Wedang Uwuh (29)

Kok Tahu Tuhan Itu Maha Esa

Kedaulatan Rakyat, 9 Mei 2017

Saya, Gendhon, tiba-tiba disuruh oleh Simbah meneruskan tulisan “Wedang Uwuh” ini. Sebab tiba-tiba ada tamu. Agak kaget juga saya dibisiki oleh Simbah tentang tamu itu dan urusan yang dibawanya.

Sementara saya gugup mendengarkan Pèncèng ngomyang dengan isi pikiran yang penuh kemarahan. Beruk senyum-senyum. Tapi keduanya sepakat untuk membiarkan Pèncèng ngomyang. Entah ada apa ini Pèncèng kok mengamuk.

Saya tadi baru awal bercerita tentang “Mencari Buah Simalakama”. Mungkin saja nanti terpaksa diurungkan atau ditunda niat itu. Bisa jadi Pèncèng ada benarnya: bahwa mau diambil Sima-nya, Laka-nya atau Kama-nya, sebenarnya semua itu tidak penting.

“Jangan sekali-sekali mengatakan bahwa ada yang benar-benar penting: Indonesia Raya, Bhinneka Tunggal Ika, nasionalisme, reformasi, pembangunan untuk rakyat, apapun saja”, Pèncèng meneruskan omelannya, “Sebab yang penting apakah saya berkuasa atau tidak, apakah ketika berkuasa itu saya dapat laba apa, serta apakah bisa saya pastikan bahwa seluruh jajaran birokrasi dan struktur otoritas di Negara dipimpin oleh teman-temanku segolongan atau tidak…”

Gendhon dan Beruk mendengarkan sambil tersenyum dan sesekali saling melirik di antara mereka.

“Jangan pernah omong di depanku bahwa Tuhan itu penting, sebab yang penting itu uang, harta, dan citra”, Pèncèng soyo ndodro, melebar ke mana-mana. “Bersekolah adalah menyiapkan segala sesuatu agar kelak beres urusan uang, harta, dan citra. Kalau anak-anak kuliah saja, yang dipilih adalah fakultas yang marketable, yang daya pasarnya tinggi, yang punya kecenderungan terbesar untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya uang, sebertumpuk-bertumpuknya harta, serta semolek-moleknya citra diri. Harta dan hiasan dunia lebih utama dibanding ilmu, kemanusiaan, kualitas hidup, atau bahkan Tuhan…”

“Wah, mulai radikal Pèncèng…”, Beruk berbisik, “otaknya benar-benar sedang pèncèng”

“Kita gembar-gemborkan kita adalah satu-satunya Negara di dunia yang resmi ber-Tuhan. Kita umuk-umukkan Pancasila. Tapi Pancasila itu apa, tidak pernah benar-benar diperlakukan sebagai sesuatu yang penting untuk dipelajari, diijtihadi, diinovasi pemaknaannya, diteliti dimensi-dimensi nilainya. Apakah Pancasila itu urutan kata-kata mutiara, ataukah deretan filosofi, ataukah struktur makro bangunan peradaban, ataukah strategi sejarah, atau panduan ajaran yang melapangkan jalan agar ketika manusia Indonesia mati: Tuhan bersedia menerimanya.”

“Nggak usah dulu sampai ke Sila ke-5 yang rasanya mustahil tercapai. Sebab Sila ke-4 nya salah produk dan mal-praktek, sebab pabrik kepemimpinan dan manajemennya, yakni Sila ke-3, juga salah maqam, ngawur, ambisius, jahat, tega dan sama sekali tidak memprimerkan kepentingan rakyat dalam keutuhan Persatuan Indonesia. Tentu karena Sila ke-2 nya juga tidak menitikberatkan pada pengabdian pendidikan, melainkan membias ke kepentingan-kepentingan pasar. Besok-besok saja kita berdebat soal 4 Sila itu. Sekarang, sekali lagi jangan bilang bahwa Tuhan itu penting. Penting bagaimana. Kenalan sama Tuhan saja tidak serius. Coba, dulu yang bikin Pancasila, juga kita semua sekarang: dari mana kok tahu bahwa Tuhan itu Maha Esa?…”

Terpaksa saya memotong Pèncèng. Saya rangkul dan bisiki telinganya. “Ngamuknya ditunda dulu ya Cèng. Soal Mencari Buah Simalakama nggak apa-apa kita tunda. Semua pikiranmu tentang Pancasila juga nanti kami dengarkan. Tapi ini Simbah sedang ada tamu. Ada tiga orang besar sedang dikirimi teluh, sihir, teluh, santet. Yang satu kakinya dibikin tak bisa berjalan, punggungnya dimasuki logam-logam. Lainnya rumahnya dipenuhi ular-ular berbisa. Satunya lagi disuruh memilih: yang mati dia, atau istrinya, atau anaknya. Di luar itu ada seorang Cagub yang diserbu juga tapi meleset ke adiknya, dirusak empedunya, rusuk ke-11 tenggorokannya dan levernya naik mendesak ke atas, sekarang koma di Rumah Sakit…”

“Ah, zaman sudah maju begini kok omong santet”, Pèncèng bereaksi menegasikan informasi Gendhon.

“Karena kamu tidak percaya maka memang sebaiknya kamu disentuh juga sedikit oleh sihir hitam, sehingga mendadak kamu uring-uringan, jiwamu mengamuk dan mulutmu ngomyang…”, jawab Gendhon.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image