Dari Lagu Umi Kultsum Hingga Nasab-Nasib Maiyah

Liputan Khusus Padhangmbulan Fuadussab’ah, Jombang 8 Juli 2017-Bag 4

Pengajian Maiyah Padhang Mbulan “Fuadussab’ah” memang sekaligus diniatkan buat memeringai milad ke-70 Cak Fuad. Acara dibuka oleh KiaiKanjeng dengan membawakan nomor Sukaro dari Umi Kultsum sebagai persembahan secara khusus kepada Cak Fuad sebagai salah satu pengasuh setia Padhangmbulan. Sebagai seseorang yang mendalami Bahasa dan Sastra Arab beserta sejarah dan peradaban Timur Tengah, Beliau akrab dengan musik-musik Ummi Kultsum dari Mesir yang berbahasa Arab.

Nomor El Albi dari Umi Kultsum juga dibawakan KiaiKanjeng. Foto: Adin
Nomor El Albi dari Umi Kultsum juga dibawakan KiaiKanjeng. Foto: Adin

Perlu diingat, sewaktu Cak Nun dan KiaiKanjeng diundang pentas di enam kota di Mesir pada 2003, nomor Umi Kultsum yang dibawakan KiaiKanjeng inilah yang bikin publik Mesir termehek-mehek dan tersanjung. Ada sekelompok orang nun jauh dari Indonesia piawai bawakan lagu Umi Kultsum. Pakai peranti gamelan yang aneh buat mereka tapi memikat mereka.

Dan makin terkejut-kejut bahwa rombongan KiaiKanjeng ini dipimpin oleh Cak Fuad yang sambutannya dalam Bahasa Arab yang fasih dan fushah bagi telinga mereka membuat menteri pendidikan setempat menginstruksikan agar sekolah-sekolah di Mesir yang notabene bahasa ibu mereka adalah bahasa Arab mengajarkan secara serius bahasa Arab fushah. “Malu lah sama Cak Fuad yang orang Indonesia dan belum pernah belajar di Timur Tengah tapi bahasa Arabnya sangat tinggi,” begitu pikir Pak Menteri.

Musik-musik Timur Tengah konon memiliki kemungkinan penggunaan nada-nada yang lebih banyak dari nada-nada musik ‘Barat’. Termasuk sinkopasi atau hitungan ganjilnya. Juga pola olah musik yang lebih variatif dinamikanya. Seperti nomor El-Albi yang dibawakan KiaiKanjeng semalam.

KiaiKanjeng memang menyiapkan sajian khusus untuk Padhangmbulan Fuadussab’ah dengan nomor-nomor Umi Kultsum digarap dengan baik oleh Kiai Kanjeng. Lagu-lagu Umi Kultsum ini aslinya berdurasi durasi panjang lebih tetapi oleh KiaiKanjeng bisa dibikin lebih ringkas.

Ada tiga nomor yang dijadikan penanda utama menyambut ultah Cak Fuad. Dua dari Ummi Kultsum (Sukaro dan El-Albi) dan dari penyanyi Lebanon bernama Fairus (Attini). Nomor Sukaro diangkat dari puisi karya Ibrahim Naji, penyair dari Mesir yang digarap musikalitasnya oleh Ummu Kulsum.

Perlu dicatat pula, bahwa sejak muda, termasuk saat tinggal di Patangpuluhan, Mbah Nun telah akrab dan sering menyetel lagu-lagu Umi Kultsum. Tak heran bila Lagu-lagu Umi Kultsum kemudian punya sedikit porsi mengilhami kreasi musik KiaiKanjeng, baik untuk interlude maupun intro dalam musik-musik sholawat KiaiKanjeng. Bahkan Kiai Kanjeng pernah menelurkan album khusus menggarap nomor-nomor panjang dari Umi Kultsum yang legendaris disebut sebagai al-Kawkabus Syarqiyyah alias Bintang Timur.

