Kewajiban Memancarkan

Merasa Memiliki

Bahasan tentang cinta amat dekat dengan perasaan untuk memiliki. Namun, memberikan rasa cinta kepada subjek atau objek cinta acapkali bukanlah hal mudah. Banyak yang menaruhnya pada sesama manusia, sebentuk kekuasaan, harta dunia, ketenaran dan berbagai hal yang sejatinya fatamorgana. Untuk itu identifikasi porsi kecintaan agaknya dibutuhkan dalam setiap langkah pengambilan keputusan sebelum melakukan tindakan, bukankah kebanyakan suatu perilaku muncul sebagai wujud kecintaan?

Akankah tindakan tercipta selalu dalam bimbingan Sang Maha Cinta, ataukah terbawa pada cinta yang berlandaskan nafsu belaka. Segitiga Cinta Maiyah telah mengajarkan bahwa dalam melakukan segala tindakan selalu berusaha untuk menghadirkan kebersamaan cinta Allah dan Rasulullah. Bertepatan dengan bulan penuh rahmat dari kelahiran junjungan umat manusia, Rasulullah Muhammad SAW, Maulid menjadi momen untuk merefleksi secara mendalam seberapa besar cinta yang telah menjadi dasar dalam setiap langkah. Sudahkah kita sudi, mau dan mampu mencicipi sengsaranya Rasulullah? Yang sejatinya berlawanan dengan keinginan dasar manusia yang berpedoman pada prinsip kesenangan dan kenikmatan.

Rasulullah Muhammad tentunya menjadi sumber inspirasi tiada henti guna mencoba meneladani setiap langkah dalam mengisi kehidupan. Namun, jika dipelajari lebih jauh, Rasulullah pun tidak serta merta menerima informasi dan terus menumpuknya dalam otak. Usia 40 tahun menjadi titik tolak perubahan dari menerima sampai pada kemudian mengajarkan, dan bukanlah hal mudah mengajak orang lain untuk mengetahui, mempercayai dan kemudian mengamalkan sehingga terwariskan sampai hari ini. Berpindah dari satu tenda ke tenda lain, kabilah satu kabilah lain, kota satu ke kota lain dan bisa mengajak satu untuk kemudian istiqomah adalah sebuah perjuangan yang amat berat dalam upaya menunjukan cahaya dalam kegelapan. Yang bahkan, kegelapan sendiri terkadang tidak disadari dan dengan kesombongannya kemudian menutup hati memerlukan sikap hidup tingkat tinggi.

Ketika merefleksi diri, akankah kita pernah merasa kehilangan akan ketiadaan beliau? Letto dalam sebuah lagunya menyampaikan “Rasa kehilangan hanya akan ada jika kau pernah merasa memilikinya”. Akankah kita pernah merasa memiliki Rasulullah dalam hati dan tindakan kita?

Sampai Kapan Menyerap?

Dalam kehidupan, kita pula harus melakukan proses menyerap dan memancarkan. Dalam suatu kajian fisika misalnya, menjelaskan bahwa malam hari ketika cahaya ke bumi teramat terbatas maka mayoritas makhluk lebih sedikit bergerak namun menyerap energi lebih banyak. Sedangkan saat siang hari tiba, ketika bumi diguyur sinar matahari maka makhluk-makhluk itu lebih banyak menggerakkan tangan dan kaki daripada telinga dan mata guna menyalurkan energi yang diserap sebelumnya. Karena pada dasarnya mereka tahu bahwa tubuh sesungguhnya adalah bejana yang terbatas sehingga dibutuhkan siklus menyerap-memancarkan secara terus-menerus agar keseimbangan tubuh senantiasa terjaga, sehingga mampu bertahan hidup dalam jangka waktu yang panjang.

Hal tersebut seiring pula dengan  pengajian maiyah, bahwa malam hari adalah proses penyerapan ilmu dan siang hari adalah kewajiban bagi para jamaah untuk memancarkannya dari diri sendiri ke wilayah yang lebih luas lagi di luar dirinya. Jika demikian yang tercipta, maka setidaknya akan berkurang istilah Jamaah Setor Kuping di negeri Maiyah ini.

Disamping itu, kajian Psikologi Faal juga mengemukakan hal yang sama, bahwa otak bekerja pada 4 frekuensi gelombang yang berbeda yaitu Beta, Alfa, Theta dan Delta. Gelombang beta terekam bila seluruh bagian otak aktif memancarkan gelombang elektromagnetik, dimana kondisi tersebut sangat dibutuhkan saat sedang bekerja, menggerakkan seluruh organ tubuhnya. Sedang, saat seseorang tidur, maka hanya sebagian kecil otak yang memancarkan gelombang elektromagnetik yang terekam sebagai gelombang delta.

