Jum’at Pekan Kedua

“Apakah Cak Nun datang?”
“Mohon infonya, Min, bulan ini Cak Nun datang tidak?”
“Saya dari Tangerang, insya Allah bergabung!”
“KC bulan lalu, sound system-nya kurang bagus, mohon diperhatikan!”
“Jangan lupa, Min, streaming!”

DI BERANDA media sosial Facebook, sebelah pojok kanan atas, puluhan notifikasi berwarna merah, pertanda belum dibaca. Sekilas satu persatu saya baca. Ada beberapa komentar status, reply komentar, emoji tanda suka, undangan event, pengingat ulang tahun beberapa orang “perkawanan”, dst. Namanya perkawanan di sosial media, lebih banyak yang tidak saya kenali di dunia nyata. Dari seribu orang, mungkin hanya seratusan yang benar-benar sebagai kawan, pernah bertemu dan ngopi bareng, bahkan saling berbagi rokok sesekali.

Dari media sosial pula, saya mendapat undangan acara Kenduri Cinta, acara rutin Maiyahan sekali dalam sebulan, pada hari Jumat, pekan kedua. Undangan tersebut dibuat oleh salah satu penggiat Kenduri Cinta — dalam kesehariannya ia adalah seorang karyawan profesional di salah satu perusahaan operator telepon selular ternama di Indonesia–selama acara Kenduri Cinta berlangsung sibuk sebagai fotografer. Dulu bahkan, ketika media sosial belum dikenal luas oleh masyarakat, penggiat Kenduri Cinta ada yang bertugas mengirimkan ratusan pesan singkat untuk menginformasikan tanggal pelaksanaan Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki.

Dalam kolom komentar postingan undangan acara yang disebar melalu media sosial itu, sebagaimana cuplikan komentar-komentar di atas, selalu mengiringi setiap publikasi, poster acara, maupun mukadimah yang dibagikan di Facebook, Twitter official Kenduri Cinta. Tidak semua pertanyaan dijawab oleh admin, justru sesama user yang saling menjawab. Kemeriahan Kenduri Cinta di media sosial, terutama Twitter memang menjadi satu nuansa tersendiri yang mewarnai berlangsungnya forum ini pada setiap pelaksanannya. Seringkali tagar Kenduri Cinta menjadi trending topic, bahkan menempati urutan pertama.

Seperti halnya pertanyaan soal kedatangan Cak Nun bagi teman-teman penggiat Kenduri Cinta, tidak pernah mempertanyakan hadir atau tidaknya Cak Nun di Kenduri Cinta, mereka lebih fokus untuk menjalankan tugas masing-masing, mempersiapkan acara agar berlangsung dengan baik.

***

1996. Dua tahun menjelang bergulirnya Reformasi ‘98, Emha Ainun Nadjib, yang lebih sering disebut Cak Nun, saat itu sering pulang balik antara Yogyakarta dan Jakarta. Di Jakarta, Cak Nun tinggal di sebuah rumah kontrakan di daerah Tebet. Saat itu Cak Nun mendapat kepercayaan dari Tadjus Sobirin, Ketua DPW Partai Golkar DKI Jakarta, untuk menuliskan sebuah buku biografi. Kisah kehidupan seorang anak dari kampung di Kabupaten Cirebon, mengubah nasib dengan memasuki pendidikan militer, lalu dipercaya sebagai Bupati Kabupaten Tangerang, dan terakhir sebagai orang nomer satu di Partai Golkar untuk wilayah DKI Jakarta.

Gagasan penulisan Buku Biografi Tadjus Sobirin ini semula dipercayakan kepada Uki Bayu Sedjati, kawan lama Cak Nun, untuk menghubungi Cak Nun. Oleh Cak Nun, tugas kepenulisan, selain kepada Uki Bayu Sedjati (mantan wartawan Majalah Amanah), juga dimandatkan kepada Nadjib Kertapati Zuhri (penulis cerpen, novel, dan skenario FTV) dan Eko Tunas (penulis cerpen, novel dan pelukis) yang juga kawan lama Cak Nun.

Gejolak suhu perpolitikan di Indonesia makin memanas. Para tokoh dan aktfis Pro Demokrasi, –untuk menyebut istilah “oposisi”– bersama dengan gerakan mahasiswa seluruh Indonesia, menggelorakan reformasi terhadap kepemimpinan Soeharto selama tiga dasawarsa, semasa Orde Baru. Makin runyamnya kondisi bangsa dan Negara Indonesia, masyarakat makin tidak percaya terhadap kewibawaan pemerintah, harga-harga kebutuhan pokok melambung, kerusuhan terjadi di mana-mana, di berbagai wilayah, terutama di kota-kota besar.

Adalah Adil Amrullah, salah satu adik kandung Cak Nun yang menyeret Cak Nun untuk berkeliling ke pelosok-pelosok Ibukota Jakarta menebarkan harapan-harapan dan optimisme baru kepada masyarakat kecil. Adil Amrullah, kemudian membentuk wadah Himpunan Masyarakat Shalawat, disingkat sebagai HAMAS, sebagai pusat manajemen kegiatan acara-acara Cak Nun. Dibantu pelantun-pelantun shalawat, antara lain: Haddad Alwi, Zainul Arifin (alm), Sudrun, dan Muhammad Adib. Sesekali menyertakan juga beberapa personel KiaiKanjeng dengan peralatan musik minimalis, yang kemudian dikenal dengan sebutan Mini Kanjeng.

Tahun 1997, usai menikah dengan Novia Kolopaking, Cak Nun lebih banyak tinggal di Jakarta, di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara. Agar lebih terkoordinasikan, Kantor Sekretariat HAMAS mengontrak rumah tidak jauh dari tempat tinggal Cak Nun. Singkat cerita, Reformasi 1998 bergulir, satu hari setelah Soeharto menyatakan berhenti dari jabatan Presiden, Cak Nun memutuskan untuk kembali terjun ke pelosok-pelosok daerah di Jakarta juga di daerah lain di Indonesia, untuk kembali Shalawatan. Karena Cak Nun menyadari, gerakan Reformasi 1998 hanya omong kosong belaka.

Beberapa wilayah Jakarta yang pernah menjadi tempat acara, menjadi titik-titik komunitas HAMAS, dan menjadwalkan rutin acara Cak Nun dan HAMAS. Yaitu: Tomang, Grogol (Jakarta Barat), Tanjung Priok, Penjaringan (Jakarta Utara), Bekasi, Depok, dan Tangerang. Sementara Cak Nun sudah mempunyai jadwal pengajian rutin: PadhangmBulan (Jombang), Haflah Shalawat (Surabaya), Mocopat Syafaat (Yogyakarta) dan Pengajian Tombo Ati (Solo) serta acara tentatif, Papparandang Ate di Mandar, Sulawesi Selatan (kini Polewali Mandar, Sulawesi Barat)

Atas permintaan beberapa kalangan agar diselenggarakan pengajian rutin sejenis “PadhangmBulan” di Jakarta, Mustofa Akbar, kawan lama Cak Nun, menginisiasi pertemuan beberapa perwakilan dari Jakarta, Bekasi, Depok, dan Tangerang di Masjid Istiqlal. Pertemuan tersebut untuk mempersiapkan nama forum, tempat, dan siapa yang ditunjuk sebagai koordinator acara. Cak Nun mengusulkan nama Kenduri Cinta”, tempat acara dipilih di tengah-tengah kota agar memudahkan transportasi dari berbagai wilayah Jakarta dan sekitarnya. Pilihan pertama di Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki, pada hari Jumat, pekan kedua.

Untuk menyongsong lahirnya Kenduri Cinta, Cak Nun menerbangkan pengamen jalanan dari Yogya, Sujud Kendang. Perwakilan HAMAS Jakarta Utara, Jakarta Barat, Tangerang, Bekasi, dan Depok menyewa beberapa bus untuk mengangkut jamaah dari masing-masing wilayahnya. Sementara Syahid Ibrahim ditunjuk sebagai koordinator, yang mengurusi segala sesuatunya, dibantu Yusron Aminulloh, yang kesehariannya sebagai manajer acara-acara Cak Nun dan HAMAS, serta Hilman Farikhi, yang mengabdikan diri sebagai “driver”-nya Cak Nun. Hilman, anak seorang kyai, KH Maftuh Ikhsan, mengikhlaskan tenaga dan mobilnya untuk mengantar ke berbagai acara Cak Nun dan HAMAS.

Pada tahun 2000, pertengahan Juni, diselenggarakan pertama kali Kenduri Cinta, panggung di tengah-tengah menghadap ke arah Gedung Graha Bhakti, atau sebelah persis Gedung Planetarium. Acara dipandu oleh Yusron Aminulloh, dan mempersilakan Cak Nun untuk mengawal acara sampai selesai. Pengisi acara, selain pertunjukan Kendang Tunggal Sujud, juga penampilan gitar akustik Agung Waskito (alm) dan perwakilan dari berbagai agama.

Bulan Juni 2017, tepat 17 tahun usia Kenduri Cinta. Semoga Allah senantiasa membimbing para penggiat, yang tiap tahun silih berganti, tetap di jalannya, istiqomah, konsisten dengan nilai-nilai kebenaran untuk mencapai Indonesia Mulia.

Catatan ini, saya persembahkan untuk guruku, Muhammad Ainun Nadjib. Takzimku tak selesai-selesai.

Jakarta, 08.06.2017

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image