Mengaplikasikan “Ramadhan Sepanjang Zaman”

Salah satu kenangan yang terngiang dalam ingatan saya adalah ketika masih di nyantri di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor 13 tahun lalu. Di Gontor, santri kelas 5 KMI wajib bermukim di Pondok pada bulan Ramadhan untuk menunggu Yudisium kenaikan ke Kelas 6 KMI.

Suasana Pondok yang biasanya ramai menjadi sepi karena jumlah santri yang berada di Pondok berkurang. Santri kelas 1-4 KMI pulang berlibur dan baru kembali ke Pondok pada Bulan Syawal. Sementara santri kelas 6 KMI begitu memasuki tanggal 11 Ramadhan sudah meninggalkan Pondok setelah Yudisium kelulusan sebagai pertanda bahwa mereka telah menyelesaikan studinya di Gontor.

Rekaman audio Shalawat Tarhim Syeikh Mahmud Khalil Al-Hushariy adalah salah satu shalawat yang selalu dibunyikan melalui pengeras suara Menara Masjid Gontor menjelang adzan subuh. Lantunan suara indah Syeikh Mahmud Khalil Al-Hushariy ini konon zaman dahulu memang sering diperdengarkan melalui pengeras suara di masjid-masjid menjelang adzan subuh. Tradisi yang kini tampaknya sudah pudar, sehingga generasi milenial hari ini pun banyak yang tak lagi mengenal Shalawat Tarhim sangat indah ini.

Jika Anda pernah datang ke Gontor, dan kebetulan datang pada waktu sholat wajib tiba, Anda akan mendengarkan Syair Abu Nawas dilantunkan para santri ketika jeda antara Adzan dan Iqomah. Kedua Syair tersebut: Shalawat Tarhim dan Syair Abu Nawas adalah sedikit dari keindahan yang masih terjaga di Gontor hingga hari ini.

Mengapa saya antarkan tulisan ini dengan Shalawat Tarhim dan Syair Abu Nawas?

Dalam ayat yang sering kita dengar ketika Bulan Ramadhan datang, Al-Baqarah 183, kita dapati ending dari perintah berpuasa dalam ayat tersebut adalah agar kita bertaqwa.

Sayangnya, selama sekian Abad Islam diperkenalkan kepada ummat manusia, pemahaman kata Taqwa yang paling sering dipahami oleh masyarakat luas adalah ‘takut’. Guru di TPA, di sekolah-sekolah, bahkan sampai Dosen di perguruan tinggi, mayoritas menjelaskan arti taqwa kepada para peserta didiknya dengan arti kata: takut. Mungkin tidak salah juga jika kata taqwa dipahami dengan istilah takut, tapi kok rasanya kurang pas atau kurang melingkupi.

Sementara, melalui Maiyah saya mencatat ada dua pemahaman yang pernah disampaikan Cak Nun tentang Taqwa. Pertama, Cak Nun menjelaskan bahwa Taqwa itu artinya adalah kita nempel sama Allah. Allah menjadi pertimbangan utama dalam kehidupan dan dalam setiap pengambilan keputusan kita.

Kedua, Cak Nun memiliki pandangan bahwa Taqwa adalah kita selalu berada dalam kondisi waspada dalam kehidupan kita. Setiap hendak melakukan sesuatu, kita waspada bahwa ada aturan main yang sudah ditetapkan oleh Allah; ada dosa dan pahala, ada imbalan dan hukuman, hingga puncaknya ada surga dan neraka.

Menurut saya simpel, tidak bertele-tele, dan ndak njlimet. Nempel kepada Allah dan Waspada terhadap segala kemungkinan aturan mainnya Allah. Dan Puasa, menyimpan rahasia yang begitu luar biasa, yang melatih kita untuk menuju derajat Taqwa itu.

Secara kasat mata, yang dilakukan orang ketika berpuasa adalah menahan lapar, haus, dan hawa nafsu. Meskipun masih banyak juga manusia yang levelnya baru mencapai tahap “menunda” makan, minum, dan melampiaskan nafsu. Tetapi, secara substansi puasa tidak hanya persoalan menahan lapar, haus, dan nafsu saja. Betapa rendah manusia jika untuk persoalan menahan tiga hal itu harus menunggu datangnya Bulan Ramadhan. Apalagi jika kemudian benar-benar manusia hanya memahami bahwa Taqwa itu adalah takut kepada Allah.

Coba kita simak bait per bait, kalimat per kalimat, kata per kata Syair Sholawat Tarhim dan Syair Abu Nawas. Adakah tiap kalimat itu yang mengekspresikan “takut”?

