Sinau Bareng, Mimpi yang Terwujud Kembali

Liputan Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di Ponpes Segoro Agung, Trowulan Mojokerto, Jum'at 15 April 2022, bagian 1

Apa yang selama dua tahun pandemi ini tidak bisa berlangsung dan benar-benar dirindukan untuk bisa kembali dirasakan, semalam terwujud. Dalam bahasa Mas Imam Fatawi, “Bukan lagi mimpi, meski serasa mimpi.” Iya, suasana Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng seperti sedia kala. Seperti sebelum saat pandemi.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Memang malam sebelumnya sudah berlangsung juga Sinau Bareng di Gedung Bakorwil Pamekasan Madura, sebelumnya lagi di homebase DPP PDIP di Masjid At Taufiq Lenteng Agung Jakarta, dan Kenduri Cinta malam sebelumnya, tetapi Sinau Bareng tadi malam di Pondok Pesantren Segoro Agung Trowulan Mojokerto benar-benar beda. Suasana Sinau Bareng yang khas Jawa Timur, khas sebagaimana dulu selalu dirasakan setiap kali KiaiKanjeng hadir di darerah-daerah Jawa Timur.

Suasananya boleh dikata komplet seperti Sinau Bareng yang digelar di Alun-alun atau di lapangan atas undangan berbagai pihak dan lapisan masyarakat seperti pemkab atau instansi-instansi lainnya. Maka, tatkala Mbah Nun naik panggung terasa seperti de javu. Sudah sangat lama tidak melihat pemandangan ini. Kontan semua mata jamaah terpana, dan bersyukur amat dalam, serta mereka tak bisa menghalau tangan mereka untuk tidak bertepuk tangan.

Pemandangan kedatangan Mbah Nun ke panggung yang dikawal oleh pasukan kaos merah Cak Lutfi berpeci Maiyah merah putih, melewati di depan jamaah di sisi timur panggung. Tepat di mulut panggung, Mbah Nun melepas sandalnya, lalu melangkahkan kaki di atas karpet panggung diiringi tuan rumah, para narasumber, dan beberapa pejabat yang turut hadir. Lagi-lagi pemandangan yang dua tahun ini menghilang dari depan mata.

Memegang mic dan belum langsung duduk, sembari mempersilakan para bapak dan ibu yang ikut naik ke panggung untuk segera duduk, Mbah Nun langsung menyapa dan ngobrol meluapkan rasa kangen kepada para jamaah alias anak-cucunya. Langsung mengalir keakraban dan sapaan-sapaan Mbah Nun yang menggambarkan satu hati beliau dengan generasi Maiyah ini maupun siapa saja yang datang, dan respons-respons mereka pun gayung bersambut. Wajah-wajah gembira dan bahagia terpancar. Gelak tawa mereka yang lama tak terdengar karena pandemi, kini terdengar lagi. Bahasa Jawa Timuran yang sarat kedekatan mewarnai pertautan hati malam itu.

Keakraban awal itu berlangsung sembari Mbah Nun nyicil noto sajadah alias membangun landasan untuk apa-apa yang nanti akan didiskusikan. Di antaranya, Mbah Nun menanyakan kepada anak-cucu itu, “Kon dadi wong Jowo kuwi sopo sing ngongkon?” Kalian menjadi orang Jawa itu atas perintah siapa? Mereka menjawab, “Allah.”

Maka Mbah Nun menegaskan, Indonesia tak boleh menghalangi Jawa. “Ini bukan Jawa-sentris, justru ini mendukung Indonesia. Ini bukan SARA.” Mbah Nun lantas menjelaskan bahwa SARA adalah potensi bagi Indonesia yang harus diolah dengan baik, diawali dengan menetralisasi stigma yang melekat pada SARA selama ini, terutama pada masa Orde Baru. Dengan pemahaman seperti itu, Mbah Nun berpendapat Indonesia harus mendukung pertumbuhan Jawa–di mana Mojokerto ada di dalamnya–, Sunda, Madura, Kalimantan, Papua dll. Demikian juga dengan agama. Semua potensialitas itu harus dikembangkan untuk mendukung kehidupan bersama yang baik.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Di tengah menyampaikan dasar-dasar ini, Mbah Nun ingin mengajak anak-cucunya untuk bareng-bareng melantunkan Shalawat Asghil. “Ono sing apal, rek?” Dan salah seorang anak-cucu yang duduk di barisan paling depan menyahut. Penampilannya biasa saja. Memakai kaos lengan pendek dan rompi berlogo Nun. Tidak tampak santri. Tetapi ternyata suaranya cukup bagus, lantang, bertenaga. Dia lantunkan shalawat Asghil, sendirian dulu. Setelah itu Mbah Nun mengajaknya bareng-bareng dengan KiaiKanjeng dan semua jamaah yang memenuhi tiga area di depan panggung. Pada nomor shalawat Asghil ini, Mbah Nun memberikan sentuhan kreatif sehingga cara melantunkan lebih bernuansa secara lagu.

Kemunculan spontan dari anak-cucu atau jamaah, dan apalagi ada ketidakterdugaan nilai dan pelajaran di dalamnya, adalah ciri khas lain dari suasana Sinau Bareng yang lagi-lagi sudah dua tahun tidak kita alami. Ahmad Muzakki, nama remaja yang melantunkan shalawat Asghil itu memecah telur tadi malam. Membawa semua jamaah kembali kepada salah satu suasana khas Sinau Bareng. Malahan, tak hanya berpartisipasi dalam membawakan shalawat Asghil. Ketika Mbah Nun bertanya kepada anak-anak cucu mengapa pengayoman itu penting, dia ambil bagian.

