Cita-cita atau Ambisi?

Beberapa hal yang saya tangkap dari beberapa benih ilmu di Maiyah, salah satunya ketika Mbah Nun menyampaikan di berbagai forum Maiyahan bahwa hidup ini adalah getaran yang mengalir. Walau sampai saat ini pun saya belum bisa memastikan apa arti sebenarnya yang disampaikan beliau.

Yang saya lakukan sejauh ini hanya bisa meyakini, mentaddaburi, menduga, memperkirakan berbagai kemungkinan. Seperti halnya manusia adalah makhluk kemungkinan.

Wa qulil haqqu min robbikum. Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu.

Sering saya alami ketika duduk santai di rumah, berjalan dari tempat kerja ke lokasi parkiran kendaraan untuk menuju pulang ke rumah, terjadi seperti suatu percakapan, diskusi dalam pikiran, yang ujung-pangkalnya saya pribadi sulit untuk merumuskan apa sebenarnya yang terjadi.

Hal itu seperti gambaran suatu siklus pendapat yang “bergetar” dengan berbagai kemungkinan yang “mengalir”. Saya hanya bisa menyerap, menikmati, atau seminimal-minimalnya mewaspadai di setiap kalimat yang melintas dalam kesadaran dialektika itu.

Entah itu proses loading dari beberapa ilmu yang saya tangkap ketika di Maiyahan? Entah itu dialektika sedulur papat limo pancer? Atau mungkin kalau menurut orang modern, itu hanya sebuah khayalan? Maya? Walau selama ini yang disebut dunia maya dan nyata dalam pemahaman ilmu modern pun sampai sekarang sepertinya masih bias.

Maya adalah yang tampaknya ada, namun kenyataannya tidak ada. Kalau dalam pemahaman ilmu modern, dunia maya adalah sesuatu hal yang tidak bisa dilihat dan disentuh oleh panca indera. Yang diakui nyata yaitu ketika terjadi kopdar (kopi darat) pertemuan. Kalau belum kopdar berarti masih maya.

Sementara dari beberapa interpretasi tentang dunia maya dikaitkan dengan gadget, medsos, dan beberapa media online lainnya. Padahal di sisi lain mereka memilih menu aplikasi, mengetik huruf-huruf dengan jari-jarinya yang nyatanya merupakan bagian dari panca inderanya.

Maka tidak mengherankan juga ketika beberapa orang dengan cukup berani menyebar berita atau hal yang artifisial, tidak sesuai fakta, untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Dan jika ada pihak yang tidak setuju pada pendapatnya, di saat yang sama dengan mudahnya mengungkapkan “ini hanya dunia maya lho…”. Padahal di sisi lain barisan huruf-huruf itu berpotensi memengaruhi pola pikir, sikap, perilaku dan emosional bagi pembaca.

Lain cerita lagi ketika hal itu diungkapkan dari orang pihak ketiga dengan kejujuran sikap sekadar untuk ngayemi, meredam emosi bagi si pembaca tentang hal yang artifisial itu. Walau hal itu juga bisa dikatakan kurang tepat dalam perspektif pandang lainnya.

Dalam forum acara Sinau Bareng di lapangan Banyak Prodo, Tirtomoyo, Wonogiri, Mbah Nun menyampaikan bahwa manusia hanyalah makhluk yang diadakan oleh Allah. Dan di beberapa forum Maiyahan, Mbah Nun sering menyampaikan bahwa hidup di dunia barulah babak penyisihan. Dunia bukan rumah singgah, hanya outbound sejenak. Atau istilah Jawanya urip iku mìng mampir ngombe.

Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (Al-Ankabut: 64)

Ketika masih belajar di bangku SMP, salah satu guru saya pernah melakukan audensi terhadap murid-murid dalam satu kelas dengan menanyakan “cita-citamu ingin menjadi apa?” Pertanyaan itu dimulai dari bangku paling depan secara berurutan ke belakang. Dengan penuh percaya diri beberapa murid menjawab; ingin menjadi pilot, dokter, tentara, polisi, insinyur.

