Hentakan Tarikat “Ya Huu” dan Kasunyatan Politik Nasional

Catatan Majelis Ilmu Mocopat Syafaat, Yogyakarta 17 Juni 2017

Sangat jarang terjadi, saya berangkat ke Mocopat Syafaat dengan berpakaian rapi. Setidaknya rapi dalam standar saya sendiri. Kalau mau jujur sebenarnya sih, kemana-mana juga saya jarang rapi. Masa-masa urakan dengan celana jeans sobek dan kaos metal memang sudah berlalu, dan maksud saya bukan seurakan itu juga.

Mocopat Syafaat Juni 2017
Mocopat Syafaat Juni 2017

Malam tanggal 17 Juni 2017 ini salah satu yang jarang itu. Saya berangkat ke TKIT Alhamdulillah, lokasi majelis kegembiraan ilmu, paseduluran, kemesraan Mocopat Syafaat yang diadakan setiap bulan. Suasana Ramadhan, saya berangkat tepat setelah selesai menjalankan sholat tarawih di langgar dekat rumah.

Malam ini entahlah, suasana hati sedang mellow. Bisa saja karena akhir bulan lalu Sistar baru saja bubar. Sistar itu girlband Korea favorit saya. Bubarnya Sistar, yang beranggotakan empat bidadari Hyorin, Dasom, Bora, dan So You menandakan akhir dari 2nd generation…. Sebentar, itu tidak perlu saya bahas di sini. Ah, saya memang benar-benar sedang sendu.

Mungkin bukan itu saja faktornya, banyak dan tentu saya tidak bisa ceritakan semua di sini. Kita tidak perlu tahu bahwa ada badai sedang dan selalu berkecamuk di Planet Jupiter, hujan asam di planet Merkurius, sebuah negara mungkin sedang menyatakan kemerdekaannya sementara negara lain sedang diambang kehancuran; Jim Morrison mungkin sedang berpesta, ketika Soekarno membacakan proklamasi kemerdekaan tahun 1945. Mungkin.

“Kualitas emosional adalah hambatan untuk berpikir jernih” kata Sherlock Holmes, bukan yang serial. Ini yang dari novelnya karangan Sir Arthur Conan Doyle, kalau tidak salah ingat dalam episode The sign of Four.

Kali ini saya mengalaminya. Kesenduan ini membuat saya lama sekali bisa menyusun reportase Mocopat Syafaat Juni 2017 ini.

Padahal, seperti kita mafhumi bersama majelis-majelis Maiyah bukanlah golongan murni petapa kebatinan yang masa bodo dengan kondisi di luar sana. Walau Maiyah juga selalu menjaga jarak demi tetap bisa berpikir jernih dalam membedah persoalan-persoalan.

Tapi malam itu saya memang ingin sendirian saja, mojok di angkringan berbekal rokok lintingan dan pipa cangklong.

Membicarakan dan menuliskan Maiyah, mestilah selalu kita sambung-sinambungkan dengan kondisi ekosospolbud yang sedang faktual. Hanya saja penundaan menyelesaikan reportase ini membuat saya lupa, apa yang sedang hangat kali itu. Tapi bisa kita pastikan ini; pertikaian antar kubu dan golongan belum mereda, slogan-slogan agama dan slogan Bhinneka yang sama-sama dilahirkan dari sesuatu yang sakral menjadi alat untuk menghantam golongan lain.

***

Saat saya tiba, di atas panggung teman-teman dari lingkar Diskusi Martabat sedang membuka acara dengan diskusi Tadabbur Daur. Sayang, saya tidak bisa menuliskan banyak karena sudah keburu selesai.

Panggung pun kemudian diisi oleh bapak-bapak KiaiKanjeng yang langsung membawakan nomor-nomor sholawatan. Apakah memang lagunya atau suasana hati saya, rasanya koq nomor-nomor yang dibawakan juga sendu ya?

Saya menyimak sambil merokok dan ngopi di angkringan setelah sebelumnya menghabiskan sepiring nasi rames.

Tuan Guru Bajang, Mocopat Syafaat Juni 2017
Tuan Guru Bajang, Mocopat Syafaat Juni 2017

Niat untuk meresapi nuansa Maiyah malam itu dengan berteman sepi rupanya gagal. Tidak lama berselang beberapa kawan bergabung bersama saya. Tidak mengganggu, toh Maiyah adalah paseduluran bukan? Hanya ya, di luar rencana saja.

Sementara di atas panggung, menemani lantunan denting-denting KiaiKanjeng, Pak Toto telah pula bergabung. Sesekali mengawal pembahasan di sela lagu.

“Wujud qidam baqo mukhlafatul lil hawadiitsi
Qiyamuhu binafsihii….”

Suara Mas Islamiyanto sangat menyentuh.

Pak Toto sempat berkomentar “Iki lagu opo?” Dijawab oleh Mas Islmaiyanto bahwa ini isinya mengenai sifat-sifat wajib Allah Swt. Pak Toto lalu merespons, “Gusti Allah koq nduwe kewajiban? Sopo sing ngewajibke?”

Pak Toto ini selalu saya kagumi karena cara berpikirnya yang sangat fundamental, beliau melihat sesuatu secara mendasar. Benar juga, ini lagu yang sudah kita akrab sejak kecil dan itu mungkin pertanyaan-pertanyaan kita yang lumrah muncul pada masa kecil kita tapi terkubur oleh dogma, ajaran, dan lama-lama, kemalasan bertanya. Sementara Pak Toto, setia dengan otentisitas itu. Kata Einstein “Anda harus benar-benar jenius atau benar-benar polos, untuk bisa memahami kehidupan.” Pak Toto saya rasa memiliki kedua hal itu.

Pukul 23.00, Mbah Nun belum juga naik panggung. Ada suasana yang sedikit gelisah di barisan JM. Kita perlu menyadari juga, bahwa kehadiran Mbah Nun dalam majelis-majelis Maiyah merupakan bentuk shodaqoh Beliau sebab sesungguhnya tidak ada kewajiban bagi Mbah Nun untuk selalu hadir secara fisik. Tapi rindu, memang wajar.

Sempat juga tampak beberapa orang yang datang ke lokasi dengan masih menenteng koper dan tampak baru turun dari pesawat di bandara, lha iya masa pesawat turun di pasar.

Sekitar pukul 23.00 Mbah Nun naik panggung, juga turut naik ke panggung seorang sahabat Mbah Nun yang disapa Pak Iyas, saya mungkin sedang diajak ngobrol oleh seorang kawan sehingga saya lupa nama lengkap beliau. Selanjutnya Pak Iyas banyak membahas soal politik. Sementara seorang lagi yang turut menyertai Mbah Nun rupanya Beliau adalah Tuan Guru Zainul Majdi, Gubernur NTB yang akrab disapa Tuan Guru Bajang.

Pak Iyas dan Tuan Guru Bajang bergantian memperkenalkan diri diiringi dengan sedikit pertanyaan-pertanyaan penggalian dari Mbah Nun. Ada satu momen yang saya nantikan malam ini, dan ini salah satu alasan kesenduan itu, yakni nomor apa yang akan dibawakan Mbah Nun kali ini.

Tidak lama, Mbah Nun dan KiaiKanjeng membawakan nomor Takbir Akbar yang dipuncaki dengan repetisi Yaa Hu sampai pada intensitas tertentu. Saya memiliki dokumentasi pribadi dalam memori otak saya, bahwa tepat setahun lalu pada bulan dan tanggal yang sama pada momen menjelang pergantian hari sekitaran pukul 00:00 waktu itu Mbah Nun dan KiaiKanjeng melantunkan lagu Bangbang Wetan.

Tahun lalu Bangbang Wetan, tahun ini Takbir Akbar. Momen itu akan kembali saya simpan di hard disk paling internal saya pribadi.

“Cak Nun ini rupanya seorang ahli thoriqot,” kata Tuan Guru Bajang ketika nomor dzikir berujung Yaa Hu itu selesai dilantunkan. Tuan Guru Bajang menjelaskan dzikir Yaa Hu dalam dunia tasawuf adalah dzikir tertinggi. Menurut Tuan Guru Bajang yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir ini, urutan tauhid adalah La ilaha illallah, kemudian lebih inti lagi adalah illallah, dan puncaknya adalah Ya Huu, dan ketiganya adalah inti tauhid.

Mbak Novia Kolopaking bersama KiaiKanjeng, Mocopat Syafaat Juni 2017
Mbak Novia Kolopaking bersama KiaiKanjeng, Mocopat Syafaat Juni 2017

Tuan Guru Bajang sendiri, selain seorang gubernur adalah putra pendiri Nahdhatul Wathan yang berpusat di Pancor, NTB. Awal 2013 silam, lembaga pendidikan Beliau yakni STKIP Hamzanwadi Pancor pernah mengundang Cak Nun dan KiaiKanjeng dan dalam acara Milad STKIP Hamzanwadi. Tuan Guru Bajang selaku pimpinan yayasan dan sekaligus pengasuh lembaga pendidikan tersebut  duduk bersama Mbah Nun di depan ribuan santri dan civitas akademika.

Pada kesempatan Mocopat Syafaat malam itu, Tuan Guru sempat membawakan lagu berbahasa Arab dan merupakan salah satu lagu di lingkungan Nahdlatul Wathan. Intinya lagu ini bercerita tentang nasionalisme yang dengan itu Tuan Guru Bajang mengatakan bahwa santri bukanlah mualaf Pancasila.

