Bebas Riba itu Bebrayan

Di antara kawan-kawan selingkaran di Juguran Syafaat, secara ekonomi nampaknya tidak ada yang satu mendominasi yang lain, terlebih yang satu mengkonglomerasi yang lain. Hampir rata-rata semuanya. Kebanyakan mereka adalah milenial yang memilih bertahan dari gerusan urbanisasi, berproses trukah merintis, sebisa-bisa mencari upa di kampung sendiri.

Kalaupun ada yang di atas rata-rata, masing-masing masih pada posisi berendah diri bahwa apa yang didapatkan masihlah sebatas sales hockey, belum mengklaim dirinya sudah pada taraf established kuda-kuda ekonominya.

Maka dalam suasana komunitas yang semacam itu, prinsip hidup brayan menjadi sangat penting. Meski hal itu tidak dibuat prolog terlebih dahulu, tetapi masing-masing nampak berupaya untuk memiliki sikap brayan dalam keseharian. Eskpresi dari sikap brayan di antaranya tercermin dari kebutuhan untuk memiliki intensitas ngumpul bersama-sama.

Syukurlah, tak kurang dari seminggu sekali ada saja kesempatan untuk ngumpul. Seperti pada kesempatan selasa malam rabu itu. Ada yang mempunyai ide untuk ngumpul tetapi dengan suasana yang berbeda. Dan betul terlaksana kali itu kita ngumpul di tepi sungai Serayu tepatnya di sebelah bendungan besar yang diresmikan oleh Pak Harto 24 tahun silam.

Tidak lengkap kalau ngumpul di alam kalau tidak ada bakar-bakaran. Kayu bakar, panci perkakas masak dan logistik pun dipersiapkan. Untuk malam hari itu, seorang kawan bahkan sampai menyiapkan khusus koleksi lagu-lagu koplo-nya agar semakin lengkap suasana. Namun sayangnya, jam ngumpul kita berbarengan dengan puncak-puncaknya jam bagi warga sekitar memancing ikan. Demi menjaga kondusivitas lingkungan, terpaksa lagu-lagu koplo batal diputar.

Kebiasaan berdiskusi di Maiyah membuat perbedaan suasana ngumpul tidak menjadi halangan untuk tetap terciptanya forum diskusi. Meski bukan diskusi yang mantheng, tetapi bukan juga omong-omong kosong. Yang kita obrolkan adalah kasunyatan yang dekat di sekeliling kita, termasuk keadaan diri masing-masing.

Contohnya adalah apa yang dilontarkan oleh kawan yang saya sebut sudah menyiapkan koleksi lagu koplo tadi. Kondisi ekonominya termasuk lumayan dibanding yang lain. Meski begitu, ia tidak egois, ia seringkali menggali kesibukan atau kengangguran jenis apa yang sedang dihadapi kawan yang lain. Malam hari itu ia melontarkan ide sederhana, agar di antara kawan-kawan ada yang bisa melakukan alih teknologi dari bisnis yang sudah digeluti saudaranya di luar kota. Apa bisnisnya? Bisnis menggulung tali rafia.

Ya, memang tidak mentereng, sebab bukan bisnis minyak dan gas, bukan pula properti. Tetapi bukan berarti ide bisnis ini tidak menarik. Yang menarik buat saya adalah, ide ini ia lontarkan setelah ia meneliti penuh A sampai Z-nya, bukan ide kopong semata. Di mana bahan bakunya, bagaimana mekanisme kerjanya, bagaimana menjualnya, seperti apa perhitungan perputaran uangnya. Bahkan ia menyampaikan, demi ide ini bisa direalisasikan, kalau perlu sampai permodalannya pun ia siap menyediakan.

Ya, sudah entah berapa kali ia memberikan hibah modal untuk kawan-kawannya sendiri. Tanpa mengharapkan pamrih apapun. Ia berujar, asal yang ia modali berhasil, ia sudah bahagia. Begitulah, saya melihat itu sebagai ekspresi dari terinternalisasikannya nilai-nilai Maiyah di dalam dirinya.

Saya pun melihat internalisasi nilai-nilai Maiyah di sisi yang lain, yakni di sisi kawan yang diberi modal. Ketika ia menjumpai kegagalan dalam berproses, ia berkeluh bahwa dirinya merasa bersalah kepada yang telah membantunya menyediakan modal.

Yang ditransaksikan antara pemberi dan penerima modal memang uang, tetapi saya menyaksikan yang terjadi bukanlah kegiatan transaksional, melainkan sebuah perhubungan akhlak yang baik, akhlak bebrayan.

Ketika pada sebuah kesempatan berbeda saya sampaikan keluh kesah rasa bersalah itu. Kawan yang memberi modal secara mengejutkan malahan menjawab bahwa ia tidak pernah mengharapkan dari apa yang sudah ia berikan. Bahkan ia menyampaikan bahwa ia siap memberikan tambahan modal, asalkan total dan sungguh-sungguh.

Begitulah, pergumulan di dalam komunitas hendaknya dilandasi oleh sikap hidup brayan. Kalau yang memberi sudah sedemikian lilonya, kalau yang diberi juga sedemikian rumangsanya. Maka mau ada pengembalian modal kecil maupun besar, mau ada bagi hasil, bunga, ranting, dahan maupun pohon keuntungan kemudian diberikan, menjadi tidak ada riba di situ. Sebab jangankan riba, bahkan transaksi pun juga sejatinya tidak ada kok di situ. Yang ada adalah perhubungan akhlak yang baik, akhlak bebrayan.

Tiba menjelang Subuh, saatnya bergegas mengakhiri ngumpul malam hari itu. Niat pergi ngumpul di alam terbuka untuk refreshing malahan menjadi diskusi mendalam. Akan tetapi, dengan diskusi mendalam seperti malam hari itu bukan berarti kita menjadi tidak refresh karenanya. []

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image