Dengan cara menyampaikan yang polos, dia menerangkan teori pengayoman berdasarkan surat An-Naas seperti yang sudah diajarkan Mbah Nun dalam Sinau-Sinau Bareng sebelum pandemi. Dia hapal persis. Lama tak bersinau bareng seperti ini karena pandemi, tidak membuatnya lupa akan ilmu yang sudah disampaikan Mbah Nun. Dia kasih contoh bagaimana pengayoman, otoritas, dan kekuatan ditata dan bagaimana urutan munculnya masing-masing. Semua contoh itu disampaikan di depan Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati, Wakapolres Mojokerto Wisnu Setiawan Kuncoro, dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, seakan dia menyampaikan beginilah prinsip menjadi pemimpin. Mengayomi semua orang/warga adalah yang pertama dan utama. Kalau warga agak susah diatur, baru tunjukkan otoritas. Sedangkan kekuatan dipakai hanya kalau benar-benar darurat karena sesudah ditunjukkan otoritas masih ngeyel atau bila muncul ancaman bagi keutuhan masyarakat.

Muzakki ditanya Simbah, selain namanya juga dari mana dia berasal, serta orangtuanya bekerja apa. Dia jawab orangtuanya bekerja sebagai peternak ayam. Dia sendiri masih nyantri di Pondok Pesantren Nurul Qur’an Bendungrejo Mojokerto. Mbah Nun menggodanya dengan meminta dia mengecek isi kantongnya, dia punya uang berapa. Ternyata yang keluar adalah satu lembar uang dua ribuan. Geerrr jamaah melihat adegan krisis moneter ini. Mbah Nun lalu memberi hadiah uang kepadanya. Dia pun berterima kasih, dan memeluk erat Mbah Nun. Hadiah Mbah Nun juga memancing datangnya hadiah dari Bu Gubernur.

Pelajaran tentang kepemimpinan kemudian tak hanya berhenti di situ. Pesan dan simulasi kepemimpinan tersampaikan lebih jelas lagi ketika Mbah Nun meminta para vokalis membagi semua jamaah menjadi lima kelompok untuk nanti setiap kelompok diminta menyanyikan satu nomor lagu yang berbeda dengan kelompok lain tetapi masih dalam satu rel musikal yang sama. Proses setiap vokalis KK, Mas Jijid, Mas Doni, Mas Imam Fatawi, Mbak Nia, dan Mbak Yuli membentuk kelompok, berdialog dengan mereka sudah memunculkan pesan prinsip detai menyangkut bagaimana menjadi pemimpin. Ini dikarenakan para vokalis berposisi sebagai pemimpin bagi kelompoknya.

Di sini, dialog Mas Jijid dengan vokalis lain menyodorkan banyak pesan-pesan kepemimpinan. “Jadi, harus ditanya dulu apa aspirasi mereka, jangan langsung disuruh. Walaupun pemimpin mungkin punya keinginan tersendiri, tetapi kalau keinginan mayoritas rakyat berbeda dan itu baik, pemimpin harus mengutamakan keinginan mereka, dan harus ridla. Ada fakta walaupun tidak saya komando, mereka bernyanyi sangat lantang, hapal, dan kompak. Jadi pertanyaannya, lebih penting pemimpin atau rakyat?”. Mengalir kalimat-kalimat seperti itu dari Mas Jijid dan teman-teman. Suasana-suasana kesegaran dan kecerdasan interaktif Mas Jijid dkk ini juga sudah dua tahun lamanya tidak bisa dinikmati teman-teman dan semua jamaah Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Tadi malam kegembiraan ini bisa mereka rasakan kembali.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Bu Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jatim, pada segmen ini duduk agak mundur, karena memang di panggung full. Selain Bupati, Wakapolres, dan Gubernur, juga hadir rombongan deputi BKKBN yang secara khusus pada Sinau Bareng ini akan menyampaikan ihwal pentingnya mengenali Stunting. Bu Khofifah naik ke level panggung KiaiKanjeng, di antara dua saron, menyimak dan menikmati dialog-dialog di antara Mas Jijid dkk, dan dengan para jamaah. Beberapa kali beliau menggelengkan kepala tanda heran dan kagum atas kecerdasan muatan-muatan kepemimpinan dalam musical game oleh KiaiKanjeng ini.

Ketika pamit, Bu Khofifah diminta menyampaikan satu dua pesan kepada jamaah. Dengan merasakan langsung suasana Sinau Bareng, beliau mengatakan bahwa Mbah Nun memiliki kemampuan luar biasa, mampu merajut generasi milenial pada posisi beliau sendiri sebenarnya bukan generasi milenial, dan ini luar biasa. Bu Khofifah kemudian mengajak anak-cucu Mbah Nun untuk mendoakan agar Mbah Nun diberikan selalu kesehatan sehingga mampu terus menjadi penyangga umat. Bu Khofifah datang karena ingin sebagaimana anak-cucu jamaah Maiyah yaitu sama-sama belajar kepada Mbah Nun dalam Sinau Bareng ini. (bersambung).