Hingga sampai di pertengahan bangku, salah satu teman saya menjawab dengan lantang ingin jadi “Sopir…!!!”

Dengan spontan suasana ruang kelas ramai dengan suara tawa. Seketika guru saya merespon kurang lebihnya, “Cita-cita ki mbok yo sing dhuwur!!” Cita-cita itu yang tinggi!! Teman saya yang memang orangnya tidak banyak omong, di saat yang sama dia hanya tersenyum.

Di lain waktu karena penasaran, saya menanyakan hal tentang apa yang menjadi jawabannya terhadap pertanyaan guru bahwa ia bercita-cita sebagai sopir. Dan dia hanya menjawab dengan sederhana, dia hanya ingin seperti bapaknya yang kesehariannya bekerja sebagai sopir angkutan umum.

Di lain waktu dengan jangka yang cukup lama dari jawaban itu saya sempat berpikir, sepertinya masih ada kemungkinan lain dari jawaban teman saya tersebut. Karena setiap orang pada dasarnya mempunyai banyak keterbatasan antara apa yang ada di hati dan pikiran dengan apa yang akan disampaikannya, apalagi terhadap kata.

Misalkan ada kemungkinan tidak atas keinginannya menjadi sopir, karena hal itu disebabakan karena pengamatannya terhadap bapaknya yang semangat bekerja setiap hari mengantar murid-murid bersekolah untuk menuntut pengetahuan dan ilmu, hingga muncul keyakinan bahwa itu akan menjadi amal ibadah untuk bekal kebahagiaan di akhirat?

Kemudian kalau melihat respons guru terhadap jawaban teman saya, kira-kira parameter tingginya cita-cita itu apa? Puncak karir? Sukses? Kemudian yang disebut sukses dan gagal itu apa? Kaya? Miskin?

Jika melihat beberapa hal yang silang sengkarut khususnya di negara kita, sepertinya ada dispresisi berbagai macam nilai yang dipahami. Misalkan sukses itu diidentikan dengan kaya. Gagal itu miskin.

Dari pemahaman saya yang didapat di Maiyah, sukses adalah suatu keberhasilan ketika Allah meridloi segala sesuatu yang dilakukan manusia, sehingga Allah berkenan memberi kemuliaan di sisi-Nya.

Tentu tidak ada yang salah dengan kekayaan, ketika kekayaan itu tidak digunakan untuk menyakiti orang. Lebih-lebih kekayaan itu dapat dirohanikan sedemikian hingga. Sepertinya dispresisi nilai sukses itu kini kian merebah. Mengakar dalam menentukan pijakan-pijakan untuk menjalani kehidupan.

Di mana kalau kita melihat hiruk-pikuk yang terjadi dalam dunia politik beberapa di antaranya, sepertinya masing-masing tokoh membawa konsep sukses ke dalam “sakunya” bahwa yang disebut sukses itu sama dengan kaya, lebih lagi ditambah berkuasa. Sehingga ketika menjabat dalam suatu pemerintahan, konsepnya bukan lagi melakukan pengabdian kepada rakyat.

Tak heran jika segala jenis cara untuk mendapat atau mempertahankan kekuasaan itu diterapkan tanpa adanya pertimbangan; kira-kira menyakiti rakyat atau tidak? Padahal “Dan tidaklah kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dengan bermain-main”. (Al-Anbiyaa: 16)

Maka yang menjadi pemahaman masyarakat tentang konsep pencapaian sukses selama ini sebenarnya sekadar cita-cita atau ambisi? Atau mungkinkah terdapat kekurangan sikap untuk memilah tentang mana yang kebutuhan dan mana keinginan?

Cikarang – Bekasi, 15 Oktober 2017

Beberapa hal yang saya tangkap dari beberapa benih ilmu di Maiyah, salah satunya ketika Mbah Nun menyampaikan di berbagai forum Maiyahan bahwa hidup ini…