Bukan Sembarang Kiai

Ketika telinga kita mendengar sosok Kiai, kerap kali yang pertama kali muncul dalam bayangan kita adalah sosok yang ahli ibadah, sosok yang sangat paham ilmu fiqih, tasawuf, piawai membaca kitab gundul, dan lain sebagainya. Sangat jarang imajinasi kita berhenti pada sosok yang ahli sains, kedokteran, ataupun teknologi saat mendengar kata Kiai. Tak heran, karena memang seperti itulah gambaran sosok Kiai yang acap kali kita jumpai di tengah lingkungan masyarakat kita ini.

Akan tetapi, bayangan utuh akan sosok Kiai tersebut mendadak retak saat kita berhadapan dengan Kiai yang satu ini. Emha Ainun Nadjib, yang lebih akrab disapa Cak Nun ataupun Mbah Nun ini merupakan satu dari sedikit Kiai yang tidak seperti Kiai pada umumnya. Tidak seperti Kiai yang ada dalam bayangan masyarakat kita. Tak hanya mahir memberikan solusi akan persoalan-persoalan agama, Beliau pun begitu lihai bermain di arena ‘panggung’ kebudayaan, sosial, sains, teknologi, dan bidang-bidang ilmu yang lainnya. Bahkan, tak jarang dengan keluwesan dan keluasan ilmunya, Beliau mampu merasionalkan perintah ataupun anjuran-anjuran agama yang selama ini hanya kita terima begitu saja, tanpa tahu dan diberi tahu penjelasan lebih lengkapnya.

Penjelasan mengenai puasa, misalnya. Beliau pun  mampu memberikan penjelasan sangat rasional terkait weteng ingkang luwe. Meskipun Beliau menjelaskannya dengan gaya santai khas Beliau, tapi penjelasan Beliau tentang anjuran untuk memperbanyak berpuasa, betah lapar tapi tidak sampai kelaparan tersebut sangatlah ilmiah. Sejalan dengan yang dipelajari dalam ilmu kesehatan.

“Kalau Anda lapar, sel-sel Anda akan menguat. Tapi kalau Anda kenyang, sel-sel Anda akan ikut ngantuk.” Kurang lebih begitulah yang disampaikan Mbah Nun kala itu. Dan memang seperti itulah teori yang diajarkan dalam ilmu kesehatan. Sederhananya, jika seseorang sudah terbiasa hidup dalam lingkungan yang keras, dia pun akan tumbuh menjadi seseorang yang kuat. Pun sebaliknya, jika dia sudah terbiasa hidup dalam kenyamanan, selalu dilayani dan dimanja, tidak pernah menghadapi tantangan-tantangan, jangan heran kalau dia pun akan tumbuh menjadi sosok yang lemah.

Mungkin inilah yang menjadi bagian dari pembeda Beliau dengan yang lain. Keluasan dan kejernihan pemikiran Beliau bisa menampung dan mengurai banyak persoalan kehidupan. Juga tentang cara penyampaian Beliau yang begitu luwes. Mudah ditangkap oleh para jama’ah. Karena Beliau sangat piawai melihat celah-celah di mana harus serius dan kapan harus memberikan humor-humor menyegarkan. Akan tetapi, meskipun Beliau mengajak jama’ah tertawa menikmati cerita lucunya, tetap saja ada kandungan hikmah di dalamnya.

Meskipun simpanan ilmu dan pengetahuan Beliau sangatlah luas, tapi tak jarang Beliau pun menyampaikan sesuatu yang sama dalam setiap Maiyahan. Seolah Beliau begitu mafhum teori dalam ilmu psikologi. Bahwa dari seratus persen pesan yang kita sampaikan, umumnya tidak lebih dari satu persen yang akan ditangkap dan mengakar kuat dalam benak pendengar. Karenanya, akan lebih baik jika penyampaiannya sedikit demi sedikit, tapi terus dilakukan secara berulang-ulang.

Sekali lagi, apa yang telah kita singgung di atas, sama sekali tidak bermaksud mendewakan Mbah Nun. Tidak bermaksud membanding-bandingkan Beliau dengan yang lainnya. Akan tetapi, setidaknya ini mampu kita jadikan sebagai pengingat. Agar kita lebih menyukuri apa yang telah dianugerahkan kepada kita. Coba lihat, adakah nikmat yang pantas untuk kita dustakan? Dianugerahi sosok guru, Bapak, sekaligus Simbah yang sangat luas ilmu dan kasih sayangnya. Juga sangat tulus dalam menerima dan membersamai kita dengan penuh cinta. Tentu ini bukanlah kesempatan yang biasa-biasa saja. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama. Belum tentu pula, di waktu yang akan datang kita masih dipertemukan dengan sosok yang serupa.

Lagi-lagi pilihan tetap di tangan kita. Apakah kita mau menyukurinya dengan memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Ataukah menyia-nyiakannya. Hanya kita jadikan sebagai kebanggaan saja. Bangga karena telah menjadi bagian dari lingkaran Beliau. Lalu hanyut dalam kenyamanan ini. Dan tidak turut memetik apa yang ada dalam kebun Maiyah ini, untuk kemudian kita tanam dan sirami kembali.

Sugeng tanggap warsa, Mbah Nun. Semoga senantiasa dijaga dalam lingkaran cahaya-Nya.

Sabtu, 27 Mei 2017 / 1 Ramadhan 1438

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image