Menimba Berkah dari Sumur Maiyah

Perjalanan ke Fuaddus-Sab’ah, benar-benar tak pernah selesai diceritakan. Ini membuat keyakinan semakin menemukan jalan, bahwa banyak hal-hal di luar dugaan, ketika kita berusaha mencari tahu apa pun yang “tidak terlihat” dan “ilmu katon” sebagai keimanan pada “Yang Ghaib”.

Niat menimba berkah, pasti mendapat kemudahan. Di manapun dan dalam posisi apapun. Persoalan ini sudah menjadi keyakinan saya ketika berusaha menempuh perjalanan spiritual. “Orang beriman itu tidak mungkin dapat kesulitan.” Karena dalam Maiyah sudah dikenalkan secara gamblang apa itu kesabaran, puasa, ikhlas, dan kemampuan mengendalikan nafsu wadak. Jika mendapat kemudahan pun, tak meresponnya secara berlebih karena diajari oleh Mbah Nun bagaimana bersikap dengan “syukur”.

Secara jelas juga, Mbah Nun sering menggambarkan dengan rizki yang min haitsu laa yahtasib.

Apalagi ketika meluruskan niat untuk meniti jalan Allah. Jalan yang lurus untuk semakin meyakini keberadaan Allah. Itulah kemantapan hati yang benar-benar saya rasakan. Ketika “tretek” hati ingin salaman namun tak berani mendekat. Seolah diperjalankan dengan kemudahan. Bisa salaman tanpa mesti ikut berjejal-jejal dengan jamaah lain.

Ketika diam-diam membatin kapankah bisa makan bareng, Allah langsung mengabulkan. Yang justru membuat cupet pikir dan sederet pertanyaan menakutkan. “Jangan-jangan, Allah sedang menguji, membombong saya. Tiba-tiba saya menemukan, diri yang sangat ndesit dan kerdil ini, kok mendadak dapat berbagai kemuliaan. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang bisa kita dustakan?”

Bisa dibayangkan, rencana dari Bandara Juanda ngompreng dan merasakan naik bus ke arah Menturo, seperti mimpi, dijemput pakai mobil yang sangat mewah untuk ukuran saya. Sekali lagi, di sini ada berkah. Bareng orang sholeh itu menguntungkan secara duniawi.

Soal Treteke Hati

Ajaran yang saya ingat ketika Mbah Nun, secara implisit memberi contoh tentang treteke hati ini dengan “kemudahan” mencium hajar aswad tanpa berdesakkan karena diperjalankan oleh Allah. Kisah para sufi yang baru menginginkan dalam hati, dikabulkan langsung oleh Allah cukup banyak diceritakan. Dan selama di Menturo, Sidoarjo, Gresik serta ketika di Surabaya saya menemukan. Semacam “pengakuan”. Jamaah Maiyah sangat terbiasa mengalami kabulnya hajat semacam itu.

Sebagai orang baru, jamaah yang bukan saja secara geografis berada di daerah seberang yang jauh, tentu saya hanya bisa diam-diam, membenarkannya. Sebab, merasa “mengalaminya” langsung.  Di sini saya menemukan, semacam cambuk dan kebenaran yang mengejutkan ketika Mbah Nun berucap. “Sudahlah, gerakan-gerakan yang mengklaim perubahan sosial itu kebanyakan bohong.”

Tentu pada soal-soal yang menyandarkan rasionalitas dan berbagai teoritik, kelimuan serta bermacam-macam varian untuk mencapai “kesadaran” atas hadirnya Allah, masing-masing orang punya jalan sendiri-sendiri. Sangat subjektif. Artinya, saya hanya bercerita seputar apa yang terasa dan langsung saya alami. Getaran aneh untuk berani mengambil posisi “harus tahan uji”.

Malati dan Dikontani

Pada beberapa momentum ritus ibadah haji, atau di mana pun tempat yang “mberkahi” memang punya pertanda khusus. Misalnya, tak boleh sembarangan berucap. Bukan saja pamali, bikin kualat atau dikontani. Seketika terjadi. Setidaknya itulah yang saya rasakan dan temukan.

Salah satu jamaah pernah mengeluhkan mobilnya jelek seperti gerobak. Begitu mengucap kalau ganti mobil “merk ini” yang bagus, direm tidak kayak gerobak. Mbah Nun yang duduk di belakang, hanya bergumam. “Arek-arek ini gak percaya sama Gusti Allah.”

Dengan mata berkaca-kaca, jamaah dari Sidoarjo ini bercerita. Kontan dapat rezeki begitu sampai rumah. Rezeki yang tak disangka-sangka. Dan langsung dibelikannya mobil yang tidak gedubrakan ketika direm. Ada lagi yang merasa congkak, kalau diberi posisi ini akan lebih aktif Maiyahan. Ternyata, ketika dapat posisi yang belum lama diinginkan, justru tak pernah punya waktu untuk Maiyahan.

Sederet kisah itu saya dengar langsung dari yang mengalaminya. Sampai yang mistis, irasional, dan ada ketepatan untuk dinalar secara logis. Hal itu cukup menyadarkan. Jika hanya mencari duniawi, akhirat akan tertinggal. Namun jika mencari akhirat dan cinta Allah, dunia yang akan melayani kita. Kebenaran dalil inilah yang saya lihat secara langsung ketika mewawancarai para pedagang di dua pengajian yang dihadiri Mbah Nun. Yakni, Padhangmbulan dan Maiyahan di Balongpanggang, Gresik.

