Maiyah MaSuISaNi Bali: Pertemuan Cinta Mbah Nun dan Umbu

Kekhususan DNA Masuisani Bali yang perlu kita ketahui adalah karena sosok Umbu Landu Paranggi, salah satu guru kehidupan Mbah Nun, terjun langsung dan mendorong lahirnya Masuisani. Bahkan Umbu memberikan nama Masuisani dan menjadi bagian dari keluarga besar bersama Masyarakat Maiyah lainnya di 64 kota dan negara.

Belum selesai kita belajar kepada Mbah Nun menyangkut laku hidup Umbu Landu Paranggi tentang misalnya hakikat sastra, tiba-tiba Umbu Landu Paranggi yang sangat banyak menepis apa saja, turun di tengah-tengah jamaah Maiyah Bali. Tak terbayangkan beliau yang bertahta di ‘jarak’ terhadap dunia yang hiruk-pikuk ternyata telah membersamai sahabat-sahabat kita JM di Bali. Ia pun menyambungkan banyak elemen melalui Masuisani.

Kekhususan itu pula yang menjadikan Mbah Nun punya rasa terpanggil untuk selalu menengok Masuisani. Itu sebabnya, pada rutinan bulanannya yang ke-12 pada 24 Maret 2019 di Umah Wisanggeni Gianyar Bali, Mbah Nun dan Ibu Novia Kolopaking hadir, menjumpai beragam hadirin, tak hanya JM. Selain tentu saja, Mbah Nun dan Ibu Via bersilaturahmi kepada Umbu Landu Paranggi. Selama acara Mbah Nun, Bu Via, dan Mbah Umbu ada di panggung menemani rekan-rekan yang datang seperti Welldo dan sahabat senior Mbah Nun di dunia kewartawanan Putu Setia (mantan redaktur Tempo) untuk berbincang, bershalawat, bermusik, dan lain-lain keindahan. Bercermin kepada laku Mbah Umbu dan Mbah Nun, perjumpaan Masuisani ini adalah ‘kehidupan puisi’.

Buku Cak Nun