Kegembiraan Dapur 17 Tahun Kenduri Cinta

Gendheng arek-arek iki!!  Saya tidak menduga betapa totalitasnya teman-teman Penggiat Kenduri Cinta dalam mempersiapkan acara 17 Tahun Kenduri Cinta Jum’at lalu (16/6). Ada beberapa alasan yang awalnya saya mengira mereka tidak akan sebegitu seriusnya itu. Pertama, pelaksanaan Kenduri Cinta bulan ini dilaksanakan pada Bulan Ramadhan, tentu energi fisik mereka tidak seperti bulan-bulan biasanya. Kedua, kebanyakan dari mereka adalah pendatang dari luar kota yang bekerja di Jakarta, sementara arus mudik sudah dimulai, tetapi mereka memilih untuk menunda mudik ke kampung halaman. Ketiga, mereka itu adalah juga para pekerja, yang siang harinya harus bekerja di kantor mereka. Tetapi, hari itu ada yang mengorbankan jadwal kerja mereka hari itu, dan mengganti dengan jadwal untuk masuk kerja di hari libur mereka.

Saya ingat, pertama kali saya terlibat dalam event Kenduri Cinta pada Desember 2014 silam, saat itu KiaiKanjeng hadir dalam Kenduri Cinta yang bertajuk “Allah Audienku”. Dan saat itu, saya masih terbilang ‘anak baru’ di Kenduri Cinta. Sehingga, yang saya lakukan hanyalah mengamati sedikit demi sedikit kesibukan teman-teman yang lebih senior dari saya saat itu. Saya tidak terlibat banyak saat itu, karena saya menyadari masih baru. Saat itu, saya belajar bagaimana teman-teman Penggiat Kenduri Cinta seperti; Tri Mulyana, Nink Nonk, Amien Subhan, Ibrahim, Sholeh, Mas Adi, juga Gandhie tentunya bahu membahu menyukseskan acara malam itu.

Singkat cerita, saya kemudian bergabung di Forum Reboan. Tercatat, selain event 17 Tahun Kenduri Cinta pekan lalu, ada; 14 Tahun Kenduri Cinta “Bayang-bayang Para Ksatria”, Kenduri Cinta Mei 2015 “KiaiKanjeng Unhidden Hand”, Kenduri Cinta Januari 2016 “Gerbang Wabal”, dan 16 Tahun Kenduri Cinta “Deformasi Informasi” yang menghadirkan Letto adalah Kenduri Cinta yang dikemas lebih ‘”mewah”’ dari biasanya. Dan di setiap perhelatan itu, saya pribadi selalu memiliki momen yang sangat berkesan.

Seperti pada edisi 14 Tahun Kenduri Cinta misalnya, event Kenduri Cinta di mana saya baru pertama kali terlibat di dalamnya dan saya bertanggung jawab sebagai pengatur lalu lintas acara, bahasa kerennya; stage manager. Bagi yang ingat, perayaan 14 Tahun Kenduri Cinta saat itu dilaksanakan pada hari Senin. Tentu saja pertanyaan besarnya adalah; apakah iya akan ada yang datang? Karena esoknya adalah hari kerja, dan ini Jakarta, di mana orang lebih enggan keluar rumah selain di hari weekend.

Tentu saja, saya pribadi ada sedikit kekhawatiran tidak seramai biasanya. Padahal saat itu, selain KiaiKanjeng kami mendatangkan Komunitas 5 Gunung asuhan Pak Tanto Mendut, salah satu sahabat Cak Nun di Magelang. Bahkan pada hari pelaksanaan, kami juga harus mengakomodir Teater Flamboyant yang jauh-jauh datang dari Mandar. Shock! Sudah pasti. Ini event besar Kenduri Cinta, dan kolosal, di hari senin pula. Namun, saya melihat teman-teman penggiat lainnya tampak percaya diri dan tenang-tenang saja. Fokus mereka adalah mempersiapkan segalanya, bukan soal berapa banyaknya yang hadir. Waktu itu saya ingat betul, karena pada hari tersebut saya memiliki agenda bersamaan, yakni saya memiliki jadwal interview di calon kantor baru saya di wilayah Jakarta Selatan. Singkatnya, acara tersebut berjalan lancar hingga akhir acara, dan Alhamdulillah saya juga diterima di kantor yang meng-interview saya hari itu.

Pada event-event berikutnya, saya bertemu dengan teman-teman baru yang bergabung di Forum Reboan, yang mana kemudian dinamika yang saya alami semakin kompleks. Pressure, gesekan, senggolan, bahkan benturan sudah biasa terjadi. Ketatnya pengawasan yang dilakukan oleh satu sama lain dalam mengawal proses pelaksanaan acara dari awal hingga akhir. Artinya bukan hanya pada Hari H pelaksanaan, melainkan sejak awal kesepakatan untuk menyelenggarakan sebuah event besar, hingga akhirnya pada saat laporan akhir berupa dokumen “Laporan Pertanggung Jawaban” disusun.

