Daur-II • 205

Berhijrah dan Tak Kembali

“Para tokoh Islam menyepi ke pinggiran, menjadi semacam pertapa sosial, membangun Pesantren atau Padepokan. Dan sejak itu tidak sengaja generasi demi generasi Santri dan Cantrik menyimpulkan bahwa Agama bukan Negara, Agama bukan pembangunan ekonomi, Agama bukan kebudayaan, agama bukan kesenian, agama bukan pasar. Agama adalah sesuatu yang khusus di luar kesibukan dunia. Agama hanya salah satu bidang di antara bidang-bidang lain…”

Toling tertawa. “Dan karena kehidupan beragama tetap merupakan kenyataan di kalangan penduduk, akhirnya Negara bikin Departemen atau Kementerian Agama, berdampingan dengan Departemen-departemen lainnya. Yang di luar urusan Kementerian Agama, disimpulkan sebagai bukan urusan Agama”

“Ada era di mana Kaum Muslimin menjauh dari kehidupan politik”, Seger melanjutkan, “mengambil jarak dari kesibukan dunia, tidak melibatkan diri di lalulintas pasar, tidak peduli pada apapun saja kesibukan pembangunan dan kemajuan dunia. Mereka seakan berhijrah untuk menemukan lorong yang langsung sampai ke sorga. Padahal mereka hidup di bumi. Mereka tetap butuh sandang pangan papan. Akhirnya Kaum Muslimin menjadi buruh-buruh Negara dan Pengusaha selama belum ke sorga, karena mereka butuh makan dan jumlahnya semakin banyak”

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak”. [1] (An-Nisa: 100).

“Kata Allah, bumi adalah tempat hijrah yang luas dengan rezeki yang melimpah, tetapi hati dan pikiran mereka berhijrah dari bumi dan tak kembali. Memang dunia bukan tempat tujuan. Memang sorgalah sejatinya kampung halaman. Tetapi selama masih dipersemayamkan oleh Allah di bumi, setiap dan semua manusia wajib mengelolanya, dengan dinamika dan kreativitas hijrah”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra