Perjalanan Mengenal Maiyah

Sebelum menulis tulisan ini, saya kembali introspeksi kepada diri saya sendiri. Apakah kejadian-kejadian yang sudah saya alami memang pantas diceritakan atau tidak. Mungkin saja tidak pantas karena itu menyangkut pribadi buruk saya. Sebelumnya saya tidak mengenal Maiyah dan belum tahu siapa Cak Nun, juga KiaiKanjeng. Awal mula saya mengenal Maiyah diajak seorang teman, tapi tidak langsung diajak Maiyahan atau Sinau Bareng. Semua masih asing termasuk mendengar Cak Nun berbicara atau Kiai Kanjeng membawakan musiknya. Wajah Cak Nun saja belum pernah tahu apalagi wajah personel KiaiKanjeng.

Teman saya hanya mengajak untuk mengikuti akun caknun.com waktu itu. Katanya biar mengerti Maiyah itu apa dan siapa saja yang berada di dalam Maiyah. Saya manut saja dengan ajakannya karena sudah niat saya ingin mengubah hidup ini menjadi lebih baik dari yang kemarin. Teman saya bilang banyak orang yang sudah mengalami kejadian-kejadian yang tidak disangka-sangka setelah habis ikut Maiyahan atau sering membaca tulisan-tulisan di akun tadi. Mungkin karena sudah ikut Maiyahan dia bilang begitu. Memang saya belum tahu tulisan-tulisannya seperti apa lha wong saya saja baru mengikuti akun caknun.com di medsos.

Kemudian saya buka akun tadi dan akhirnya saya tahu wajah Cak Nun dan personel KiaiKanjeng. Juga akhirnya saya melihat foto-foto Maiyahan di sana. Baru melihat foto acaranya saja saya sudah tertarik untuk datang karena begitu dekat sekali seorang Cak Nun dengan para hadirin. Tidak seperti yang saya lihat di acara shalawatan yang pakai pembatas pagar di sekeliling panggung seperti konser musik atau orkes dangdut. Lha di Maiyahan ini malah tidak ada pagar sama sekali. Itulah yang membuat saya ingin datang ke sana.

Saya kembali melihat-lihat di akun medsos caknun.com. Yang membuat saya heran  setiap hari ada tulisan Daur, Khasanah, Menek Blimbing. Namun saya belum paham maksudnya apa karena belum baca satu per satu. Saya kembali tanya kepada teman saya apa itu Daur, Khasanah dan Menek Blimbing. Teman saya malah menjawab, “Lha itu kamu baca satu per satu dan kamu cari jadwal agenda Cak Nun kalau kamu ingin ikut maiyahan. Nanti kalau kamu membaca Daur ataupun yang lain suatu saat saya akan mengerti maksud di tulisan-tulisan tersebut. Apalagi jika kamu bisa hadir di acara Maiyahan, lebih cepat lagi akan berubah sikap ataupun sifat-sifatmu”.

Tapi dalam hati saya berkata apa memang benar kata temen saya ini kok bisa bilang begitu. Apa dia sudah mengalami hal tersebut. Dan apa yang terkandung dalam tulisan di Daur ataupun yang lainnya sudah dijalani. Lebih jauh muncul juga pertanyaan dalam benak saya, siapa Cak Nun itu ya kok berani berhadapan langsung dengan jamaah tanpa ada pembatas pagar, bahkan sama jamaah Cak Nun bersalaman langsung. Foto-fotonya juga dekat dengan jamaah. Rasa hati ini tambah penasaran lagi segera ingin hadir di Maiyahan Cak Nun.

Kembali saya baca di website caknun.com, Daur terlebih dulu. Satu per satu dari Daur-I dan seterusnya. Tapi setelah membaca, saya belum paham juga maksudnya apa. Saya malah penasaran. Terus terang ketidakpahaman itu mungkin karena saya masih awam terhadap Maiyah. Mending saya lihat jadwal agenda saja di mana dalam waktu terdekat. Lha kok ya kebetulan ada jadwal dekat dari tempat saya bekerja meski harus menempuh jarak 1 jam perjalanan terlebih dulu.