Diantara gelombang beta dan delta terdapat gelombang alfa-theta dimana saat otak berada pada frekuensi tersebut maka yang teraktivasi adalah bagian otak pendengaran dan pengolahan informasi. Saat banyak cahaya mengenai mata, banyak suara masuk ke telinga maka otak akan berada pada gelombang beta dan itu mungkin menjadi alasan mengapa siang hari saat matahari menemani bumi adalah saat terbaik untuk lebih banyak menggerakkan tangan dan kaki. Sedang saat peralihan gelap ke terang ataupun  peralihan terang ke gelap dimana gelombang cahaya dan gelombang suara yang ditangkap mata dan telinga mulai berkurang, maka itu saat terbaik untuk lebih mengaktifkan bagian otak pendengaran, penglihatan dan bagian pengolahan informasi. Sedang malam hari ketika semakin gelap dan sunyi, itu menjadi saat terbaik untuk memberi jeda kerja otak barang sejenak. Benarlah adanya bahwa ada tanda-tanda kebesaran pada penciptaan siang dan malam.

Arti Sebuah Batas

Manusia memang tak boleh membatasi penyerapan sebagaimana manusia tidak ada batas untuk berfikir sabar, tetapi penyerapan, kesabaran itu sendiri pastilah punya batas. Seandainya kesabaran bisa disepadankan dengan kata toleransi, mungkin akan mudah untuk memahami. Bahwa manusia seharusnya selalu bertoleransi, tetapi toleransi sendiri memiliki batas bawah dan batas atas, bawah berbatasan dengan “membiarkan” dan atas berbatasan dengan “meluruskan”.

Sebuah tindakan yang tidak mengganggu dan tidak membahayakan maka akan “dibiarkan” terjadi. Bila tindakan tersebut berlanjut hingga pada tahap mengganggu tetapi tidak membahayakan, maka tindakan itu tetap akan dibiarkan tetapi dengan kewaspadaan yang kemudian itu disebut dengan batas-batas toleransi. Bila ternyata tindakan tersebut tetap berlanjut hingga pada tahap membahayakan maka itu disebut melewati batas toleransi dan “meluruskan” menjadi pilihan yang seharusnya diambil, bukan membiarkan.

Dari sisi fisik, tubuh pun tidak akan bertahan apabila hanya menyerap gelombang-gelombang energi tanpa memancarkannya secara berkala. Bagaimanapun, tubuh bukanlah sebuah wadah yang memiliki kapasitas gentong melainkan wadah yang lebih mirip ceret (teko) yakni sebuah wadah yang memiliki saluran masuk cukup besar tetapi memiliki saluran keluar yang kecil.

Berat otak manusia yang rata-rata hanya 1,4 kg merupakan salah satu tanda alam yang menunjukkan sebuah kemustahilan seseorang memiliki kapasitas yang tak terbatas. Benar bahwa organ mata, telinga, kulit mampu menyerap informasi berbentuk rangsang fisik (materiil) maupun gelombang elektromagnetik (energi, immateriil) secara terus-menerus, tetapi perlu diingat bahwa organ-organ itu “hanyalah” pintu masuk dari sebuah bangunan besar yang bernama otak. Sedang pintu keluar adalah lisan dan pergerakan dari tangan dan kaki. Sebesar-besarnya bangunan pastilah punya batas jua. Bila input lebih besar daripada output maka bisa dipastikan cepat atau lambat bangunan itu pasti akan rusak. Sehingga menjadi tidak mungkin semua informasi yang masuk hanya ditampung saja. Maka, rangsang, informasi, stimulus, input yang diserap seharusnya dikeluarkan, dipancarkan secara terus-menerus, syukur-syukur juga secara berirama.

Karena Maiyah itu ibarat rembulan yang selalu menyerap cahaya matahari dan memantulkannya  secara berirama. Kita harus menyerap informasi yang masuk untuk segera dibagikan bukan diserap semuanya. Dari segi fisik pasti tidak kuat menyerap seluruh informasi dan jika terus dipaksa tubuh akan jatuh sakit seperti ketika banyak makan namun tidak mengeluarkan, pasti jadi masalah besar. Ketika banyak mendengar namun tidak banyak mengucap dan menulis maka lambat laun akan menjadi masalah baik secara psikologis, maupun medis.

Nafisatul W feat dr. Christyaji I
Simpul JM Relegi Malang Raya

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image