Pahlawan Konkret

Yogya Post, 6 November 1989

Pahlawan menjadi seorang pahlawan karena dia telah memperbuat sesuatu. Tetapi ada jenis pahlawan yang menjadi pahlawan justru karena dia tidak memperbuat sesuatu.

Seandainya dulu Tuhan menciptakan tidak hanya satu manusia lelaki pertama, melainkan dua—katakanlah Adam dan Odom—ada kemungkinan Odom menjadi pahlawan pertama dalam sejarah kemanusiaan karena ia tidak memakan buah khuldi.

Ketika Adam tergoda dan mencuri buah itu, Odom sedang tidur ngorok. Tidur itu cukup baginya untuk membuatnya menjadi seorang pahlawan, yang diperkenankan oleh Tuhan untuk tetap tinggal di surga, sementara Adam tercampak di bumi yang sunyi. Dan kita semua seandainya diberi kesempatan untuk memilih hendak menjadi anak turun siapa—tampaknya akan beramai-ramai mendaftarkan diri jadi turunan Odom. Daripada berjuang di bumi sebagai jenis makhluk yang suka bermusuhan, menipu, dan menumpahkan darah, mending tidur saja di surga. Nanti kalau bangun, main gaple atau uro-uro.

Terkadang sejarah manusia tiba pada suatu kondisi minimal di mana perbuatan baik bukan hanya tak diperlombakan, melainkan juga diremehkan dan diejek. Orang yang berkeras berbuat baik akan disebut “sok pahlawan”. Udara dirasuki kuman tertentu yang membuat setiap orang yang menghirupnya menjadi gendheng. Kalau ada satu dua orang yang punya daya antisipasi tinggi terhadap atmosfer kegendhengan, mereka akan justru dituduh gendheng.

Ketika itu, kriteria kepahlawanan menjadi kabur. Nilai tak menentu. Standarnya bisa digeser-geser atau dibolak-balik. Keburukan berpakaian kebaikan, kejahatan berpakaian kemuliaan, sementara kebaikan dan kemuliaan tak sempat mengurus wajahnya. Maling adalah orang yang paling seru berteriak “Maling!” Koruptor memperingatkan masyarakat tentang bahaya korupsi. Hukum dilanggar terutama oleh ahli-ahlinya. Lembaga yang paling tak berbudaya adalah yang mengelola kebudayaan. Orang memilih enak tak enak daripada baik dan tak baik. Orang menyembah kenyamanan dan menomorsatukan keluhuran. Tatanan ekonomi dipenuhi oleh monster dan kehewanan. Kemanusiaan dan agama merupakan permainan gundu di saat-saat senggang. Para pengemis budiman duduk termangu-mangu di depan taman makam pahlawan, sambil bergumam kepada dirinya sendiri: “Apakah pada suatu saat kelak akan ada ralat sejarah dan makam-makam tertentu terpaksa dibongkar agar kebenaran bisa diletakkan pada tempatnya…?”

Pada saat seperti itu kita menatap seorang tukang bakso, penjaja makanan-makanan kecil, tukang sol sepatu, atau manusia-manusia “kecil” sejenis itu—terasa betapa tinggi harkat kepahlawanan mereka atas kehidupan, lebih dari orang-orang besar yang selalu kita sebut namanya melalui koran dan televisi.

Si penjual bakso melata di gang-gang kampung hampir semalaman. Membunyikan “ting-ting-ting…” kepada orang-orang yang hampir serentak berangkat tidur. Tindakan ekonomi yang bodoh, suatu demonstrasi keyakinan yang mutlak terhadap rezeki Allah.

Kalau ia memiliki cukup mentalitas maling, tak akan tahan ia berkeliling berjam-jam hanya untuk seribu dua ribu rupiah yang di pagi hari ia persembahkan kepada istri dan anaknya. Setiap kali ia berhenti mendorong gerobaknya, memandang setiap jendela yang terbuka sambil mengharapkan akan ada suara yang memesan baksonya. Kemudian ketika suara itu tak muncul, betapa ia kecewa, dan entah berapa ribu kali ia dilempari kekecewaan semacam itu. Ia menerimanya dengan ikhlas, sehingga tubuhnya tetap sehat untuk tetap terus berjualan.

Menjadi tukang bakso tidaklah cukup sama sekali untuk membuat seseorang menjadi pahlawan. Tapi memilih berjualan bakso daripada maling atau mencopet atau mengemis, adalah sebuah kepahlawanan kemanusiaan yang tinggi.

Tukang bakso menjadi pahlawan karena ia pasti tidak melakukan korupsi dan merugikan rakyat banyak dan negara. Ia relatif tidak terlibat dalam tatanan struktur riba dan pengisapan. Ia juga tidak menuntut dihormati seperti seorang pejabat koruptor yang setiap bawahannya menundukkan muka dan membungkukkan badan. Ia juga tidak merasa pahlawan seperti banyak relawan sosial yang menjual kemiskinan rakyat. Tukang bakso itu menjadi pahlawan justru karena ia tidak melakukan banyak sekali dosa dan pengkhianatan yang secara sistemik atau personal dilakukan oleh sangat banyak orang di sekitarnya.

Seorang tukang bakso memberi pelajaran kepada orang-orang yang mampu berpikir bahwa selama ini yang kita abdi adalah ketinggian materi,hedonisme, posisi feodal, atau nilai-nilai lainnya. Kita tidak menomorsatukan kejujuran, kemuliaan, dan kebaikan. Tradisi budaya kita sehari-hari adalah ngapurancang kepada seorang Bapak meskipun kita ketahui banyak melakukan pengkhianatan moral, sementara kepada seorang tukang bakso kita selalu melihat ke bawah. ***

Yogya Post, 6 November 1989

Pahlawan menjadi seorang pahlawan karena dia telah memperbuat sesuatu. Tetapi ada jenis pahlawan yang menjadi pahlawan justru karena dia tidak memperbuat…