Yang justru kita selami adalah nuansa kemesraan, keakraban, dan manja kepada Allah dan Rasulullah. Bukankah sebenarnya itu yang seharusnya terbangun dalam dialektika hubungan Hamba dengan Tuhannya?. Betapa “usil” Abu Nawas mengawali Syairnya dengan ungkapan; “Ya Allah, aku ini bukanlah ahli surga, tetapi aku juga tidak kuat jika dimasukkan ke neraka”. Sebuah ungkapan yang manja, nakal, usil, tapi membahagiakan, menggembirakan, menyenangkan. Begitulah seharusnya hubungan antara manusia dengan Allah.

Begitu juga dengan Shalawat Tarhim karya Syeikh Mahmud Khalil Al Hushariy. Pemilihan kata-kata yang disusun dalam Shalawat Tarhim itu sama sekali tidak menunjukkan ungkapan rasa takut kepada Allah. Justru yang kita tangkap adalah ungkapan cinta kepada Allah, di mana Rasulullah Saw adalah “password” untuk menggapai cinta Allah itu.

Cak Nun pula yang kemudian menyadarkan saya bahwa di dalam Al-Qur`an, pada surat Ali ‘Imran ayat 31 dalam pandangan beliau adalah salah satu kunci utama kita hidup di dunia. Bahwa fondasi utama kita menjadi Abdullah adalah cinta, dan cinta yang kita harapkan adalah cintanya Allah kepada kita, di mana syarat utama kita mendapatkan cintanya Allah adalah dengan kita mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah Saw. Dengan kita mengikuti Rasulullah Saw, Allah tidak hanya membalas cinta kita, tetapi juga kemudian memberikan ampunan atas dosa-dosa kita.

Seperti juga sering diceritakan Cak Nun, dalam Perang Badar, ada satu “wirid” yang diucapkan Rasulullah Saw; In lam takun ‘alayya ghodobun, falaa ubaalii. Asalkan Engkau tidak marah kepadaku ya Allah, maka aku tidak peduli dengan segala sesuatu apapun yang akan terjadi dengan diriku. Bukankah ini juga salah satu dimensi dari Taqwa yang merupakan goal perintah berpuasa dalam Surat Al-Baqarah-183 tadi? Terserah Allah mau menggariskan apa kepada kita, yang penting kita ridlo atas ketentuan Allah itu, sehingga kemudian Allah juga akan meridhloi kita. Jadi, kita dulu yang ridlo, baru Allah kemudian ridlo kepada kita.

Yang sering kita lakukan adalah kita meminta Allah terlebih dahulu untuk meridloi apa yang sudah kita lakukan, apa yang sudah kita usahakan, apa yang sudah kita perjuangkan. Dan ketika hasil dari apa yang kita upayakan itu tidak sesuai dengan harapan kita, lantas dengan mudahnya kita mengeluh, ngresulo, ngambek. Kita sendiri yang justru tidak ridlo atas apa yang sudah ditentukan oleh Allah kepada kita. Salah satu dimensi dari Taqwa itu juga merupakan keridhloan kita terhadap apa yang digariskan oleh Allah kepada kita.

Nah, betapa Allah membuka sedikit rahasia tentang Taqwa kepada saya sendiri melalui Sholawat Tarhim dan Syair Abu Nawas itu tadi. Tidak perlu membaca Kitab Tafsir karya ulama A, B, C, D dan lain sebagainya. Hanya melalui karya Syeikh Mahmud Khalil Al-Hushariy dan Abu Nawas, spektrum dan nuansa Taqwa bisa saya pahami. Tentu saja kebenaran ini bukanlah kebenaran final, karena setiap orang juga berhak menemukan definisi dan makna Taqwa itu menurut mereka masing-masing.

Dalam sebuah kesempatan, Cak Nun pernah memaparkan bahwa di Maiyah  kita harus mampu menemukan ketepatan posisi kita dalam hidup. Apakah kita adalah manusia Syahadat, manusia Shalat, manusia Puasa, manusia Zakat atau manusia Haji. Tidak mungkin semua sifat itu ada dalam diri kita secara sempurna. Kita hanya mampu memiliki satu di antara lima itu, atau kalau memang kita harus mengakomodir semuanya, pasti ada satu sifat yang dominan dalam diri kita dari kelima itu.

