar sana. Setelah kotor berkegiatani seharian, kita pun bisa mandi di rumah ini, kembali bersuci, menjernihkan pikiran dan menata hati.

Kalaulah keberkahan itu terus bertambahnya segala kebaikan, izinkanlah saya mengatakan bahwa rumah ini, rumah Maiyah adalah anugerah yang penuh berkah. Tidak sedikit kebaikan-kebaikan yang diberikan kepada saya melalui rumah ini. Dan dari semua dulur-dulur Maiyah yang pernah berbagi cerita dengan saya, mereka pun merasakan hal yang serupa. Di rumah ini, melalui rumah ini, tidak sedikit kebaikan-kebaikan yang terus berdatangan. Dan semoga ini bukan hanya ke-GeEr-an saya semata. Semoga Tuhan memang benar-benar cinta, dianugerahkan-Nya kita mawaddah dan rahmah bagi kita semua. Sehingga siapapun penghuni rumah ini, siapapun saja yang ada di rumah ini, benar-benar bisa sakinah hidupnya.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image