Budaya Membaca dan Pitutur di Era Medsos

Refleksi tulisan Mbah Nun: Mad-Soc, Semacam Surga

Banyak yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia masuk ke fase budaya media sosial (medsos) tanpa melewati budaya membaca yang cukup. Hal ini cukup menarik jika ditinjau dari hal-hal kecil di sekitar kita. Misalnya, apakah membaca buku sudah membudaya dalam keseharian kita, berapa banyak buku yang dibaca dalam sebulan, atau apakah perpustakaan ramai pengunjung? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang diajukan untuk menguak potensi di balik budaya medsos yang sedang marak saat ini.

Alangkah baiknya bila juga harus ditinjau secara mendalam dalam dunia maya: tema-tema apa saja yang dibicarakan oleh netizen? Apakah tema-tema itu diciptakan oleh mereka atau ada sesuatu yang memproduksi tema tersebut? Pertanyaan ini juga harus adil kepada literatur berupa buku, jurnal, majalah, tabloid, dan ensiklopedia. Mengapa demikian? Karena menurut saya, budaya membaca atau keberaksaraan pun punya potensi untuk dibajak oleh pihak-pihak tertentu.

Ini berkaitan dengan objektivisme ilmu pengetahuan. Apakah ilmu dan pengetahuan yang dihasilkan sungguh objektif atau lebih bersifat subjektif karena ada kepentingan tertentu? Padahal sejatinya ilmu dan pengetahuan diharapkan dapat objektif karena dipertanggungjawabkan di hadapan umat manusia. Tapi tampaknya pembahasan etika dalam hal ini kurang diminati.

Budaya membaca tidak bisa dijadikan ukuran untuk sebuah kemajuan jika ternyata literaturnya penuh dengan kebohongan. Bukankah kebohongan bisa diciptakan bahkan diproduksi secara massif dalam bingkai peradaban. Sudah berapa lama negara dunia ketiga selalu diajak untuk bergerak ke kemajuan dalam frame pendidikan tapi dalam kurun waktu yang lama tersebut juga tetap terbelakang. Ini artinya bahwa negara maju tidak benar-benar serius menularkan kemajuan mereka ke negara lain. Yang terjadi justru kemajuan palsu yang ditularkan adalah dalam rangka membantu kapitalisme dan produksi perusahaan mereka. Jadi bagaimana menggaet tenaga kerja murah dari negara dunia ketiga. Pengetahuan yang diproduksi bertujuan agar tenaga kerja langsung bisa terserap dalam ranah industri.

Di balik slogan “tekun bekerja”, ada slogan “teruslah belanja”. Bukankah budaya konsumsi memang digencarkan dalam budaya kapitalisme? Meskipun dalihnya adalah untuk menjaga keseimbangan, tidak mungkin barang diproduksi lantas tidak untuk dikonsumsi. Atau tingkat permintaan konsumsi meningkat tetapi tidak ada barang produksi. Ini juga merupakan dualisme dalam ranah industri. Keduanya harus seimbang, maka harus diciptakan kebudayaan konsumsi setinggi mungkin agar produksi juga lancar.

Bahkan dalam ranah pendidikan, pengetahuan juga dapat diproduksi. Ini yang saya katakan bahwa literatur pun punya kemungkinan untuk dibajak dan cenderung subjektif tergantung kepentingan tertentu. Jadi semestinya budaya membaca tidak bisa dijadikan sebagai tolak ukur kemajuan sebuah bangsa. Apalagi bangsa Indonesia, yang memang dari dulu punya budaya pitutur. Ini bukan berarti nenek moyang bangsa ini tidak maju, tapi memang budaya pitutur (oral) menjadi dominan dan tidak terpisahkan dengan budaya bangsa.

Akan tetapi, dalam ranah globalisasi saat ini budaya membaca juga harus digalakkan. Tentunya dengan didasari kesadaran dan filter tertentu. Budaya pitutur juga harus tetap dijaga dengan tidak mengesampingkan budaya membaca. Jadi bukan melulu tentang membaca buku, karena bangsa Indonesia bahkan lebih peka terhadap apapun di luar buku. Mereka sanggup membaca kebiasaan-kebiasaan yang berulang ribuan kali, kondisi alam, memindahkan hujan, arah wedhus gembel, bahkan posisi pesawat jatuh di  tengah samudera. Ini karena bangsa Indonesia menganggap alam dan seisinya adalah makhluk hidup, bukan benda mati semata. Akhirnya, komunikasi antar makhluk hidup itu menjadi sesuatu yang dianggap asing dalam kaca mata modern. Ilmu titen, ilmu katon, dan ilmu firasat adalah contoh sebagian ilmu yang dikembangkan leluhur kita dan telah berkembang maju di sini.

Maka dalam kancah era komunikasi yang sangat lancar saat ini, media sosial ternyata belum mampu mengganti budaya pitutur. Silakan hitung berapa juta pengguna media sosial di Indonesia. Paling hanya beberapa persen saja dari total penduduk Indonesia. Yang terjadi sesungguhnya adalah budaya pitutur dikonversi menjadi budaya teks (medsos), tapi tetap tidak bisa menduduki posisi primer dalam masyarakat. Masih banyak masyarakat kita yang menggunakan pola budaya pitutur dalam banyak kesempatan. Apalagi jika disinergikan dengan budaya membaca yang baik, maka pola komunikasi akan menjadi utuh dan paripurna. Dengan catatan, literatur-literatur yang digunakan telah disesuaikan dengan karakter dan fungsi kemajuan. Selamat bermedsos!

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image