Cak Nun menggambarkan bahwa dalam sebuah komunitas atau organisasi, harus ada lima jenis manusia itu. Manusia Syahadat adalah manusia yang memiliki sifat inisiator, motivator, penyemangat, pemberi dukungan. Manusia Shalat adalah manusia yang menjaga keseimbangan. Manusia Puasa adalah manusia yang mampu memahami kapan harus melampiaskan dan kapan harus menahan, seperti seorang sopir ketika mengendarai mobil, ia tahu kapan harus nge-gas dan kapan harus nge-rem. Manusia Zakat adalah manusia yang sifat sosialnya sangat tinggi, kecenderungan manusia Zakat adalah berbagi kepada orang lain. Sementara Manusia Haji adalah manusia yang memiliki target-target puncak pencapaian dalam sebuah perjalanan.

Dalam sebuah organisasi, kelima jenis manusia ini mutlak diperlukan. Bahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sekalipun, jika memang benar-benar ingin mencapai Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, maka mutlak dalam Kabinet Pemerintahan dan Pejabat di setiap Departemen Pemerintahan harus terdiri atas manusia-manusia dengan lima sifat itu.

Seperti sering digambarkan sendiri, Cak Nun adalah tipikal manusia Puasa. Segala laku hidup beliau sejak kecil adalah “puasa”. Ada banyak hal yang sejatinya mampu beliau manfaatkan, beliau nikmati, beliau ambil tetapi beliau memilih untuk berpuasa terhadap itu semua. Tentu saja refleksi kehidupan beliau adalah laku hidup Rasulullah Saw. Manusia paling agung yang dilahirkan ke dunia, yang dipilih Allah Swt menjadi kekasih-Nya. Manusia paling revolusioner, yang berani meninggalkan segala macam perhiasan dunia, mengorbankan apapun saja yang dimilikinya, asalkan Allah tidak marah kepadanya.

Dan betapa Allah begitu sempurna memberikan kita metode berupa Puasa ini. Metode yang bukan hanya diamsalkan melalui Surat Al-Baqarah ayat 183 saja, tetapi juga melalui Perang Badar yang dialami Rasulullah Saw pada tahun ke-2 Hijriyah itu. Berperang di Bulan Ramadhan, dengan pasukan yang bermodalkan persenjataan dan kekuatan fisik yang seadanya, Rasulullah Saw beserta para pasukan mampu memenangkan pertempuran yang dahsyat itu. Tetapi, setelah peperangan itu Rasulullah Saw kemudian berpesan bahwa setelah Perang Badar itu masih ada peperangan yang lebih besar lagi, yaitu perang melawan diri sendiri.

Dalam forum-forum Maiyahan, Cak Nun menjelaskan kepada kita bahwa puasa bukan sekadar persoalan menahan lapar, haus, dan hawa nafsu saja.  Lebih dari itu, puasa adalah sebuah metode yang melatih kita agar mampu mengendalikan diri. Sehingga kita kemudian mampu juga mengaplikasikan “Ramadhan Sepanjang Zaman”. Kita berlaku Islam bukan hanya karena kita memasuki Bulan Ramadhan, tetapi seharusnya kita mampu mengelola diri  ketika kita sudah melewati momentum Ramadhan. Kita anggap bulan Ramadhan sebagai “Madrasah” sehingga pada 11 bulan yang akan datang kita memiliki fondasi dan kuda-kuda yang lebih kuat, sekaligus kita menjadikan Bulan Ramadhan sebagai bulan refleksi perjalanan 11 bulan yang telah berlalu.

Tentu saja yang kita harapkan dan kita cita-citakan adalah kualitas keimanan  yang lebih baik dari sebelumnya, dan Bulan Ramadhan adalah momentum yang tepat bagi kita untuk melakukan refleksi terhadap diri sendiri. Sehingga, pilihannya adalah apakah ketika menyambut Idul Fitri, kita akan melampiaskan atau masih “berpuasa”?

Dan sungguh, Abu Nawas begitu indah menutup Syair karyanya; Ilaahii ‘abduka-l-‘ashii ataaka, muqirron bi-dz-dzunuubi wa qod da‘aaka. Wa in taghfir wa anta lidzaaka ahlu, wa in tadrud faman narjuu siwaaka. Ya Allah, hambamu yang sering melakukan maksiat telah datang kepada-Mu, hamba yang senantiasa berbuat dosa kini bersimpuh berdoa di hadapan-Mu. Jikalau Engaku mengampuni dosa-dosaku, maka memang karena Engkaulah Maha Pengampun, dan jikalau Engkau menolak permohonan ampunan ini, maka kepada siapa lagi kami mengharapkan ampunan itu selain kepada Engkau Ya Allah.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image