Daur-II • 035

Kesucian dan Sajadah Cinta

Brakodin mengisahkan ada seorang Syekh, seorang Imam, cucu seorang Imam besar, di Kota Suci, yang kalau mengalami sesuatu yang penting sehingga beliau memerlukan nasehat Rasulullah saw, beliau minta tolong kepada Kiai yang menghubungi Mbah Sot itu untuk beristikharah, memohon petunjuk Allah, melalui kekasih-Nya.

Kalau Syekh beristikharah, sangat jarang dikabulkan untuk berjumpa dengan Rasulullah. Entah bagaimana menjelaskannya, kalau ia minta tolong kepada Kiai ini, maka hajat untuk mendapatkan nasehat itu dikabulkan. Sepertinya begitu mudahnya Kiai ini bertamu kepada Rasulullah, disambut dan dijawab pertanyaannya.

Tentu kita semua berpikir itu soal tingkat kekhusyukan dan kadar kesucian. Semua parameter rohaniah berhimpun di dalam peristiwa terkuaknya hijab antara seseorang dengan Kanjeng Nabi: kehalalan hidup, kesucian hati, kekhusyukan ibadah, kezuhudan, totalitas tauhid, keikhlasan untuk tiada, butiran terdalam dan paling inti dari hakiki tauhid.

Tidak ada zarrah yang tak halal di setiap butir darah Kiai. Tidak ada sedebu riba yang mengotori daging tulang darah syaraf otot Kiai. Tidak ada langkah kaki dan gerak tangan Kiai yang bukan ibadah kepada Allah. Tidak ada desiran hati dan pergerakan pikiran yang tidak merupakan getaran cinta dan kerinduan kepada Allah dan Rasul kekasih-Nya.

Sajadah cinta itu telah digelar: “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. [1] (Al-Kahfi: 110).