Daur-II • 065

Jarak Dari Hubban Jamma

Puluhan tahun Brakodin mengamati kehidupan Markesot. Terkadang ia berada pada suatu jarak sosial budaya yang membuat di pandangannya Markesot tampak sebagai “orang yang hidupnya serba kekurangan”. Di saat lain Brakodin menemukan jarak di mana Markesot adalah “orang yang hidup dengan sangat sederhana”.

Bahkan ada juga jarak yang potret Markesot adalah “orang yang selalu menyiksa dirinya”, atau “orang yang sangat berpuasa dari kesenangan dunia”. Terkadang ada sisi “Markesot adalah orang yang tidak pernah berbahagia”, namun tiba-tiba terasa “Markesot adalah orang yang tidak pernah menderita”. Atau ada sudut pandang “Markesot orang yang tidak pernah punya apa-apa”, kemudian sebaliknya: “Markesot berperilaku seperti orang yang punya apa saja”.

Tatkala pada suatu malam Brakodin berhasil memancing Markesot tentang berbagai pandangan itu, ia berkata “sebenarnya yang terjadi pada diri saya adalah ketakutan yang terus menerus kalau-kalau saya ini hidup secara berlebih-lebihan”.

Brakodin mensimulasikan istilah “mengalami ketakutan” itu bisa juga berarti “waspada”, “hati-hati”, “tidak mau semberono”, “sangat menjaga diri”. Atau, jangan lupa, itu juga bisa berarti Markesot “sedang menutupi ketidak-punyaan duniawinya”. Atau “pelarian dari gagal perjuangannya untuk membangun hidupnya”. Bahkan “Markesot bukan orang yang sedang menempuh jalan zuhud atau tasawuf, karena memang dia tidak punya kekayaan dan kemewahan apa-apa”.

Ngakunya sih Markesot tak ingin mencelakakan dirinya di hadapan Tuhan karena mengabaikan peringatan-Nya: “dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan”. [1] (Al-Fajr: 20).

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra