Dhiyaan

Sebelum menjadi Dian, terlebih dahulu kata itu dituliskan dalam bentuk yang sedikit berbeda yaitu “Dhiyaan”. Huruf A kedua dibaca tegas, terpisah dari A yang pertama seperti ketika kita ucapkan “Maaf”, dan bukan dibaca “Naar” dengan vokal A kedua luluh terhadap yang pertama kemudian dibaca panjang. Oya, Naar ini artinya cukup mengerikan yaitu api, atau api neraka. Lawan Naar adalah Nuur yang berarti cahaya.

Dhiyaan, dalam bahasa Arab klasik yang digunakan 14 abad lalu, digunakan secara bersamaan untuk menjelaskan Matahari dan Bulan. Disebutkan bahwa Tuhan menjadikan matahari itu Dhiyaan sedangkan bulan Nuuran. Dalam bahasa Gujarati, kemungkinan juga dipengaruhi oleh bahasa Arab, arti Dhiyaan adalah ‘bintang terang’. Dalam ilmu Astronomi, matahari dikategorikan sebagai bintang yang memiliki sumber terangnya sendiri. Sedangkan bulan adalah satelit bumi yang tawaf pada garis edarnya, yang menyerap cahaya untuk kemudian memantulkannya ke arah bumi ketika gulita tiba.

Matahari dan bulan adalah dua benda kosmos yang memiliki fungsi spesifik. Melalui matahari, energinya ia lepaskan untuk menerangi semesta di galaksi Bima Sakti, sementara bulan menampung kemurahan cahaya matahari untuk meneruskan kepada manusia yang butuhkan pelita dalam gulita. Sementara itu dalam skala mikro ada benda kosmos serupa yang fungsinya menyerupai salah satu di antara dua benda semesta tadi. Dalam diri manusia, hati (qalb) itu adalah mikrokosmos, organ rohani yang berfungsi sebagai reseptor cahaya, lalu memancarkan cahaya ke semesta manusia yang menubuhinya. Kalau hatinya salih, selamat pula keseluruhan kosmosnya. Demikian juga sebaliknya. Tentang ini, ada sebuah riwayat hadis Nabi Saw mengenai doa cahaya. Dari Nabi Saw: “Ya Allah jadikanlah hatiku cahaya, penglihatanku cahaya, pendengaranku cahaya, kananku cahaya, kiriku cahaya, di atasku cahaya, di bawahku cahaya, di depanku cahaya dan dibekakangku cahaya, lalu jadikanlah aku cahaya“. Hati yang salih bahkan sanggup mengubah esensi juga eksistensi manusia yang bermuasal kepada lempung menjadi cahaya.

Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al Ghazali menyebutkan bahwa ketika manusia tertidur, hati itu, berbolak-balik, ke arah sumber cahaya. Dengan disiplin dan latihan, hati bisa ditetapkan arahnya hanya kepada cahaya. Ini sebab ada doa “wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada sumber cahayamu (agamamu).” Konon, masih ada hirarki hati ini yang semakin lama semakin menanjak pencapaiannya. Masih ada Fuad dan Lub (jamaknya Albab).

Jika hati adalah benda kosmos serupa bulan, lalu di mana mataharinya? Penyair yang sering dijuluki si Burung Merak, almarhum WS. Rendra menggubah sebuah larik “… kesadaran adalah matahari”. Rendra mungkin saja telah menemukan atau sedang menempuh jalan makrifat dan melihat ada sebuah fase ketika tingkatan spiritual tertinggi dipuncaki oleh kesadaran yang murni, yang ilahi. Namun hanya ada seorang manusia luar biasa yang sampai pada kesadaran ini yaitu Rasulullah Muhammad Saw. Beliaulah yang sering disebut sebagai purwarupa manusia sempurna (insan kamil). Matahari kesadaran adalah puncak yang di dalamnya manusia menemukan bahwa sejatinya ia hanya pantulan di dalam cermin, bayang-bayang citraan, yang kemudian mendapatkan manifestasinya karena cinta kasih Allah semata, dan karena begitu inginnya Allah diketahui, layaknya sebuah gudang rahasia yang tersembunyi (kanzan makhfiyan). Wallahu a’lam.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image