Asiknya, Mbah Nun meminta dulu Tuan Guru Bajang membawakan sendiri pelan-pelan supaya KiaiKanjeng bisa mendengarkan dengan, dan kemudian dibawakan lagi bersama iringan musik KiaiKanjeng. Tuan Guru Bajang terperanjat kok bisa cepat sekali KiaiKanjeng memusiki lagu berbahasa Arab yang dibawakan itu, yang mungkin baru kali ini bapak-bapak KiaiKanjeng mendengarnya.

Memberi impresi tentang sosok gubernur NTB yang pernah menjadi gubernur termuda di Indonesia, Mbah Nun mengatakan Tuan Guru Bajang sebagai satu fenomena dalam dunia perpolitikan negeri ini. Bahwa sosok Tuan Guru Bajang sebagai tokoh kultural kemudian masuk ke dalam dunia politik praktis dan mampu menggapai tampuk pemerintahan oleh Mbah Nun dipandang sebagai sesuatu yang sehat. Itu jarang terjadi di tempat lain di mana tokoh politik dan tokoh kultural selalu dipisahkan oleh sistem sekuler.

Selanjutnya pembahasan mengenai politik nasional bergulir. Pak Iyas banyak memberikan gambaran mengenai betapa tidak sehatnya dunia politik kita saat ini. Dilengkapi juga oleh Mbah Nun, bahwa ada satu nama yang sedang diincar untuk dimasukkan dalam daftar nama terduga dalam kasus korupsi E-KTP. Bukan orangnya yang benar-benar penting, tapi karena apabila dia sampai terkena kasus tersebut maka peta perpolitikan nasional bisa berubah drastis.

Pak Iyas juga menjelaskan fenomena makelar dalam politik. Mereka yang kerjanya berlapis-lapis, dari makelar jabatan, makelar proyek dan lainnya. Orang yang sempat disebut oleh Mbah Nun itu, memang adalah seorang yang memegang peranan penting dalam struktur makelar-makelar dan petualang-petualang politik negeri ini.

Sementara itu Mbah Nun memberikan cara sederhana dalam memahami politik Indonesia yakni seperti melihat sepakbola Indonesia. Bahwa semua bisa diatur hampir semua elemen di dalamnya.

Ada beberapa ciri yang disebutkan oleh Mbah Nun mengenai sosok itu, yang membuat dalam otak saya terbersit satu nama. Tapi tidak perlu disebut semua ciri. Cukup bahwa orang ini sempat ramai dibahas ketika kasus ‘papa minta saham’ beberapa waktu lalu, insyaallah kita semua juga tahu.

“Sekarang ini masih tahun 2017, tapi dalam dunia politik mereka semua pikirannya sudah 2019. Semua agenda diarahkan menuju ke sana”.

Ya, kita sudah tidak perlu terperdaya dengan apa-apa yang ditawarkan oleh para politisi di kahyangan sana. Kuda-kuda kewaspadaan kita pancangkan.

Penuh Sesak, Mocopat Syafaat Juni 2017
Penuh Sesak, Mocopat Syafaat Juni 2017

Malam itu bapak-bapak personel KiaiKanjeng meninggalkan panggung lebih awal karena pada malam selanjutnya sudah ditunggu jadwal acara di Jawa Timur, dan sudah harus berangkat.

Mbah Nun masih melayani beberapa pertanyaan dari sedulur-sedulur JM. Dari pertanyaan paling personal sampai kegelisahan yang mengglobal.

Tuan Guru Bajang sendiri sempat menyaksikan dan tertakjub-takjub dengan pembacaan puisi oleh Pak Mustofa W. Hasyim dan orasi Kyai Muzammil.

Sebelum kemudian Kyai Muzammil memimpin doa penutup malam itu.

Acara baru akan selesai ketika seruan “Sahuur… Sahuurrr…” dari masjid entah yang mana terdengar memekakkan telinga.

Ini adalah subuh hari tanggal 18 Juni 2017.

Ini adalah pertama kalinya saya berangkat Maiyahan dengan baju kemeja. Saya rasa, saya ingin melanjutkan seperti ini.

Untuk sedikit memberi penghormatan pada sebuah majelis yang telah memberi banyak hal dalam hidup saya. Maiyah memberi banyak. Yang kita terima belum tentu sebanyak apa yang telah diberikan karena semua itu bergantung pada daya tangkap masing-masing kita.

Seperti juga ini, begitu banyak bahasan malam itu tapi hanya sedikit sekali yang bisa saya sampaikan dalam tulisan ini. (MZ Fadil)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image