Daur-II • 200

Lari Dari Diri

“Dia hanya bingung dengan hidupnya”, Pakde Brakodin melanjutkan, “tidak bisa mengatasi. Soal pertentangan dengan orangtuanya, kuliahnya terbengkalai, belum bekerja. Lantas melarikan diri. Lari dari dirinya sendiri. Kemudian menemukan panggung yang nikmat dalam situasi psikologis yang serasa tidak berada di alam normal. Dengan pura-pura gila ia merasa merdeka dari tanggung jawab hidupnya…”

“Jadi bukan kerasukan Jin atau apa gitu, Pakde?”, Toling masih penasaran.

“Kerasukan masalah-masalah yang menekan dan membelitnya, memburamkan hatinya dan membuntu pikirannya”

“Itu selesai dengan Pakde kasih minum serta didoakan?”

“Tidak ada air yang bisa mengobati”, jawab Pakde Brakodin, “tidak ada doa yang bisa mengatasi masalah”

“Lho kok gitu Pakde?”, kejar Toling.

“Yang sanggup menyembuhkan dan mengatasi masalah adalah perkenan Allah melalui air itu, serta kedermawanan Allah untuk mengabulkan doa hamba-Nya”

Junit tertawa. “Dulu cukup lama lho kami berkesimpulan bahwa Mbah Sot beserta Pakde Paklik ini orang-orang sakti”

Pakde Tarmihim yang menanggapi dengan tertawa. “Ternyata bukan hanya sama sekali tidak sakti. Di pandangan para tetangga dan kebanyakan orang Pakde Paklik kalian hanyalah orang-orang tua yang naif, tidak jelas tujuan hidupnya, tidak jelas tempatnya, tidak pernah mengalami keberhasilan apa-apa…”

“Itu bukan hanya di pandangan masyarakat”, Pakde Sundusin lebih keras lagi tertawanya, “Bagi kami sendiri memang juga demikian. Ini bukan soal beda pandangan hidup, tapi fakta. Kalau ada orang datang minta tolong, kami kelabakan. Satu-satunya yang bisa kami lakukan adalah berpegangan pada Allah dan Rasulullah: misalnya melalui ayat-ayat Al-Qur`an, “yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy”. [1] (At-Takwir: 20).

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra