MASUISANI (Maiyah Sumur Ilmu Sawah Nilai)

Bersamaan dengan digelarnya Maiyahan di beberapa daerah seperti Sendhon Waton di Rembang dan Bangbang Wetan di Surabaya, malam ini berlangsung Maiyahan di Bali.

Satu bulan yang lalu, Jamaah Maiyah di Bali bersepakat mengupayakan untuk melingkar rutin dalam sebuah majelis ilmu yang diberi nama “MaSuiSani“. Nama ini diberikan langsung oleh Umbu Landu Paranggi. MaSuiSani merupakan singkatan dari Maiyah Sumur Ilmu Sawah NilaiUmbu ketika awal Februari memberikan nama itu berpesan kepada Jamaah Maiyah di Bali bahwa beliau siap untuk datang dalam Kumpul Maiyah yang sebaiknya diselenggarakan malam minggu sebelum tanggal 25. Dan malam ini (11/03) Umbu hadir membersamai Jamaah Maiyah Bali pada MaSuiSani di Rumah Wisanggeni Jl. Campuha No.7 Batu Bulan, Gianyar.

MaSuiSani malam ini diawali dengan sharing masing-masing bagaiman persentuhannya dengan Maiyah dan berbagi pemahaman tentang apa itu Maiyah. Jamaah Maiyah yang hadir adalah mereka yang bermukin di Denpasar, Tabanan, Gianyar dan Badung.

Kepada teman-teman yang datang, Umbu mengingatkan semua untuk menginsyafi Jalan Sunyi. Apalagi di Bali menjelang Hari Raya Nyepi pada 17 Maret mendatang.

Di kesempatan Kumpul Maiyah MaSuiSani ini hadir pula Weldo yang merupakan salah satu sahabat Mbah Nun di Bali. Weldo–dengan penampilan otentiknya–yang dalam kesehariannya menjalani hidup apa adanya, melukis, menari, mengajar meditasi dan memberikan pencerahan pada malam ini membacakan catatannya lalu mengajak teman-teman yang hadir untuk menyelami tentang spiritualitas dan menjadi diri sendiri.

Selain belajar bersama dengan Umbu dan Weldo, digelar dalam MaSuiSani ini pembacaan puisi oleh Imam Barker dan Ahmad Obe Marzuki, improvisasi dari Heru Pekik, dan penampilan grup keroncong yang membawakan puisi Umbu: Apa Ada Angin di Jakarta.