Seperti yang saya sampaikan di awal, saya tidak menduga bahwa teman-teman Penggiat Kenduri Cinta begitu total dalam mendukung penyelenggaraan event 17 Tahun Kenduri Cinta kali ini. Dilaksanakan dalam Bulan Puasa, persiapan fisik dan psikologis mereka sudah pasti berlipat-lipat dari biasanya. Dan faktanya, mereka justru sangat antusias dan bergembira karena menjadi “pelayan” bagi Jama’ah Kenduri Cinta malam itu.

Tentu saja, karena tidak memungkinkan untuk bertemu setiap hari, koordinasi yang kami lakukan memanfaatkan fasilitas WhatsApp Group dan Email. Di awal pekan misalnya, Wawan sudah bertugas untuk mencetak Poster Baliho 17 Tahun Kenduri Cinta dan kemudian memasangnya di Etalase Pelataran Taman Ismail Marzuki. Untuk beberapa persoalan khusus selain di lapangan, Tim Formatur; Agus Susanto, Tri Mulayana, Sigit Haryanto, Nink Nonk dan saya sendiri terus menerus berkoordinasi dan saling memperbaharui informasi mengenai perkembangan persiapan dari sisi pendanaan dan detail-detail mengenai teknis nanti.

Koordinasi juga dilakukan untuk saling update bersama Gandhie, Ibrahim, Mas Adi, Pak Munzir, Amien Subhan dan yang lainnya yang kami anggap sebagai semacam “Dewan Pengarah” bagi kami yang masih muda. Mereka tentu jauh lebih memiliki pengalaman dalam mengelola event-event Kenduri Cinta sebelumnya, sehingga banyak hal yang masih harus kami mintai pertimbangan dan arahannya kepada mereka.

Sementara teman-teman lainnya; Heri Praestyo, Bram Koeswara, Barikurrahman, Afif Amrullah, Iwan, Ali Arrida, Zemi, Toni, Era Rahmah, Adjie, Donny, Nashir, Anik, Bukhori, dan Adjie adalah “Prajurit” yang semuanya sudah mendapat tugas masing-masing sesuai dengan proporsinya. Sejak pagi hari, sebagian mereka sudah ada yang stand by di Taman Ismail Marzuki untuk mengawal proses penataan Sound System di Panggung, sementara itu ada juga yang berjaga di penginapan, berkoordinasi dengan pihak penginapan terkait kamar-kamar yang akan digunakan oleh KiaiKanjeng. Sebagian yang lain sudah berada di Bandara Halim Perdana Kusuma menunggu pesawat yang dinaiki KiaiKanjeng mendarat untuk kemudian mengantarkan mereka menuju penginapan.

Semua penggiat, pada dasarnya juga adalah kaum pekerja di Jakarta. Selain Wawan yang bekerja sebagai seorang driver online, ada juga yang bekerja sebagai PNS di sebuah Departemen Pemerintahan, ada yang bekerja di sebuah perusahaan besar berskala Internasional maupun Nasional, ada yang bekerja sebagai Guru, ada yang bekerja sebagai karwayan sebuah Hotel, ada yang bekerja di sebuah perusahaan Advertising, ada yang juga berprofesi sebagai seorang pengusaha. Tetapi, semua identitas itu mereka tanggalkan. Semua guyub, saling berkoordinasi satu sama lain, menghadapi gesekan, benturan, tekanan pada hari pelaksanaan acara. Hanya ada satu kata yang tepat untuk menggambarkan keseriusan mereka; Tangguh.

Tangguh. Mereka tidak dibayar sepeserpun dari event sebesar 17 Tahun Kenduri Cinta ini. Mereka begitu tulus, ikhlas, bergembira menikmati detik demi detik mulai dari proses persiapan hingga akhir perhelatan. Mereka adalah pasukan yang tangguh, yang standby untuk berbagai kemungkinan selama acara berlangsung. Mereka bertugas sesuai dengan porsi dan kemampuannya masing-masing. Tentu saja harus terbagi rata, ada yang bertugas di panggung, ada yang bertugas di belakang panggung untuk mengurus distribusi Kopi, Rokok, dan Snack, ada juga yang bertugas di tengah-tengah acara berkeliling di tempat jama’ah duduk untuk mengedarkan kotak kencleng, yang tidak sepeserpun mereka berani mengambilnya. Bagi saya, mereka ini Absurd!

Selain mereka tidak mendapat bayaran uang, apalagi Tunjangan BPJS, THR pun mereka tidak mendapatkannya dari Kenduri Cinta. Betapa kagumnya saya kepada mereka, mau berlelah-lelah, mengorbankan waktu, tenaga, pikiran bahkan harta mereka untuk sebuah Komunitas Non-Profit seperti Kenduri Cinta ini di Ibu Kota. Apa yang mereka cari? Materi jelas tidak mereka dapatkan. Popularitas? Esksistensi? Agar dikenal banyak orang? Atau agar dekat dengan Cak Nun? Hahahahaha.

Banyak yang menganggap bahwa kami para Penggiat Kenduri Cinta adalah orang-orang “Ring 1” Emha Ainun Nadjib di Jakarta. Padahal, justru yang pertama kali dilakukan oleh “kakak-kakak” kami di Kenduri Cinta adalah untuk membuang jauh-jauh harapan “menjadi orang dekatnya Cak Nun”. Mereka ini, adalah anak-anak yang sudah sangat lega, sangat ikhlas jikalau hingga akhir acara tidak sempat bersalaman dan mencium tangan Cak Nun, guru yang mereka cintai.

Mereka menahan rindu satu bulan sekali, dan ketika bertemu, belum tentu bisa untuk sekedar mencium tangan beliau. Bagi mereka, melihat Jama’ah Kenduri Cinta bergembira malam itu adalah kepuasan yang tidak ternilai harganya. Mereka-mereka itu, pada Jum’at kedua setiap bulannya selalu ditanya oleh Jama’ah dengan sebuah pertanyaan; “Cak Nun hadir nggak malam ini?” Pertanyaan yang sebenarnya benar-benar mereka tidak mengetahui jawabannya. Mereka tidak mungkin menjawab “iya”, karena memang mereka sama sekali tidak mengetahui apakah Cak Nun hadir di Kenduri Cinta atau tidak. Sementara juga mereka tidak mungkin menjawab “tidak”, karena khawatir ternyata Cak Nun hadir malam itu.

Lebih-lebih, bagi kami yang hampir setiap Kenduri Cinta dilaksanakan harus bertugas di panggung. Mau tidak mau, jika Cak Nun hadir, kami bertugas untuk tetap standby di panggung, selain untuk berjaga-jaga mengatur lalu lintas acara, juga untuk bersiap jika tiba-tiba Cak Nun meminta resume dari diskusi yang sebelumnya berlangsung. Kalau boleh memilih, kami lebih baik memilih untuk duduk di paling belakang, menyimak jalannya diskusi, sambil menikmati kudapan-kudapan ringan, nyruput kopi sambil ngerokok. Saya sendiri sering merasa bersalah, karena banyak teman-teman Almamater saya dulu yang meminta bertemu dengan saya di Taman Ismail Marzuki saat Kenduri Cinta berlangsung, tetapi tidak dapat saya penuhi karena memang saya tidak bisa meninggalkan panggung.

Bagi anda yang hadir di acara 17 Tahun Kenduri Cinta kemarin, anda bisa menaksir sendiri berapa besar dana yang harus dianggarkan dan kemudian dibelanjakan untuk semua keperluan yang ada. Seperti akomodasi transportasi misalnya, mengingat jadwal KiaiKanjeng sangat padat, harus berada di Jakarta untuk 17 Tahun Kenduri Cinta, dan esok paginya harus segera kembali ke Yogyakarta untuk Mocopat Syafaat, dan hari berikutnya menuju Surabaya. Opsi menggunakan Pesawat Terbang adalah opsi terbaik yang kami pilih. Dengan resiko membengkaknya penggunaan anggaran dalam urusan transportasi tersebut. Belum lagi kebutuhan konsumsi dan penginapan. Juga kebutuhan Tenda, Panggung dan Sound System di Lapangan yang tentu lebih besar dari biasanya.

Tetapi, saya melihat betapa semua yang hadir ikut bergembira dan bersyukur dalam perayaan 17 Tahun Kenduri Cinta malam itu. Berbagai support mengalir deras berupa makanan, baik berupa Nasi Bebek, Lontong Medan, Kacang Goreng, Kurma, Snack, hingga Air Mineral berdatangan. Jauh dari yang kami duga sebelumnya. Yang juga kami syukuri adalah semua donasi makanan itu habis tidak tersisa, semua mendapat keberkahan dari 17 Tahun Kenduri Cinta.

Akhir kata, saya mengucapkan matur suwun kepada Cak Nun, Mbak Via dan KiaiKanjeng yang datang ke Kenduri Cinta “Full Team” dari Yogyakarta, kepada Mas Zakki Progress, juga kepada Jama’ah Maiyah Nusantara baik yang datang di Kenduri Cinta malam itu maupun yang hanya menyimak kegembiraan malam itu melalui media sosial.

Apresiasi yang tinggi saya sampaikan kepada teman-teman “Prajurit” Kenduri Cinta yang sudah berjuang dan mengorbankan waktu, tenaga, pikiran bahkan materi untuk kesuksesan perayaan 17 Tahun Kenduri Cinta ini. Kalian semua mengalami gesekan, benturan, tekanan yang sebenarnya tidak seharusnya kalian rasakan, tetapi yakinlah bahwa itu semua adalah salah satu episode hidup kalian yang kelak akan sangat berkesan dan menjadi cerita yang indah untuk dikisahkan kepada anak-cucu kalian.

Kok rasa-rasanya ndak mungkin Malaikat tidak terharu kepada kalian. Dan saya juga yakin, sepertinya jika kelak kalian ndak masuk Surga, ada banyak makhluk Allah yang akan protes dan menggugat kepada Allah kenapa kalian tidak masuk dalam daftar penghuni Surga.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image