Saya pun menuju lokasi sendiri tanpa mengajak teman. Sampai di tempat memang benar tampak di sekitar panggung tidak ada pembatas sama sekali. Yang hadir malam itu sudah agak padat, mungkin karena waktu sudah melewati Isya. Bermodalkan nekat, saya permisi-permisi terus kepada orang-orang yang sudah hadir karena ingin melihat Cak Nun dan KiaiKanjeng agak dekat. Dapatlah tempat buat duduk meski tidak di depan karena dikhususkan untuk panitia. Ketika acara sudah dibuka dengan pembacaan Ayat Suci Al-Qur`an, kata demi kata disampaikan oleh panitia dan kemudian KiaiKanjeng di panggung menyapa semua yang hadir malam itu dengan shalawat-shalawatnya. Rasa senang hati ini muncul ketika mendengar shalawat yang dibawakan KiaiKanjeng. Karena sudah lama mulut saya ini tidak melantunkan shalawat kepada Kanjeng Nabi. Tampak ramai-ramai di samping panggung, ternyata Cak Nun sudah hadir dengan sejumlah kyai-kyai atau para habaib setempat.

Beliau mengajak semua hadirin berdiri untuk menyanyikan Indonesia Raya dan  dilanjut bersholawat bersama-sama. Kata demi kata dan ilmu-ilmu beliau sampaikan kepada para jamaah. Saat KiaiKanjeng mempersembahkan nomor Kuncine Lawang Suwargo, sempat mata ini bergelimang air mata. Apalagi pertama terdengar lagu One More Night, tambah perasaan senang campur menangis terharu. Sungguh benar-benar tidak berarti apa-apa saya ini saat mendengar lagu saat itu.

Kembali saya mendengarkan apa yang disampaikan Cak Nun. Saya cuma terdiam, benar-benar menyimak sampai akhir acara ditutup dengan doa kemudian dilanjut salaman. Saya saksikan Cak Nun melayani sampai selesai tidak ada yang salaman lagi. Saya berpikir memang benar tidak seperti di acara-acara pengajian lainnya ada acara salaman sampai mau melayani semua orang yang hadir pada malam itu.

Seperti yang sudah disampaikan teman, saya kembali membaca Daur dan tulisan-tulisan yang di caknun.com yang sampai saat ini selalu saya baca terus. Juga tidak lupa setiap ada jadwal Maiyahan yang masih bisa ditempuh 3 atau 4 jam, saya niati berangkat. Selesai acara saya langsung kembali ke tempat kerja. Meski harus melakoni perjalanan seperti itu, tidak menyurutkan niat saya karena ingin menjadi lebih baik dari kemarin-kemarin, di mana saya merasa belum pantas disebut muslim ini.

Banyak perubahan-perubahan terjadi pada hidup saya menjadi lebih baik setelah mengikuti Maiyahan dari berbagai tempat. Saya alami seperti apa yang sudah Beliau sampaikan kalau kita tidak paham apa yang disampaikan beliau atau mungkin kita tertidur saat Maiyahan, di lain waktu ia akan loading sendiri di hati masing-masing.

Saya bersyukur sekali sudah diajak teman saya mengenali apa itu Maiyah, siapa Cak Nun dan KiaiKanjeng. Saya bersyukur sekali bisa bertemu Beliau dan KiaiKanjeng yang selalu memberikan kado berupa ilmu-ilmu yang tidak pernah berhenti mengalir kepada semua Jamaah Maiyah. Jarang sekali saya mendapat ilmu-ilmu seperti yang disampaikan Beliau yang rela menemani Jamaah Maiyah sampai berjam-jam.

Tidak lupa saya selalu membisiki Mbah Nun setiap salaman kepada Beliau, “Semoga sehat terus nggih Mbah.” Kemudian Beliau menepuk-nepuk pundak saya kembali. Tidak cukup kata terima kasih saja dari saya untuk Beliau karena begitu sayangnya beliau kepada Jamaah Maiyah dan cintanya kepada Indonesia. Hampir setiap malam Beliau menemani orang-orang desa di berbagai tempat. Semoga Mbah Nun selalu diberikan kesehatan dan umur yang panjang. Amin.

Sebelum menulis tulisan ini, saya kembali introspeksi kepada diri saya sendiri. Apakah kejadian-kejadian yang sudah saya alami memang pantas diceritakan…