Salah satu kado khusus dari KiaiKanjeng untuk Cak Fuad adalah lagu ‘Attini’ yang dalam beberapa kesempatan bertemu KiaiKanjeng dimintakan buat dibawakan Cak Fuad. Pun tadi malam, Cak Fuad juga ikut melantunkan lagu yang sekilas mirip dengan lagu ‘Sang Surya’-nya Muhammadiyah. Tentu saja, suara Cak Fuad merupakan satu bentuk respons atas ungkapan dan kehadiran para jamaah pada malam ulang tahun Beliau ke-70.

Selain sambutan dan lagu-lagu dari KiaiKanjeng, juga ada persembahan dari simpul-simpul Jamaah Maiyah, salah satunya adalah dari Maneges Qudroh. Simpul Maiyah Maneges Qudroh dari Magelang menyajikan satu pertunjukkan teater yang dipadukan dengan pantomim dan dibawakan sangat apik. Mengangkat tema-tema sosial dan manusia beserta sifat-sifat ‘buruk’-nya serta tema unsur-unsur kehidupan teater ini dilatari musik Dangdut koplo yang menarik perhatian jamaah. Kritis namun tersaji manis.

Nasab-Nasib

Usai rangkaian mata acara “resmi” Fuadussab’ah, kini jamaah diajak masuk ke Pengajian Padhangmbulan sebagaimana biasa dengan sejumlah pembahasan. Cak Fuad mengurai tema Padhangmbulan kali ini dengan rasa syukur yang tersambung dengan nasib-nasab. Bagaimana setiap orangtua memiliki saham terhadap tumbuh kembang dan kualitas keturunan-keturunanya. Pengaruh yang turut andil turunnya ‘tugas’ yang sudah tercatat di Lauhul Mahfudh.

Jamaah tumplek blek menghadiri Padhangmbulan Fuadus-Sab'ah. Foto: Adin
Jamaah tumplek blek menghadiri Padhangmbulan Fuadus-Sab’ah. Foto: Adin

Selain Cak Fuad dan Mbah Nun, juga hadir pula Dokter Eddot dan Mas Sabrang MDP. Pak Eddot diminta Cak Nun turut merespons tema kali ini. Pak Edot menjelaskan nasab-genetik-keturunan dengan mengambil contoh dari ilmu musik ‘pentatonic’ atau susunan dari 5 nada. Bahwa berdasarkan pentatonic bisa dihasilkan keturunan yang beragam. Pentatonic Arab, China, Jawa, bahkan Sunda. Meski berbeda nuansa tapi tetap ada gen pentatonic-nya.

Sementara Mas Sabrang menjelaskan pentingnya mengetahui urutan Nasab atau pertalian keluarga. Tubuh manusia punya kemampuan untuk menyimpan  informasi genetik selama hidup yang diturunkan hingga generasi selanjutnya. Apapun yang dilakukan atau yang dihadapi semasa hidup direkam dalam DNA manusia dan terus dibawa hingga keturunan berikutnya. Informasi yang direkam oleh DNA akan mewujud dalam laku manusia sehari-hari. Ini adalah fakta yang menunjukkan bahwa orangtua punya pengaruh terhadap anak sejak takaran gen.

Memahami nasab memudahkan kita untuk memahami posisi orang-orang tua kita di kehidupan mereka. Ini penting agar kita punya pijakan keahlian atau kecenderungan sifat yang mungkin bisa diasah potensinya. Masyarakat yang punya kerapian atas pencatatan nasab adalah masyarakat yang paham pentingnya mewariskan nilai-nilai kepada generasi di masa depan.

Hari-hari ini memang Mbah Nun tengah memulai mengajak kita semua berpikir ke dalam Maiyah (internal) yang salah satunya dalam kerangka memahami “Nasab-Nasib Maiyah”. (Didik W Kurniawan, Hilmy Nugraha, Viha, dan Helmi Mustofa)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image