Pertama, geliat ekonomi dan berkah pembeli pada warga-warga yang rumahnya berdekatan dengan lokasi pengajian. Cukup dengan kompor, mie instan dan berbagai penganan kecil, warga sekitar bisa menangguk untung di luar kewajaran. Bahkan, kalau boleh dan bisa berharap, ada Padhangmbulan setiap malam. Memang tidak ada angka pendapatan yang pasti termasuk belum bisa dihitung berapa uang yang beredar di lokasi pas malam pengajian. Akan tetapi, geliat ekonomi itu cukup terlihat dari sumringahnya wajah anak muda, ibu-ibu, serta para lelaki yang membuka warung dadakan di teras rumahnya. Yang membuka lapak di pinggir jalan, penjual gorengan yang terus terdengar osrengan dan ayunan sotilnya di wajan sejak sore sampai jelang doa penutup. Termasuk orang yang keliling di jejalan jamaah menawarkan berbagai minuman panas. Sampai para penjual karpet tipis untuk alas duduk pun, mendapat berkah tersendiri.

Secara iseng saya membuat kalkulasi ekonomi pada pedagang karpet. Selembar, ukuran satu kali satu setengah meter itu harganya Rp. 5 ribu. Dua orang pedagang yang secara acak saya jadikan semple, masing-masing mengaku laku 20 karpet dan 43 karpet. Kalau tidak salah, ada 11 penjual karpet yang sudah punya area dan kawasan. Pedagang yang di depan panggung utama, tak pernah jual di sekitar masjid. Penjual karpet yang ada di jalan, tidak pernah mengedarkan karpetnya di depan rumah induk. Begitu seterusnya. Mereka menyebut modal karpetnya, 2 ribu rupiah. Artinya, kalau dibuat simulasi rata-rata keuntungan penjual karpet 3 ribu rupiah. Laku rata-rata 30 buah, satu orang penjual dapat keuntungan 90 ribu rupiah. Kali 11 orang. Ini baru satu jenis barang. Belum kaos dan merchandise merk CNKK, gambar Cak Fuad, dll. Ditambah pedagang jenis lain. Sekadar contoh, saya di Maiyahan Balongpanggang, Gresik habis 1,4 juta. Beli kaos 1,2 juta. Sisanya, makanan dan minuman yang aneh-aneh. Seperti jeruk yang dibelah dan langsung diperas. Diberi es batu namun rasanya manis dan segar. Dua porsi es jeruk peras itu, 15 ribu rupiah. Kalau beli satu plastik dengan memakai 4 buah jeruk, harganya 10 ribu rupiah. Tentu saja disertai kacang rebus, dan keindahan penganan lain.

Izinkan saya bertanya. Berapa keuntungan warga dan edaran uang di area Maiyahan? Penguatan ekonomi dan pergerakan uang model pengajian apa yang bisa menyaingi Maiyahan? Tentu saja jangan diperbandingkan dengan pengajian yang hanya bahas keutamaan sedekah dan ternyata untuk investasi bisnis. Jelas tidak tepat.

Kedua, mendapat sentuhan pemahaman baru. Intinya, saya hanya melihat, pengajian Maiyah itu berdampak dan memberikan kegembiraan pada lingkungan sekitar. Kalau boleh menyebut, pengajian yang rahmatan lil alamin ya yang model ini.

Lebih jauh, koordinat dan sempalan-sempalan epistemologis yang disampaikan Mbah Nun, tak pernah selesai diudar. Misalnya soal pertanyaan awal ketika memulai kajian di Fuadus-Sab’ah itu. “Hidup itu mandek, berhenti atau berjalan? Kemudian bagaimana hubungan antara nasab dan nasib?

Pertanyaan ini langsung membuat saya tertawa sendiri. Sebab, di kampung kami, ada salah satu pejabat yang membenarkan oligarki dengan dalil semacam ini. “Anak gubernur jadi gubernur, wajar. Anak nabi saja jadi nabi. Masak anaknya jadi nabi, ayahnya tukang bakso.”

Dari sini saya menemukan, korelasi antara nasab dengan nasib. Dimana Allah sendiri langsung mengajarkan. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang berusaha mengubahnya. (Ar Ra’du: 11). Lebih jelas sekali, Mbah Nun memberikan contoh; Abu Bakar, Umar, Ustman atau Ali-kah Engkau? Kalau tidak salah penjelasan ini ada di buku Tuhan Pun Berpuasa. Dimana Mbah Nun menguraikan secara terminologis, kesadaran manusia yang berbeda-beda dari para khulafaurrasyidin itu hingga sampai mencapai derajat, menemukan Allah dalam hidupnya.

Apakah saya dapat menimba berkah dari sumur Maiyah?

Pertanyaan ini, membuat saya ingat surat Al Mulk ayat 1. Maha Berkat Allah yang di Tangan-Nya segala kerajaan. Kemudian secara jelas, ada hadist yang mengisahkan ketika Anas bin Malik ra menemui Rasulullah kemudian meminta diberi berkah. Kemudian Rosululloh Muhammad SAW mendoakan. “Ya Allah, karuniakanlah kepadanya harta dan anak yang banyak dan berkatilah padanya.”

Rizki, ilmu, umur, waktu, istri, anak, keluarga dan segala bentuk kemanfaatan yang dirasakan bukan saja oleh diri sendiri, menjadi ciri-ciri mendapat keberkahan. Dengan dalil ini, saya sangat meyakini, pengajian Maiyah penuh berkah dan layak kita datangi semata-mata untuk menemukan Allah. Meneguhkan diri kita agar menjadi akhsanu takwim. Bukan asfala safilin.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image